Kadang Kita Siput

26 12 2006

Afwan akhi, ane telat datang nich,
Akh, Sabtu-Ahad depan ada undangan daurah,
Acara liqo’-nya dimajukan besok lusa akh,

Hmmm, tiga contoh ungkapan di atas kadang datang menghiasi telinga kita. Datang telat saat acara liqo’, pemberitahuan acara yang serba mendadak, atau sejenisnya. Sungguh disayangkan ketika semua peristiwa di atas ikut “menghiasi” agenda yang begitu pentingnya, yakni dakwah, apalagi  muncul dari pelaku yang menyandang sebutan “kader dakwah”.

Mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran kita, saat kita telat datang dalam menghadiri sebuah agenda yang telah disepakati bersama itu berarti kita telah “menyiayiakan” waktu al-akh yang lain yang datangnya lebih awal. Keterlambatan kita datang akan berdampak pada “molor”-nya acara dan tentunya akan berdampak pula pada agenda-agenda pasca “acara” yang mungkin telah disusun rapi oleh seorang al-akh. Atau saat kita memberitahukan sebuah agenda secara mendadak (misalnya hanya beberapa hari sebelum hari H), bisa jadi hal itu akan berdampak pada peng-cancle-an agenda-agenda lain yang telah disusun seorang al-akh jauh hari sebelumnya.

Ada sebuah “sifat” yang harus melekat diantara al-akh, yakni sikap senantiasa mau mema’afkan, tsiqah dan ketaataan. Di segala “lini dakwah”  dan kondisi, tiga sifat tersebut haruslah senantiasa dimiliki. Tapi  jangan sampai “tiga sifat” tersebut seolah-olah “dibenturkan” dengan beberapa “peristiwa” atau “ungkapan” seperti di atas. Artinya, biarlah “tiga sifat” tersebut tumbuh di setiap al-akh dengan alamiyah dan proses “penempaan” yang baik. Misalnya, janganlah “peristiwa” keterlabatan seorang al-akh datang ke sebuah acara dijadikan sebuah “latihan” guna menumbuhkan “rasa maklum dan memaafkan”. Atau, janganlah “pemberitahuan/undangan mendadak” dijadikan sebuah “latihan” guna menumbuhkan “ketaatan”.

Terakhir, mari kita renungi lagi 10 muwassafat yang harus dimiliki oleh setiap al-akh. Jika kesepuluh muwassafat tsb bisa “melekat” di setiap al-akh, InsyaaALLOH akan terlahir kader dakwah yang “tangguh” dan “profesional” yang akan mampu mengemban amanah dakwah di era modern ini. Salah satu dari 10 muwassafat yang terkait dengan tulisan ini yakni, Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) yang merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
 
Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
 
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.


Aksi

Information

One response

9 02 2007
aulia

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
fenomena seperti itu sekarang ini seperti menjadi tren buruk yang melanda aktivis atau kader dakwah.sangat miris dimana semua serba krisis, ekonomi pemimpin soleh dll tidak seharusnya diikuti dengan krisis iman. naudzubillah..semoga ini menjadi cambuk buat kita semua.tingkatkan aktivitas ruhiyah merupakan parameter keberhasilan aktivitas diluarnya.Af1 jidan
wassalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: