Terminal itu Bernama Canda

17 10 2006

Dari waktu ke waktu kaki ini aku kayuh. Kadang aku berlari untuk mencapai target, yakni tuntutan dakwah yang tak mungkin aku tunda. Tubuhpun mengeluarkan peluh, kepenatan dan keletihan. Tetesan air mata kadang harus kutumpahkan untuk tujuan dakwah yang aku perjuangkan.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang melelahkan. Lelah fisik bahkan jiwa dan pikiran. Maka akupun membutuhkan terminal-terminal tempat beristirahat. Tempat aku merasakan “kegembiraan” bersama, melepaskan ketegangan, dan meregangkan otot dan persendian. Bak peristirahatan seorang prajurit, menurut Syaikh Jasim Muhalhil al Yasin. “Prajurit dakwah” membutuhkan waktu untuk beristirahat dan selanjutnya kembali ke medan laga. Salah satu terminal peristirahatan itu adalah “terminal Canda”.

Di jalan dakwah ini, aku mempunyai ruang untuk tersenyum dan tertawa. Inilah salah satu “bumbu” kebersamaan dengan para al-akh “prajurit dakwah” yang lain untuk menumbuhkan kembali semangat. Sebagaimana Rosululloh SAW pun memiliki ruang-ruang canda dan tawa dengan para sahabatnya. Hingga Imam As Suyuti ra. menyebutkan salah satu sifat Rosululloh SAW dengan istilah “ad-dhahuuk al-qattaal”, yakni orang yang sering tersenyum tapi mampu berperang.

Keseriusan para sahabat dalam berdakwah dan berjihad, besarnya perhatian para salafusshalih dalam memerangi kemungkaran dan menekuni ilmu, tidak menjadikan mereka bak orang yang tak mengenal senyum dan tertawa. Meski demikian, catatan perjalanan para “prajurit dakwah” generasi awal itu bukan berarti porsi canda menjadi dominan dalam kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mampu menempatkan sikap-sikap canda sesuai kebutuhannya. Ibarat “bumbu kehidupan”, canda dibutuhkan untuk “membangun” kebersamaan dan mencairkan “ketegangan”.

Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran tentang kebutuhan jiwa untuk istirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Lantaran “canda dan tawa” yang tidak proporsional dan “keterlauan” hanya akan berakibat hati akan “mengeras”, dan sulit “menerima” kebenaran.

Pertemuanku dengan al-akh “prajurit dakwah” di jalan dakwah ini, sering diwarnai dengan canda, senyum dan tawa. Meskipun interaksi untuk sebuah “urusan” atas nama dakwah sangat memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat. Semuanya tak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa. Canda yang berkembang di antara para “prajurit dakwah” bisa memberikan energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran, berfungsi menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan.

Ada ungkapan Ibnu Umar ar. tentang para Sahabat Rasululloh, ketika ia ditanya, “Apakah para Sahabat Rosululloh itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.

Terakhir, aku jadi teringat sebuah tulisan seorang al-akh, Abu Farwah, yang berjudul: “Ketika Ikhwan Tersenyum: Kumpulan Anekdot dan Kisah-kisah Unik di Sekitar Aktifis Dakwah”. Tulisan tersebut berisi kumpulan cerita-cerita lucu yang sering menghiasi keseharian aktivis dakwah dalam koridor “kegiatan dakwah”. Di bagian pengantar, Abu Farwah menuliskan ungkapan sebagai berikut:

Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khotob memilih untuk tetap eksis hidup di dunia ini adalah: Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya adalah kenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yang hari-harinya di penuhi dengan keindahan ukhuwah. Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari para aktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau sebuah komunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan elegan. Jauh dari kesan kaku, kolot, galak dan beku. Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucu atau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka. Apapun, harapan agung penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkan ukhuwah di antara kita. Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebih tulus senyum dan sapaan kita. Agar kita lebih siap menyambut pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Karena agenda dan proyek-proyek kita, jauh lebih padat dari jatah usia masing-masing dari kita. Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum. [Abu Farwah, Khartoum Mei 2004].

Demikian, semoga essai “Terminal itu Bernama Canda” ini bisa memberikan manfaat kepada mereka yang telah mengazamkan hidupnya untuk dakwah. Bahwa dengan senyum dan canda akan mampu memberikan semangat dan energi baru guna melanjutkan perjalanan yang jauh dan tak berujung ini.

Wallahu’aklam Bissawab

Maraji: Sebagian dari isi tulisan ini disarikan dari salah satu sub-bab buku berjudul “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”.


Aksi

Information

6 responses

22 10 2006
meowsoleh

“Salam idulfitri, salam kemenangan umat islam sarwajagat. Semoga kita akan sentiasa merindui Ramadan yang akan berlalu walaupun kita berada di kemeriahan Syawal”

28 10 2006
Dikdik Andhika Ramdhan

Ada kerinduan ukhuwah yang senantiasa ingin ana temukan, ketika hari-hari membawa diri ini dalam kekakuan zaman. Tolonglah, untuk menemukannya kembali …

8 03 2007
buy cialis online

buy cialis online

29 09 2007
wahyudi

Assalamu ‘Alaikum Waromatullohi Wabarokatuh

Kami beritahukan kepada Seluruh pembaca dan umumnya bagi seluruh Saudara – Saudara yang belum mengenal tentang Sholawat Wahidiyah. Tujuan dari Sholawat Wahidiyah yaitu untuk Menjernihkan Hati dan Ma’rifat Billah wa Rosullihi SAW. Adapun Mujahadah Sholawat Wahidiyah yakni dengan membaca lembaran Sholawat Wahidiyah/. Untuk lebih jelasnya silakan ke website http://www.dpppsw.multiply.com atau http://www.sholawatwahidiyah.com
Silakan setiap saat, kapan dan di manapun Saudara berada, diusahakan membaca Nida’ Rosul dengan bacaan “YAA SAYYIDII YAA ROSULALLOH” artinya “Duhai Pemimpin Kami Duhai Utusan Allah“. Jadi kita langsung mengagungkan Rosululloh SAW tanpa perantara siapapun. Kami mohon dengan harapan supaya Saudara berkenan membaca dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunannya dan tata cara yang sudah tersedia. Segala perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Jazzakumullohu Khoiron

Wassalamu “alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

16 11 2007
buna's albanna

assalamu’alaikum…
pendar ukhuwah akan terasa hambar apabila ia menemukan titik kepenatan yang menemani perjalanannya, perjalanan panjang menjumpai Robb-nya, perjalanan yang tak kan pernah henti meski pengusungnya banyak yg berguguran…. asal jangan berguguran di jalan da’wah seperti yang di ulas oleh fathi yakan…
wallahu’alam bishshowab….

23 11 2008
mas

salam akh, mohon dicopy ya artikelnya wsalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: