Catatan Mudik

11 10 2006

Alhamdulillah, 3 minggu mudik ke Indonesia telah memberikan banyak manfaat. Terutama kesempatan untuk “merasakan” Ramadhan di Indonesia setelah 6 tahun berturut-turut selalu melewati Ramadhan di negeri Sakura. Melewati 10 hari di Djoga dan 10 hari di Madura banyak menyisakan kenangan manis yang tak mungkin terlupakan.

Selama di Madura, selain bisa silaturahmi secara “lengkap” dengan seluruh saudara dan handai tolan, aktivitas di luar acara “keluarga” lebih “optimum” lantaran “difasilitasi” oleh sebuah Yayasan Pendidikan. “Ceramah Ramadhan” di depan adik-adik siswa SMA di Sampang “sempat” saya lakukan selama 2 hari berturut-turut. Sempat juga menjadi “pembicara dadakan” dalam “Pengajian Ramadhan” bertema “Masuk Surga lewat Pintu Ar-Rayyan bersama Keluarga”, agenda rutin dari Yayasan. Juga menyelusuri pantai di sepanjang perjalanan “melewati 3 kabupaten”, dari Kab. Sampang, Kab. Pamekasan dan berakhir di Kab. Sumenep adalah agenda yang tak kalah menariknya. Selengkapnya silahkan kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1107557.html

Selama di Djogja-pun tak kalah menariknya. Beberapa hari setelah “mendarat” di Jogja, sebuah acara “sharing” yang difasilitasi oleh jurusan Fisika UGM, sukses terlaksana. Di depan beberapa dosen dan mahasiswa jurusan Fisika, saya menyampaikan presentasi bertemakan: “Magnetic Recording Devices: Prospects over the Next 10 Years and Some Research Challenges in Indonesia”. Hmm, ternyata banyak juga yang datang. Alhamdulillah, bisa menghadiri acara syukuran Dies Natalis MIPA UGM, sehingga bisa “bertemu” dengan semua dosen-dosen FMIPA UGM. Acara pidato Dies Natalis ditutup dengan ucapan “Selamat” dan “Salam-Salaman” kepada “petinggi” Fakultas, salah satunya kepada Ketua Senat FMIPA UGM. Dan saya dan istri tidak ikut acara “salam-salaman”, karena sebelumnya di rumah sudah “sungkem duluan” kepada pak ketua Senat FMIPA, pake cium tangan lagi…*smile*. Hidangan makanan di acara Dies telah “menyisakan” kenangan tersendiri bagi saya yang waktu itu juga mengajak serta istri tercinta. Pertemuan saya dengan aktivis mahasiswa “mas Rajab” di musholla MIPA saat sholat Dhuhur berjamaah ternyata berbuah “dibuatnya” acara Stadium General menjelang buka puasa. Dalam acara bertajuk “Pondok KMF MIPA UGM 2006”, saya “didaulat” untuk menjadi pembicara “ngabuburit” sambil menunggu buka puasa. Selama di Djogja, Alhamdulillah, Hanifah “sempat” dikhitan. Bersama Eyang-Kakung dan Eyang-Putri, Hanifah “mengunjungi” Rumah Sakit Khusus Bakti Ibu untuk dikhitan. Dan saya baru tahu, proses khitan anak perempuan “tidak seruwet” anak laki-laki. Dan sang Dokter-pun menyarankan, bagi anak perempuan, lebih cepat lebih baik. So, bagi rekan-rekan yang mempunyai anak perempuan dan belum dikhitan, sebaiknya secepatnya dikhitan. Kenangan dalam gambar selama di Djoga silahkan kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1107581.html

Sedikit penjelasan tentang Khitan bagi anak perempuan dan landasan Syar’i-nya yang diambil dari “Kumpulan Fatwa-Fatwa Kontemporer Ust. Yusuf Qardhawi” adalah sbb:

Khitan bagi anak perempuan diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi menentangnya, demikian pula dengan ulama, ada yang enguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling ekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits meskipun tidak sampai ke derajat sahih – bahwa Nabi saw. pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya: “Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”

Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta’shili jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan suaminya dan
mencerahkan (menceriakan) wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan da pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi nak-anaknya, maka hendaklah ia melakukannya, dan saya menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita ekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka tidaklah ia berdosa, karena khitan itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi’ar Islam, sehingga para ulama menetapkan bahwa apabila Imam kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka kembali kepada aturan yang istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini.

Demikian, sekilas “cacatan” perjalan saya selama mudik 3 minggu ke Indonesia. Banyak yang belum sempat saya “tuliskan”, maklumlah, lagi “males” nulis yang panjang-panjang.


Aksi

Information

One response

19 10 2006
uziek

katanya khitan untuk perempuan itu nggak ada dalil shahihnya dan jg melanggar hak azazi yg paling pribadi seorang wanita, krn bisa menyebabkan seorang wanita mempunyai kelainan dlm hal maaf sexual dan yg paling parahnya adalah frigiditas

jadi apakah anjuran segera berkhitan bagi perempuan ini baik ?
sebaiknya disertakan dong dhalil2nya dan efeksamping yg mungkin terjadi

soalnya kalau efek yg saya sebutkan tadi benar adanya kan bisa mengganggu atau bahkan menghancurkan masadepan wanita dlm wacana berkeluarga menuju sakinah mawaddah wa rahmah

maaf panjaaaaaaaaang komentarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: