Catatan: Sebuah Kenangan di Spring 2002

22 01 2007

Hmmm, mengenangnya dapat menumbuhkan semangat…

Catatan ini bercerita tentang seorang kenshusei, seorang “pemuda Islam”, yang harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan medan yang tak mudah untuk sekedar bersilaturahmi mengunjungi saudaranya yang lain untuk saling bertausyiah. Kesaamaan Aqidah telah cukup untuk memberikan “energi”, guna menempuh perjalanan yang sangat jauh. 

Tempat tinggalnya yang sangat jauh, yakni di kaki gunung Fuji, tak membuatnya “patah semangat” untuk “mengunjungi” saudara-saudaranya di Tokyo, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Dan hal itu berlangsung paling tidak 2 kali dalam sebulan.

Kami yang dari Tokyo “terinpirasi” oleh semangatnya, sehingga membuat kami “berniat” ingin mengunjuginya. Jika dia mampu datang ke Tokyo sebulan dua kali, kenapa kami tidak, meskipun itu hanya sekali.

Kejadiannya telah lama berlalu, kurang lebih 5 tahun yang lalu, tepatnya pada Spring 2002. Saya yang waktu itu masih menjadi “warga” Tokyo melakukan “ekspedisi” jarak-jauh “mengunjungi” saudara se-Aqidah yang tinggal di kaki gunung Fuji tepatnya di dekat danau Kawaguchi, Yamanashi-ken. Dia adalah seorang Kenshusei, tapi keberadaannya bagitu sangat “berarti” bagi perjalanan dakwah di Tokyo. Sehingga, sangat perlu bagi kami yang tinggal di Tokyo untuk bersilaturahmi mengunjunginya.  

Pada bulan April di Sabtu terakhir, tepatnya tanggal 27 tahun 2002. Malam Ahad, saya beserta beberapa ikhwah dari Tokyo memulai perjalan menuju Kawaguchi Yamanashi-ken, dengan berkumpul di masjid Ikebukuro dan melaksanakan sholat Isya’ berjamaah. Hanya satu tujuan malam itu, yakni untuk silaturrahmi dan mengunjugi saudara-saudara Se-IMAN untuk saling memberi Tausyiah. Juga sebegai salah satu bentuk “komitmen” dari ikhwah di Tokyo untuk “ikut” meramaikan pengajian di Yamanashi-ken.

Malam Ahad jam jam di keitai menunjukkan jam 8 lewat, kami ber-5, pak Arif, mas Arief, mas Yoppi (Dr. Yopi) dan mas Tono berangkat dari Tokyo. Dibawah suasana angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, kereta cepat “CHUO RAPID” membawa kami ber-5. Sekitar 45 menit kemudian, sekitar jam setengah 10 kami transit di TAKOU station untuk pindah keteta jurusan luar Tokyo. Perjalanan kami lanjutkan dengan kereta “CHUO LOCAL”, kali ini kereta yang kami naiki lebih bagus tapi harus berhenti disetiap station karena “local”. Satu jam kemudian, tepatnya jam 22:30 kami tiba di OTSUKI Station. Dan kami harus transit ke kereta jurusan “Gunung Fuji”, lokasi pengajian berada tepat di kaki gunung Fuji sebelah barat. Ketika kami pindah kereta, terasa sekali udara di luar sangat dingin, maklumlah Otsuki station sudah tidak begitu jauh dari gunung Fuji, sehingga hembusan angin gunung yang sangat dingin apalagi malam hari begitu terasa. Alhamdulillah, di Otsuki station ini, kami sudah ada yang nunggu (jemput), mas Bambang namanya, untuk memandu kami menuju ke lokasi pengajian. Di Otsuki station kami pindah kereta, nah kali ini keretnya lebih bagus. “Wah boleh juga nich berpose di depan kereta dulu” (lihat foto).  

Perjalanan kami lanjutkan, dan Alhamdulillah tepat jam 23:15 kami tiba di ONSEN MAE station, station terdekat dari tempat pengajian. Dengan dipandu oleh mas Bambang, kami melanjutkan perjalan dengan jalan kaki menuji lokasi pengajian. MasyaaALLOH, jalannya lumayan jauh dan harus menelusuri pinggiran kali dan persawahan, samar-samar terlihat hamparan Bukit yang indah mengelilingi tampat kami berjalan, menambah suasana malam terasa semakin dingin. Selama jalan kaki, dalam benak kami terbersit, kok ada orang Indonesia yang mau tinggal di sini, jauh, dingin, akses kemana-mana susah.  Dan perasaan tsb menambah rasa “cinta” kami kepada mas Herman, sang tuan rumah. Dengan akses yang susah dan jarak tempuh yang sangat jauh, mas Herman hampir tak pernah absen di acara MABIT (Malam Bina Taqwa) yang dilaksanakan di Tokyo setiap bulannya. Sementara kami yang dari Tokyo, baru sekali mengunjungi rumahnya.

Tak terasa, sambil diseligi obrolan-obrolan kecil, kami tiba di rumah Herman “tuan rumah pengajian” sekitar jam 24:00. Setelah kami istirahat sebentar, minum, menikmati bekal yang kami bawa dari Tokyo, kebetulan yang masak adalah istrinya Mas Yopi, sholat, seperti biasa pijet-pijetan sebentar dan kami pun terlelap bersama hembusan angin malam.  

Subuh bangun, dilanjutkan kultum sebentar, dan kamipun keluar rumah sebentar. SUBAHANALLOH, ternyata pemadangan sangat bagus, nampak jelas gunung Fuji dikeleliligi bukit-bukit kecil disekitarnya, hamparan sawah dan hutan cemara yang sangat indah, telah melupakan kami akan hiruk-pikuk kota Tokyo. Jam 7:00 kami putuskan untuk istirahat sebentar dan pengajian dimulai jam 10:00 dan diakhiri dengan sholat jamak qosor dhuhur dan asyar jam 13:00. Kemudian makan siang, tepat jam 14:00 acara selesai, karena masih ada waktu, kami putuskan untuk rihlah sebentar. Sebelum meninggalkan lokasi, kami sempat berpose dulu bersama “OBACAHAN”, nenek yang punya rumah (lihat foto).  

Dengan dipandu Herman, kami Rihlah ke Danau Kawaguchi-ko dikaki gunung Fuji. Tapi sayang, kabut tebal telah menutupi keindahan gunung Fuji. Setelah jebrat sana jebret sini (FOTO terlampir sebagian), jam 16:30 kami kembali ke Tokyo. Alhamdulillahirobbil ‘alamin. 

Foto selengkapnya bisa kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1190867.html


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: