Sebuah Otokritik: TSIQAH atau TAQLID?

6 02 2007

Istilah Taqlid (kadang ditambah menjadi Taqlid buta) sering “ditempelkan” kepada orang-orang NU yang tinggal di Kampung, lantaran “ketaatan” mereka kepada sosok Kyai-nya, tanpa mau “mempersoalkan” sang Kyai tersebut benar atau salah.

Istilah Tsiqah atau Kepercayaan, salah satunya dapat dijumpai dalam salah satu rukun Bai’at Imam Syahid Hasan Al-Banna. Dijelaskan bahwa Tsiqah adalah: “rasa puasnya/relanya seorang jundi (prajurit/anggota Jamaah) terhadap Qiyadah (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan”.

Dalam praktiknya, Tsiqah menjadi salah satu parameter tingkat “kesolidan” sebuah Jamaah. Lebih spesifik lagi, dalam Gerakan Harokah, ke-Tsiqah-an “jundi” kepada Qiyadah menjadi faktor penting dalam perjalanan dakwah/gerakannya. Tapi, tak jarang dijumpai dalam “perjalanan” Dakwah, Tsiqah seakan “dipaksakan” melalui “jalur” Top-Down, guna “memuluskan” agenda-agenda Dakwah. Seorang al-akh atau seorang jundi bisa jadi akan dicap tidak Tsiqah atau bahkan dianggap tidak taat, ketika ia tidak langsung “rela/puas” dengan beragam “instruksi” dari atas. “Pokoknya tsiqah sajalah akhi…”, kalimat tersebuta kadang ikut “menghiasi” agenda-agenda dakwah.

Ah…., peristiwa di atas bisa jadi hanyalah “hiasan” yang kadang ikut menyertai aktivis Harokah. Bukan Manhaj yang “mengajarkan” seperti itu, tapi bisa jadi itu hanyalah sekedar “prilaku” yang muncul dari aktivis Harokah.

Bagaimana sebenarnya Manhaj Haroki “mengajarkan” rasa Tsiqah kepada setiap aktivisnya?.

Dalam 10 rukun bai’at Imam Syahid Hasan Al-Banna: Al-Fahmu, Al-Ikhlas, Al-Amal, Al-Jihad, At-Tadhiyyah (Pengorbanan), At-Tho’ah, Ats-Tsabat (Teguh), At-Tajarrud (Totalitas), Al-Ukhuwah dan Ats-Tsiqah.

Tsiqah ditempatkan dalam urutan ke-10 atau terakhir. Artinya, selain ia diposisikan sebagai “rukun” yang harus “disifati” oleh setiap ak-akh (kader Dakwah/aktivis Harokah), Tsiqah juga sebenarnya adalah sebuah “produk”. Ya, “produk” dari ke-9 rukun Ba’at di atasnya. Jika ke-9 rukun Bai’at diatasnya telah menjadi “karakter” dan “membumi” di setiap aktivis Harokah, maka secara “otomatis” Tsiqah akan “muncul” dalam diri al-akh (kader Dakwah)

Al-Fahmu ditempatkan sebagai rukun yang pertama, sedangkan Ats-Tsiqah merupakan rukun yang terakhir. Imam Syahid mengatakan, “Yang dimaksud dengan Al-Fahmu adalah hendaknya anda yakin bahwa fikrah kita adalah Fikrah islamiyah yang murni, dan anda memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas Ushul ‘Isyrin ((20 prinsip).

Manhaj ini telah “mengajarkan” kita bahwa Kefahaman harus mendahului yang lainnya. Dengan “kafamahan”, Fiqrah akan dengan mudah terbentuk, memunculkan “mainstream gerak dan langkah”. Kalau Ilmu harus mendahului Amal, maka dalam “dunia pergerakan” atau Dakwah, Fikroh “harus” mendahului Harokah. Imam Al Ghazali mengatakan, “Ilmu akan mendorong perilaku, perilaku akan mendorong amal”. Sehingga Imam Al Ghazali menempatkan “Al-Ilmu” dalam Bab pertama kitab “Ihya Ulumuddin”-nya. Faham merupakan tujuan Ilmu. Al Qur’an dan As Sunnah memerintahkan kita untuk “Tafaqquh Fiddien” (mendalami agama).

Sehingga sangat penting “Top-Urgent” bahwa setiap kader harus menumbuhkan Al-Fahmu sebelum menjadi At-Tho’ah apalagi Ats-Tsiqah. Ats-Tsiqah tanpa Al-Fahmu adalah taklid buta, ibarat ketaklidan “orang-orang kampung NU” terhadap Kyai-nya dan ketaklidan orang-orang Muhammadiyah.

Di lapangan, kadang kita saksikan berapa banyak “kader” yang berguguran dan bepergian? Salah satunya, lantaran ada “ketidak-puasan” sang Jundi kepada Qiyadah. Jauh dari prinsip Tsiqah yang diharapkan, yakni: “rasa puasnya/relanya seorang jundi (prajurit/anggota Jamaah) terhadap Qiyadah (pimpinannya)”.

Idealnya, Manhaj ini telah mengajarkan hendaknya “Memahamkan” Jundi adalah “proyek” pertama sebelum “meminta” sang Jundi agar Tsiqah. Sehingga, agenda Halaqoh atau Liqo’at sebagai tandzim terdepan dalam basis pengkaderan dan “pembentukan” kader  yang “Faham” semestinya dikelola lebih serius dan ditata lebih “rapi” ketimbang misalnya sosialisasi kebijakan, musyarokah atau sejenisnya. Tragisnya, ketika “Dakwah” ini mulai “bersentuhan” dengan Politik, agenda-agenda untuk menumbuhkan “Al-Fahmu” pada setiap kader (misalnya Liqo’at Tarbiyah) kadang sering “terganggu”.  Akibatnya, improvisasi “Al-Fahmu” pada setiap kader kurang berjalan.

(Wallahu’aklam Bissowab)


Aksi

Information

14 responses

6 02 2007
wahyu

Assalamu’alaikum, minta ijin untuk dimuat di MP saya…

16 03 2007
yusron

Tsiqah pada qiyadah ini sebetulnya sama saja dengan taqlid atau fanatisme buta. Kemasan atau istilahnya saja yg berbeda. Intinya sih sama saja.

20 03 2007
elzuhriah

Saya sepakat, seringnya qiyadah lebih menuntut tsiqoh, padahal hak jundi untuk d fahm kan lebih dulu sering terabaikan.

26 03 2007
syahida

assalamu’alaikum
salam kenal. bicara masalah tsiqoh, sebenarnya adalah sebuah hasil dari hubungan timbal balik dari kedua pihak, dalam hal ini jundi dan qiyadah. seorang jundi akan sulit menunjukkan ketsiqohannya ketika sang qiyadah juga tidak mampu meyakinkan sang jundi akan ketsiqohannya. tsiqoh bukanlah sebuah hasil akhir yang bisa dipaksakan, karena ketsiqohan akan muncul dengan sendirinya, ketika ia telah melalui fase yang harus dilewati dimana qiyadah juga harus memahami bahwa hal ini bukan sekedar proses alamiah tanpa sebuah kondisi yang bisa mewujudkan ketsiqohan jundinya yang pada akhirnya akan mampu menghasilkan proyek totalitas ketaatan

19 05 2007
Ikhsan al_makassary

waiyakum all dhu’at
betullah kata hasan al banna dalam bukunya…arqanul ba’iat….penemptan al tsiqoh diterakhiran babnya..dan alfahmu di awalannya…dan realitas yang kemudian terjadi hari ini ialah…seorang kader dakwah yang belum benar memahami “untuk siapa ia berjuang”….apakah kepada jamaah??apakah kepada harakah???apakah kepada……????????
ke tsiqohan akan muncul tatkala ada timbal balik dari seorang qiyadah terhadap jundinya dan sebaliknya…al fahmu yang tercipta harus ada pada qiyadah sehingga penyakit-penyakit usrah itu akan terbuang jauh…sehingga disetiap agenda ada kejelasan atas ketsiqohan seorang jundi (bukan taqlid buta) tapi juga bukan perlawanan buta tanpa keilmiahan sebuah wacana ……….
selamat berjuang para aktifis harakoh….1 kali lagi “untuk siapoa kita berjuang”
ingatlah itu disetiap aktifitasmu
wassalam

19 05 2007
Ikhsan al_makassary

waiyakum all dhu’at
betullah kata hasan al banna dalam bukunya…arqanul ba’iat….penemptan al tsiqoh diterakhiran babnya..dan alfahmu di awalannya…dan realitas yang kemudian terjadi hari ini ialah…seorang kader dakwah yang belum benar memahami “untuk siapa ia berjuang”….apakah kepada jamaah??apakah kepada harakah???apakah kepada……????????
ke tsiqohan akan muncul tatkala ada timbal balik dari seorang qiyadah terhadap jundinya dan sebaliknya…al fahmu yang tercipta harus ada pada qiyadah sehingga penyakit-penyakit usrah itu akan terbuang jauh…sehingga disetiap agenda ada kejelasan atas ketsiqohan seorang jundi (bukan taqlid buta) tapi juga bukan perlawanan buta tanpa keilmiahan sebuah wacana ……….
selamat berjuang para aktifis harakoh….1 kali lagi “untuk siapa kita berjuang”
ingatlah itu disetiap aktifitasmu wahai para dhu’at
wassalam

4 09 2007
jundi_al muthi'

akhirnya semuanya bernyanyi….di tempat yg tidak semestinya…..

12 07 2011
abu shofi

maksudnya?

12 09 2007
pra

Assalamualikum

Mohon maaf, saya ada pertanyaan, kenapa gerakan tarbiyah sangat mengedepankan pemikiran Hasan Al Banna?heran saya, kita kan ummat muslim, harus mengedepankan Al-Quran & Hadist. Justru pemikiran2 tokoh2 tarbiyah, pengkader-pengkadernya justru telah membuat saya yg banyak dosa dan ingin mendekatkan diri kepada Allah jadi kehilangan arah, nggak tahu mana yang benar-benar lurus dan ikhlas. Awalnya saya dulu simpati dengan gerakan dakwah ini, tetapi setelah mendapat informasi jadi malah makin jauh dari simpati. Apalagi dengan istilah-istilah khas yang sering digunakan dari gerakan dakwah ini seperti : al-akh, tsiqoh, antum, ana, akhi, ukhti dan istilah-istilah lain yang terkesan eksklusif, ikhwan, akhwat. Seharusnya nggak begini kan, harusnya muslimin dan muslimat, dan kenapa jika dalam pembicaraan sehari-hari tidak menggunakan bahasa indonesia atau bahasa setempat, seolah-olah yang sudah ikut halaqah harus berbicara dengan gaya seperti itu. Jadi aneh saja. Jika shalat atau berdoa dalam bahasa arab itu memang wajib, tapi kalau pembicaraan sehari-hari rasanya aneh sekali, apakah hal tsb juga wajib?

Terus ada juga kegiatan-kegiatan yang seakan-akan diwajibkan, seperti harus ikut mukhayyam, harus ikut mabit, harus ikut ini itu. Hal inilah yang saya kurang sreg. Harusnya kegiatan tsb ditawarkan, yang mau ikut ya ikut, yang nggak ikut ya sudah.

Terus, saya juga ikut ngaji belajar bahasa arab. Herannya ada peraturan dalam ngaji tsb bahwa jika satu kali nggak datang tanpa alasan yg jelas, guru ngaji berhak menegur, jika 3 kali tidak datang berhak untuk menolak muridnya tidak belajar lagi. Astaghfirullah, lalu dimana sisi dakwahnya jika begitu. Yang namanya manusia kan imannya bisa melemah atau meningkat. Jika saat dia malas apakah begitu penyikapan seorang guru thd muridnya?Seakan-akan belajar Al-Quran adalah belajar militer.

Dulu, saya berpikirnya begini, dengan ikut halaqah dapat menjadi tempat untuk bertanya banyak hal sesuai pandangan dan syariat islam….tetapi dengan metode spt itu, saya kok jadi kurang sreg.

Sekarang gerakan tarbiyah ini begitu pesat berkembang masuk ke sekolah2, kantor2. Jika metodenya masih seperti ini terus yang mirip2 Ikhwanul Muslimin dengan Hasan Al Banna -nya, terus bagaimana nasib muslim2 seperti saya ini yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Saya seakan-akan kebingungan dengan kondisi saya saat ini. Semoga Allah tidak sedang menyesatkan saya karena dosa-dosa saya dahulu yang teramat banyak. Wallahu ‘alam bisshowab.

12 07 2011
abu shofi

sabar wahai saudaraku..teruslah menuntu ilmu..jgn hiraukan perkataan orang lain..

3 07 2008
Dwi Setiyadi

@ pra

Wa’alaikum salam

Penggunaan istilah2 dalam Bhs. Arab dalam lingkungan org2 tarbiyah hanyalah kebiasaan saja, dikarenakan banyak sekali generasi awal gerakan ini yang belajar langsung tentang Islam ke sumbernya yaitu kitab2 berbahasa Arab. Tidak ada sama sekali kewajiban kita menggunakan kalimat itu, kalau mau menggunakan bahasa daerah kepada yang lain ya silahkan saja, selama tidak melanggar norma & etika. Lagi pula kalau diterjemahkan istilah2 itu bermakna sangat baik kok, misalnya sapaan al-akh yang berarti wahai saudaraku, bukankah seluruh umat Islam bersaudara? Lalu kenapa tidak boleh kita menyapa saudara sesama muslim sebagai saudara kita.

Kemudian mengenai Hasan Al-Banna, apakah di halaqoh yang Mas Pra pernah mengajarkan bahwa Hasan Al-Banna adalah rasul? Kalau jawabannya tidak, lalu kenapa Mas Pra berkata seolah-olah Tarbiyah itu sesat, coba perhatikan kalimat Mas Pra “… terus bagaimana nasib muslim2 seperti saya ini yang ingin mendekatkan diri kepada Allah..”. Mungkin sedikit saja saya tambahkan kenapa Ustad2 Tarbiyah selalu menyinggung tentang Hasan Al-Banna, karena beliau adalah satu-satunya penghapal quran (yang masih sangat muda) yang menentang arus budaya barat yang melunturkan nilai2 ke-Islaman di Mesir ketika itu. Lalu Hasan Al-Banna menetapkan sebuah metode pendidikan yang dapat membentuk kepribadian Islam pada masyarakat, yang kemudian dikenal dengan gerakan tarbiyah. Dan usaha Hasan Al-Banna tersebut membuahkan hasil cukup yang gemilang dengan banyaknya penghapal Quran yang telah Ia bina. Sehingga wajar menurut saya jika Ustad2 lainnya dimasa sekarang yang mengagumi Hasan Al-Banna. Kagum bukan berarti menganggap ia dapat menggantikan Allah dan Rasul-Nya bukan? Sama saja dengan seorang teman saya yang mengagumi Zaskia Adya Mecca dengan alasan cantik, nah sedangkan Ustad2 Tarbiyah mengagumi Hasan Al-Banna dengan alasan sholeh, Penghapal Quran di usia muda, cerdas, dan lain2.

Jikalau metode Tarbiyah menjauhkan Anda dari Allah, lalu kenapa Tarbiyah menugaskan kita para siswanya untuk menghapalkan Al-Quran setelah kewajiban lainnya ditunaikan? Mengapa juga kader2nya di tugaskan untuk menghapal minimal 40 hadist? Apakah dengan mengerti dan hapal Al-Quran dan Hadist dapat menjauhkan kita dari Allah? Sementara seperti yang Mas Pra katakan Al-Quran dan Hadist adalah sumber Islam. Kemudian kegiatan2 seperti mabit, mukhoyam, dll, kegiatan2 tersebut kan isinya kuliah agama dan ibadah kepada Allah yang tujuannya agar kita dekat dengan Sang Khalik, lalu kenapa dijadikan alasan sebagai kegiatan yg kelihatannya percuma?

Saya ikut Tarbiyah sudah 8 tahun lebih Mas Pra, dan sudah berganti guru ngaji sebanyak 6 kali, tapi tidak pernah saya diusir tidak boleh ikut ngaji lantaran 3 kali ga masuk. Yang sering terjadi saya malah selalu ditelepon kenapa ga hadir. Di Tarbiyah memang ada sistem muaqobah (pengawasan) atas beberapa tugas yang diberikan (seperti membaca Quran dan menghapalkannya), yang jika tugas tersebut dilalaikan akan ada iqob (hukuman) agar kita serius mendalami agama, hukumannya pun mendidik, seperti tugas hapalannya ditambah.

Coba Mas Pra perhatikan kembali, apakah mabit, mukhoyam, dll yang ada di tarbiyah menjauhkan Mas Pra dari Tarbiyah? Ataukah kegiatan2 lain seperti dugem, menonton tv berlebihan, dll yang membuat kita bisa lebih dekat kepada Allah? Saya sebagai manusia yang masih berpikir jernih tidak sepakat dengan itu.

10 12 2008
budiman

Taklid yang paling berbahaya adalah “taklid kepada pimpinan partai atau murobi”!
Walaupun sebuah partai di embel-embeli dgn partai dakwah, bukan berarti kebijakan pimpinan partai dianggap sesuatu yg pasti benar…!

2 08 2010
ustadzklimat

Tolong anda jangan bersikap apriori terhadap orang Nahdiyin. Orang Nahdiyin itu mereka adabnya tinggi terhadap guru-guru agama dan tak bisa digeneralisir bahwa NU yang di kampung itu taklid buta. Orang-orang Nahdiyin di kampung adalah orang-orang yang belajar agama Islam dari dasar melalui pesantren dan kitab kuning. Mereka mempelajari dulu ilmu alat untuk berdakwah sebelum turun ke kancah dakwah sebenarnya. Tidak akan berani ‘tampil’ sebelum guru di pesantren mengizinkan. Pertama yang diajarkan adalah masalah tauhid, melalui metode sifat 20. Kemudian diimbangi dengan fiqh untuk aplikasi amal ibadahnya dilengkapi dengan ilmu tasawuf untuk menjaga hati dari sifat-sifat yang kurang baik. Tanpa ada dasar agama yang kuat seperti itu ia akan terjebak. Ketika mendapati dirinya punya kelebihan akan merasa dirinya yang lebih baik melupakan Allah ta’ala yang telah memberinya kelebihan. Alangkah baiknya sekali-kali anda coba datang ke majelis ta’lim orang Nahdiyin bukan cuma di liqo anda saja agar wawasan anda terbuka. terima kasih. Afwan klo ada yang salah.

12 01 2011
Taufiq

Simpelnya,
Taqlid : mengikuti perintah tanpa pemahaman dan pengetahuan yg menyeluruh mengenai perintah tsb,
sedangkan Tsiqah : mengikuti perintah dgn pemahaman yg menyeluruh/tidak sepotong2, maka selama seseorang belum paham, selama itu pula ia tidak akan pernah Tsiqah kpd pemimpinnya, wallahu’alam… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: