Program “Imunisasi” bagi Kader Dakwah

10 07 2006

Imunisasi, siapa yang tak kenal dengan “program” yang satu ini. Hampir semua dari kita yang mempunyai balita, pasti pernah berinteraksi dengan Imunisasi. Program ini biasanya diberikan kapada anak-anak khususnya Balita untuk memberi kekebelan terhadap beberapa penyakit.

Tidak hanya Balita, semua dari kita membutuhkan kekebalan di segala aspek kehidupan kita. Begitu juga para kader-kader dakwah, penyeru kepada jalan ALLOH, para pejuang kebenaran “Al-Haq”, yang senantiasa menegakkan kalimat-NYA di muka bumi ini, butuh imunisasi untuk “kekebalannya” dari beragam penyakit “Al-Bathil”. Lantaran “rongrongan” dengan beragam penyakit oleh Al-Bathil terhadap Al-Haq bersifat “abadi”.

Al-Bathil akan senantiasa memerangi Al-Haq dan “pasukan-pasukan” yang berada dibelakangnya, memerangi para pembelanya. Sehingga para kader-kader da’wah membutuhkan “kekebalan” agar ia tidak mudah tumbang dan “menyerah” atas kebatilan. Jika Ust. Fathi Yakan menjabarkan mereka-mereka yang “tumbang” dalam bukunya, “Yang Berguguran di Jalan Dakwah”, sebaliknya, Ust. Abu Ali Marwan menjabarkan mereka-meraka yang “teguh” dalam bukunya “Yang Tegar di Jalan Dakwah”. “Semuanya” bukan tanpa sebab.

Agar dakwah bisa bertahan lama ia harus dibentengi. Termasuk para kader-kader dakwah, para penyeru kepada jalan ALLOH, mereka harus dibentengi dengan imunitas yang baik. Di antara benteng itu adalah sbb:

1.     Al-Isti’ab an-Nazhari, yakni penguasaan teori, penguasaan Kafa’ah keIslaman yang baik, mempunyai bekal pengetahun tentang Al-Islam yang baik. Di dalamnya meliputi pemahamaan Akidah yang betul, termasuk Syari’ah dan pengetahuan-pengetahuan dasar keIslaman lainnya. Ibarat kendaran, ia adalah bahan bakar yang menjadi sumber “energi” untuk bergerak dan melaju.

2.     Al-Isti’ab al-Maknawi, yakni penguasaan moralitas. Pengetahuan dan pemahaman tentang keIslaman tidaklah cukup untuk “menopang” kerja dakwah. Ia harus ditopang juga oleh karakteristik atau moralitas seorang pen-dakwah. Faktor moralitas ini mencangkup amanah, sabar, jujur, dll.

3.     Al-Isti’ab al-Amali, yakni penguasaan amal. Pengetahuan dan pemahamaan yang baik, serta moralitas yang baik, tanpa dibarengi amal, ia tidak akan membuahkan apa-apa. Keteguhan dalam ber-amal juga menjadi faktor “penguat” bagi para pen-dakwah agar ia tetap teguh dan tegar di jalan dakwah, seberat apapun hambatannya. KeIstiqomahan dalam beramal adalah faktor penguat hubungan antara ALLOH dan para pendakwah.

Sebagai penutup, berikut saya nukilkan ayat dalam Al-Qur’an, yakni Al ‘Imran 79: [Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya].  Rabbani dalam ayat tersebut menjadi salah satu karakteristik dalam Dakwah. Dalam tafsir Al-Jalalain, kata Rabbani dalam ayat di atas ditafsirkan sebagai “Ulama ‘amilin”, yakni mereka yang berilmu dan faham serta mengamalkannya. 

Wallahu’aklam bissowab


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: