Anak-anakku, Terbanglah Jauh Kemana Engkau Suka

22 07 2010

by Edi SUHARYADI

Fauzan Abdurrahim, anakku yang pertama, kami biasa memanggilnya Faiz. Ia lahir di penghujung tahun 2003 bersamaan dengan turunnya salju yang lembut bak kapas. Lahir saat keadaan “susah” lantaran sang Ayah tidak mendapatkan beasiswa saat baru masuk S3 (cuma bermodal semangat doang ^_^ & part time job di sana sini). Bahagia rasanya ketika ia pertama kali melafalkan kata “Abi”, untuk memanggilku. Ah, itu kejadian yang telah lalu, kini usianya sudah 6 tahun. Tahun ini memulai dunia barunya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Salman Al Farisi Djogjakarta

Hanifah Arraihanah, musim gugur 2005, Hani terlahir ke muka bumi. Kini usianya sdh 4 tahun. Meskipun perempuan, Hani (begitu kami memanggilnya) sepertinya lebih “pemberani” dan “galak” dibadingkan kakaknya, Faiz. Hmmm, mungkin “darah madura” begitu kuat mengalir di dalam tubuh Hani. Kini Hani “menghabiskan” hariannya di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Salman Al Farisi.

Taqi Abdurrahman, umurnya genap 2 tahun. Summer 2008, adalah kali pertama ia “menginjakkan kaki” di planet biru ini. Disambut oleh panasnya Jepang, yang kala itu mencapai 37 derajat. Setelah sebelumnya selama 40 pekan 1 hari, tinggal di “rumah” penuh Rahmah, Rahim namanya.

Saya ingin mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang Cerdas, Kuat dan Berkarakter tangguh, mengajarkannya agar pandai “berbagi dan berempati” sesamanya, menyiapkannya menjadi Generasi Qur’ani yang siap melanjutkan “estafet” Dakwah para orang tuanya.

Saat usia Faiz baru beranjak 2 tahun, tepatnya di tahun 2006 Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk menyelesaikan program Ph.D (S3), sebuah jenjang tertinggi dalam dunia akademik, dan saya peroleh di salah satu Universitas ternama di Jepang, Universitas yang pernah “melahirkan” beberapa penerima hadiah Nobel bidang Kimia & Fisika.

Bagaimana dengan jagaon2 kecil-ku, Faiz, Hani, dan Taqi, Apakah ia kelak akan memperoleh kesempatan yang sama untuk sekolah ke jenjang yang tinggi, Sarjana atau Master misalnya atau bahkan Ph.D?. Saya sebagai orang tuanya, tidak pernah mengkhawatirinya. Karena sesungguhnya ia akan tumbuh dengan potensinya sendiri, dan setiap anak pasti punya potensi yang baragam, tidak hanya terpaku pada kecerdasan scholastic apalagi hanya sekedar pandai Berhitung atau “skill akademik” lainnya. Tapi saya hanya khawatir atas perlakuan “kurang adil” orang-orang sekitar terhadapnya kelak. Kasihan ia, jika ia tidak berhasil sekolah “tinggi”, orang akan mengatakan, “Kok orang tuanya bisa berhasil sekolah tinggi, anaknya tidak?” Tetapi jika ia berhasil sekolah tinggi, orang-orang akan mengatakan, “Oo, tidak heran kalau anak itu bisa berhasil sekolah tinggi, siapa dulu orang tuanya”. Sebuah ungkapan yang sangat tidak bijaksana memang.

Tahun ini, saat kami mengantarkan Faiz & Hanifah untuk mendaftar sekolah di SD & TK, kami orang tuanya tidak mentargetkan bahwa mereka “HARUS” punya prestasi akademik yang sangat gemilang di SD lebih2 di TK. Harapan kami yang paling utama, bahwa melaui SD dan TK tempat anak2 kami sekolah, akan mampu membantu kami orang tuanya, untuk bisa tumbuh menjadi anak (generasi) yang berAhlaq Mulia & Islami, mempunyai Karakter Baik & kuat, Jujur, Mandiri, Bertanggung jawab, Berempati & pandai Berbagi pada sesama, Rendah Hati, Tekun & Pantang menyerah, ttdk egois, Baik dlm Team Work & Leadership (^_^), membantunya untuk menemukan, menggali & mengembangkan potensi dirinya.

Membandingkannya dengan prestasi akademik orang tuanya dulu?? Jangan pernah membandingkan anak dengan orang tuanya, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan prestasi akademik (kecerdasan scholastic), bahkan dengan teman-teman seangkatan, atau teman-teman sekelas-nya sekalipun. Apalagi sistem peringkat atau rangking bagi anak-anak di sekolah kuranglah bijaksana. Selisih nilai yang hanya nol koma sekian akan membuat si A berada di bawah si B. Peringkat di kelas tidak menandakan apa-apa. Seharusnya anak-anak tidak dibandingkan dengan siapapun, tidak dengan teman sekelasnya, tidak pula dengan Bapak-Ibunya. Akan lebih bijak jika anak dibandingkan dengan dirinya sendiri, karena sesungguhnya ia memiliki potensi, biarkanlah ia tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing.

Di era modern ini, tentu saja orang tua dituntut untuk menyiapkan anak agar siap berkompetisi. Teringat sabda Rosululloh: “Didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka akan tumbuh menjadi manusia untuk menghadapi zamannya dan bukan zamanmu”. Akan tetapi, anak-anak tidak bisa disama-ratakan, misalnya di dalam kelas, dengan mengevaluasi “kecerdasannya” dengan parameter yang sama yakni “kecerdasan scholastic”. Bukankan kita sudah sering membaca adanya “multiple intelligence”, yang sepertinya akan lebih manusiawi jika digunakan untuk “menilai prestasi anak”. Dengan menonjolkan salah satu kecerdasan/potensi mereka dan bukan merangkum seluruh kecerdasan dengan parameter seragam, kemudia dinilai. Bisa jadi ada anak yang menonjol potensi olah raganya, atau potensi seninya, good dalam team work, tidak semuanya harus pintar IPA atau Matematika. Dengan penerapan “multiple intelligence”, anak-anak akan tumbuh dengan nyaman sesuai dengan potensinya, tumbuh tanpa tekanan, anak diajak “berkelana” mengenali potensi mereka sendiri. Sang anak bisa jadi mempunyai kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal. Jangan pernah mengabaikan kecerdasan-kecerdasan internal seperti itu.

Itu mungkin hanya angan-angan saya saja. Kita mungkin akan merasa rendah, manakala anak kita tidak bisa mencapai peringkat 10 besar di kelasnya, atau nilai IPA & Matematikanya rendah, tidak bisa sekolah tingi, kita akan marasa rendah jika anak kita tidak berprestasi dalam arena perlombaan Olimpiade Sains. Dan kita mungkin biasa-biasa saja, mana kala anak tidak memiliki kecerdasan intra maupun inter-personal, tumbuh menjadi pribadi yang egois, manja, suka berbohong, tidak bisa bergaul, sombong, suka menipu, suka ngejekin temennya, lemah dalam team work, dan sebagainya.

Sudah waktunya untuk menerapkan “multiple intelligence” untuk mengevaluasi prestasi sang anak, hal ini akan lebih adil dan bijak. Jika anak-anak dihargai dan diberi nilai lebih, apapun bentuk potensinya, mereka akan tumbuh optimal dan percaya diri.

Untuk anak-anak-ku, terbanglah tinggi kemana engkau suka, bangunlah mimpi dalam diri kalian, engkau mungkin akan terbang laksana burung Camar yang pandai berkicau, atau sebagai Elang yang perkasa, atau laksana burung Gereja yang pandai bergaul, atau sebagai Bangau sang penjelajah.


Aksi

Information

One response

15 09 2010
Alkifah

Amiinn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: