Semua Berawal dari Ruhiyah

14 03 2007

Hari Ahad itu, aku terasa capek sekali, tiba di rumah hampir jam 11 malam, yaa…capek fisik yang luar biasa, setelah malam ahad-nya  ada acara MABIT (malam bina Iman & Taqwa), dilanjutkan ahad pagi ada undangan Walimatur ‘Urs ke luar kota dan kembali ke Nagoya untuk mengisi pengajian di masjid Nagoya di siang harinya, dan diakhiri dengan menghadiri undangan pernikahan kembali di malam harinya………saat capek datang, biasanya tak mudah untuk mengendalikan emosi. Ketika masuk rumah, aku berusaha “mempersiapkan” diri agar “emosional”-ku tak terlalu terpengaruh oleh “situsi” di dalam rumah….

                                                                                                                                       Saat masuk rumah, aku dapati semua “penghuni” rumah sudah “terlelap” terbawa mimpinya masing-masing. Istri-ku, jagoan kecil-ku, juga si cantik putri-ku, semuanya tertidur lelap, dan tidak mengetahui saat aku masuk rumah…

                                                                                                                             Setelah istirahat sebentar, tiba-tiba pikiranku “melayang”, mengingat kembali kejadian pada beberapa tahun silam, tepatnya di tahun 1999. Terasa sangat istimewa, lantaran di tahun tsb, adalah kali pertama “dakwah” ini menginjakkan kaki-nya di ranah baru yakni “Politik” dengan menjadi salah satu peserta pemilu multipartai. Mengingat kembali masa-masa kampanye, betapa semua al-akh bagitu “habis-habisan” berjuang tak kenal lelah siang dan malam. Sehingga bisa dipastikan bahwa “capek” yang luar biasa akan melanda mereka. Di saat itulah sering ada “taklimat” untuk senantiasa menjaga “kualitas ruhiyah” agar jangan sampai “kendor”. Justru di saat kelesuan melanda, “kualitas Ruhiyah” harus terus ditingkatkan. Ia ibarat “air penyegar” yang senantiasa akan “menyirami” kita di saat kita sedang mengalami “kelesuan” lantaran beragam agenda-agenda dakwah.

                                                                                                                              “Kekuatan Ruhiyah” tak hanya menawarkan “air penyegar” saat kita terasa sangat capek. Tapi ia juga “cahaya” yang akan senantisa menerangi “kehidupan” kita yang dengannya kita akan mampu memelihara “ketajaman” dan “kekuatan” emosional dan akal-pikiran kita. Setiap kita mungkin pernah merasakan akal-fikiran kita melamah, emosi juga melamah yang menyebabkan ketidak berdayaan untuk “mengendalikan” emosi. Muara dari semua itu adalah “kekuatan Ruhiyah/spritual” kita sedang berada pada titik yang lemah.

                                                                                                                           Pada situasi Ruhiyah tertentu, “kelesuan” akan membuat kita “lemah” dan mudah “marah”. Tapi pada situasi Ruhiyah yang lain, “kelesuan” tak berdampak apa-apa dalam diri kita. Juga, pada situasi Ruhiyah tertentu, bisa jadi “jepitan ekonomi” akan menjadi penyebab masalah/stress. Tapi, pada sitsuai Ruhiyah yang lain, ia tidak menjadi masalah.

                                                                                                                          Ruhiyah adalah instrumen yang kita gunakan untuk berhubungan dengan ALLOH. Ini adalah celah dimana kita bisa “menyerap” kekuatan “Rabbaniyah” yang datangnya dari ALLOH, dan kemudian mendistribusikan kekuatan tsb pada akal-fikiran dan emosional kita. Akal dan emosi selanjutnya memancarkan semua cahaya dan atau kegelapan yang ada pada Ruhiyah kita.

                                                                                                                         Akal berfungsi sebagai pusat penyimpan dan pengelolaan informasi. Sehingga kerja akal adalah memilih dan mengklarifikasikan. Emosi berfungsi sebagai pusat daya dorong, motiviasi dan keinginan. Dan fungsi Ruhiyah adalah “memutuskan”. Dan semuanya akan bersinergi melahirkan sikap, tindakan atau prilaku.

                                                                                                                          Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya setiap perbuatan baik (al-Haq) itu menciptakan cahaya dalam hati, sinar pada wajah, kekuatan pada fisik dan keluasan dalam rezeki. Dan sesungguhnya pula setiap perbuatan jahat (Bathil) itu menciptakan kegelapan dalam hati, rona hitam pada wajah, dan kelemahan pada fisik dan kesempitan pada rezeki.

                                                                                                                            Jika antum terasa “capek” yang luar biasa, yang menyebabkan antum lemah bahkan “loyo”. Atau antum merasa begitu banyak “masalah” yang antum sedang rasakan saat ini. Bermuhasabah-lah, kembalilah antum kepada ALLOH. Tingkatkan “kualitas Ruhiyah” antum dengan senantiasa memperbanyak “amalan-alaman” yang DIA sukai.


Aksi

Information

5 responses

14 03 2007
salafyindonesia

Salam kenal dari kami salafyindonesia.wordpress.com

15 03 2007
fauzan

test

5 04 2007
Wardah El Shafa

Dan teramat beruntung orang -orang yang terhimpun untuk menemui Kami dengan hati yang suci, dialah pemilik hati yang cerdas yang mampu berpikir untuk kehidupan setelahnya, kehiduopan akhirta, ruhiyah mantap akan mempercepat accelerasi dalam diri, semoga! ana pun bisa merasakan nya ..

16 05 2007
Rusdiboy

cocok banget dah, ma kita-kita… jzk

19 05 2007
Ikhsan al_makassary

salam kenal buat al akh salafy indonesia
syukran artikelnya..cuman kurang dilengkapin apa aja kegiatannya…(kerjaan ana juga tuh…he he he) biar teman-teman seritme akan artikelnya di kecapeannya…
keep istiqomah al mujahid harokah…
2009 awal jalan kita…..
Allahu akbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: