Internasional Ramadhan di Masjid Nagoya

1 11 2006

Internasional Ramadhan di Masjid Nagoya

Sumber: KORAN TEMPO, Jum’at, 20 Oktober 2006

Berbuka puasa bersama di lantai empat Masjid Nagoya membuat Wawan Wahyudi girang sekaligus merindukan suasana Ramadan di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. “Dua kali bulan puasa saya jalani di Jepang,” ujar lajang berusia 26 tahun ini pada Ahad lalu.

Wawan seorang pekerja magang (kenshusei) di sebuah perusahaan pembuat suku cadang mobil di Nagoya, ibu kota Prefektur Aichi, Jepang. Masjid Nagoya terletak di kawasan Honjin, Distrik Nakamura.

Sebelum berbuka, Wawan dan 28 kenshusei lainnya, yang berhimpun dalam Ukhuwah Muslim Indonesia Nagoya, khusyuk menyimak pengajian yang dipandu Doktor Edi Suharyadi, dosen fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang sedang menempuh jenjang pascadoktoral di Universitas Nagoya, dan juga aktivis Keluarga Muslim Indonesia Nagoya.

Sehabis pengajian, mereka lalu bergabung dengan sekitar 40 pria muslim
berkebangsaan Uganda, Pakistan, Bangladesh, Turki, Senegal, Sri Lanka, Filipina, Malaysia, dan Jepang. Mereka buka puasa dengan air mineral, kurma, pisang, jeruk, dan kaki (kesemek Jepang).

Kegiatan selanjutnya adalah salat magrib yang diimami orang Uganda, makan malam dengan menu Turki, dan dakwah 30 menit dalam bahasa Inggris oleh seorang ustad dari Pakistan. Azan dikumandangkan seorang pemuda muslim Jepang.

Menurut Anto Satriyo Nugroho, peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi Indonesia, komunitas muslim di Nagoya, khususnya warga negara
Indonesia, semula berpindah-pindah tempat untuk bisa beribadah karena belum ada masjid.

“Kami pernah menyewa apato (apartemen) di belakang kampus untuk salat Jumat dan lain-lain,” kata pria Solo yang menjadi visiting professor di Universitas Chukyo, Jepang, itu.

Masjid di Nagoya baru ada pada 1998. “Tapi, untuk salat Idul Fitri biasanya
dilakukan di kawasan Kanayama dan Nagoya-Port,” ujar Anto, yang sudah bermukim di sana selama 15 tahun lebih.

Anto, Edi, dan Wawan bertekad memakmurkan masjid yang terletak di kawasan Honjin, Distrik Nakamura, itu semampunya.

Sementara itu, M. Ismail Yusuf, warga Pontianak, Kalimantan Barat, yang sedang menempuh jenjang pascadoktoral di Universitas Teknologi Toyohashi, merayakan Ramadan di kampusnya yang berjarak sekitar satu jam perjalanan kereta api dari Nagoya.

Ia bekerja sama dengan sekitar 40 mahasiswa muslim dari Indonesia, Mesir,
Uzbekistan, Pakistan, dan Malaysia menyulap ruangan olahraga tenis meja di pojok wisma internasional menjadi musala sementara. Mereka juga sedang menggalang dana untuk mendirikan sebuah masjid. ABDI PURMONO (NAGOYA)


Aksi

Information

One response

20 09 2009
ary sutong

primen kbr,,e
aku wong indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: