Profil Da’i Abad 21

17 11 2006

Tulisan ini secara khusus dipersembahkan kepada mereka yang telah mengazamkan hidupnya untuk dakwah.

Arus dakwah seakan semakin tak terbendung. Ia mengalir laksana aliran air yang memenuhi setiap “lorong” kehidupan, tak terkecuali “lorong” yang bernama Politik. Mengaliri lorong yang yang satu ini, seakan banyak memberi pengharapan terhadap apa yang namanya “perubahan”.

Setelah cukup lama “berjuang” dalam Mihwar-Tandzimi, terutama di era awal perkembangan dakwah, dakwah kini telah merambah ke Mihwar-Muassasi bahkan Mihwar Dauli. Salah satu ciri khas Mihwar ini, adalah mulai bersentuhannya dakwah dengan ruang dan urusan publik yang multidimensional. Ketika dakwah-Politik disamping diterjamahkan sebagai sebagai usaha demi tegaknya hukum Allah, ia juga bermakna”seni” melayani ummat (dibaca publik), maka ada banyak “kebutuhan-keinginan” publik yang harus diakomodasi.

Keharusan melakukan “ekspansi” dakwah, telah mengantarkan para kadernya kepada sebuah “era buka-bukaan” di ruang publik. Mihwar ini juga menuntut para kadernya tidak hanya piawai dalam menyampaikan materi-materi halaqah, tapi ia juga seorang “politisi” yang tangguh dan berahlaq. Ada banyak “kebutuhan” publik yang harus dipenuhi. Sehingga setiap kader tidak hanya berkualitas dari sisi “normatif-teoritis”, tapi ia juga berkualitas dari sisi “praktis-aplikatif”. Mihwar Muassasi-Dauli membutuhkan jundi-jundi dengan karakteristik (profil) yang tidak sama jika dibandingkan dengan saat dakwah ini berada pada Mihwar Tandzimi.

Secara mendasar, karakteritik itu bisa didapat dalam 10 Muwashafat, yakni: Salimul aqidah (Akidah yang bersih),  Shahihul ibadah (Ibadah yang benar), Matinul khuluq (akhlak yang kokoh), Qowiyyul jismi (jasmani yang kuat) Mutsaqqoful fikri (berwawasan pemikirannya), Mujahadatul linafsihi (Kuat kesungguhan jiwanya), Harishun ala waqtihi (cermat mengatur waktu), Munzhzhamun fi syuunihi (Teratur dalam suatu urusan), Qodirun alal kasbi (mandiri perekonomiannya) dan Nafi’un lighoirihi (bermanfaat bagi yang lain).

Kesepulah aspek dasar “kualitas” kader dakwah tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya pembinaan yang rutin dan istiqomah di berbagai sarana tarbiyah yang telah digariskan oleh “manhaj tarbiyah”. Beberapa diantarnya adalah Halaqah Tarbawi sebagai “agenda terdepan” guna pembentukan akidah, fiqrah, ibadah, ahlaq dan kemahiran dalam ber-amal jama’i. Selain itu ada Mabit, Daurah, Rihlah, Mukhayyam, dll, yang semuanya harus menjadi agenda tersendiri bagi setiap kader.

Untuk bisa survive di era ini, beberapa ‘Amal (kerja) sebagai “terjemahan” dari 10 muwashafat harus menjadi bagian “kerja” yang tak boleh ditinggalkan oleh setiap kader dakwah, beberapa diantarnya adalah ‘Amal Da’awi (kerja dakwah) yang menjadi agenda utama, ‘Amal ‘Ilmi (kerja akademik), ‘Amal Mihani (kerja profesi), ‘Amal Iqtishadi (kerja ekonomi), ‘Amal Siyasi (kerja politik), ‘Amal I’lami (kerja media dan informasi), ‘Amal Ijtima’i (kerja kemasyarakatan). Inilah jalan untuk mengantarkan kader dakwah menjadi da’i yang normatif-teoritis, sekaligus praktis-aplikatif.

Beberapa tahun ke depan, dakwah ini akan banyak berhadapan dengan beragam peluang, juga tantangan. Peluang itu adalah semakin terbukanya “kran” dakwah sehingga ia mampu mengalir ke bermacam bidang kehidupan,  lembaga pemerintahan, swasta dan ruang publik lainnya. Ekspansi dakwah ini semakin menuntuk tersedianya kader-kader dakwah yang tangguh dan mandiri. Kemampuan kader-kader dakwah melakukan ekspansi dakwah, penyebaran fiqrah, dan memperluas pengaruh pada “ruang publik” akan menentukan keberhasilan dakwah. Profesionalisme kader dakwah, itulah salah satu jawaban guna memenuhi kebutuhan di era Muassasi-Dauli.

Tidak terlalu berlebihan kiranya, jika para Qiyadah dakwah merumuskan karakteristik yang harus melekat pada setiap kader dakwah yang profesional, diantaranya adalah: (1) Kokoh dan Mandiri, (2) Dinamis, Kreatif dan Inovatif, (3) Spesialis yang berwawasan Global, (4) Produktif, (5) Mahir berAmal Jama’i, (6) Pelopor Perubahan, dan (7) Kepemimpinan Masyarakat. Tiga karakter pertama merefleksikan kapasitas Internal. Selanjutnya diperkuat dengan dua karakter berikutnya yang merefleksikan Kapasitas Sosialnya, dan akhirnya, dua kapasitas tersebut disempurnakan dengan dua karakter berikutnya yaitu sebagai pelopor perubahan (agent of change) yang mempunyai jiwa kepemimpinan.

Akhirnya sebagai penutup, setiap kader harus “sholeh” secara pribadi dan “sholeh” secara sosial. Selanjutnya kedua kesholehan tersebut diintegrasi dan disinergikan untuk tampil sebagai “aktor politik” guna membawa perubahan ke arah yang lebih baik.


Aksi

Information

4 responses

6 12 2006
Menghancurkan Segala Bentuk Pemisah Antara Da'i & Umat

assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh

Afwan, mungkin ana mau sedikit menambahkan secarik tulisan yang mengajak agar Para Da’i haruslah meleburkan dakwahnya dan kehidupannya kepada masyarakat umum, dan menghilangkan jurang pembatasnya. Artikel ini rangkuman dari sebuah situs (www.mediamuslim.info)

Sesungguhnya banyak dari saudara-saudara kita para du’at, apabila melihat suatu kaum melakukan kemungkaran maka ghirah dan rasa bencinya kepada kemungkaran tersebut membuatnya menjauh dan tidak menasehati mereka, dan ini adalah suatu kesalahan! Bahkan ini jelas bukan termasuk sikap hikmah sedikitpun. Bahkan (yang sesuai dengan) hikmah adalah bila anda pergi mendakwahi dan menyampaikan, memberikan targhib (motivasi beramal sholih) dan tarhib (peringatan terhadap maksiat). Dan anda jangan mengatakan bahwa (karena) mereka adalah orang-orang fasik maka saya tidak mungkin duduk bersama mereka!!

Bila antum –wahai sang dai- tidak bersedia duduk bersama mereka, tidak mau berjalan bersama mereka dan tidak mendakwahi mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, maka siapakah yang akan mengurusi mereka?!

Apakah yang (harus) mengurusi mereka adalah orang yang seperti mereka?!
Ataukah yang (harus) mengurusi mereka adalah kaum yang sama sekali tidak mengetahui atau tak berilmu?!

Sesungguhnya sudah sepantasnya seorang dai itu menyabarkan dirinya dan memaksanya serta menghancurkan semua dinding pembatas antara dirinya dengan masyarakat, agar ia dapat menyampaikan dakwahnya kepada orang yang membutuhkannya. Adapun jika ia menyendiri dan bersikap angkuh lalu berkata: “Jika ada seseorang yang datang kepadaku maka aku akan menyampaikan dakwah ini kepadanya, namun jika tidak ada yang dating kepadaku maka saya tidaklah memiliki kewajiban!” Maka hal ini jelas menyelisihi apa yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah.

Dan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam –sebagaimana diketahui oleh siapapun yang membaca sejarah- dahulu selalu pergi pada hari-hari Mina (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) mendatangi kaum musyrikin ke tempat-tempat mereka untuk mendakwahi mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dari beliau bahwa beliau berkata: “Apakah ada seseorang yang mau membawaku kepada kaumnya untuk aku sampaikan (kepada mereka) perkataan Tuhanku, sebab sesungguhnya kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan perkataan Tuhanku” (HR. At-Tirmidzi no. 2925 dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an dan beliau berkata: Hadist ini gharib shahih. Dan Abu Daud no. 4734 dalam Kitab As-Sunnah, dan Ibnu Majah no. 201 dalam Muqaddimah (Kitab Sunannya –pen) serta Ad-Darimi no. 3354 dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an dan Ahmad dalam Musnad-nya (3/390) dari Hadist Jabir bin Abdullah.

Jadi demikianlah jalan Nabi dan Imam serta tauladan kita Rasulullah, maka sudah kewajiban kita agar mengikuti jalan yang sama dalam berdakwah kepada Alloh Ta’ala.

14 02 2007
Hj. INUNG

ALHAMDULIILAH PAK YAI

22 01 2011
IRCHAM

Assalamu’alaikum r.Wb
Da’i Punya pngaruh besar terhadap Kwalitas Iman dan Kepribadian Ummat Islam, Oleh karena itu harapan Kami, Sampaikan yang khaq adalah Khaq dan yang Batil adalah Batil, Janan memperkosa ayat atau Hadis hanya untuk kpentingan Pribadi atau Golonan .
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

31 07 2012
adinambi

da’i-da’i diakhir zaman ini banyak yang menutup diri atau membatasi pergaulannya dengan masyarakat sekitarnya, paling-paling kalau keluar rumah hanya untuk sholat berjama’ah atau ada panggilan ceramah, itupun karna ada honornya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: