Suami Belanja, Kenapa Tidak?

27 06 2006

Kalau beberapa waktu yang lalu ada tulisan bertajuk: “Suami di Dapur, kenapa tidak?”.

Berikut adalah tulisan yang se-ide, yakni “Suami belanja, kenapa tidak?”

DI suatu malam, “teman polisi” saya berinisiatif mengantarkan saya pulang dengan mobil barunya. Selama di perjalanan dari Meidai sampai Ozone, kami asyik “ngbrol” sana-sini.

Sampai pada akhirnya obrolan sampai kepada tema “Belanja di Supa”.

Saya ceritakan bahwa,  kalau belanda kebutuhan sehari-sehari, lebih sering saya yang ke Supa dibadingkan istri. Kalaupun istri yang harus pergi, biasanya saya temani dan jarang sekali belanja sendiri.

Teman jepang tadi berkomentar: “Yasashi desu ne….”.

Dan dia balik bertanya: Gimana cara belanja dan ngatur uangnya.

Saya jawab: Mudah saja, istri tinggal mencatat apa yang mau dibeli, dan ngasih uangnya. Selanjutnya belanjaan diserahkan plus kembalian dan “kwitansi” belanja, dan nggak pake ongkos belanja.

Bagi orang Jepang, “mungkin” hal ini tidak terlepas dari budaya Jepang dimana tanggung jawab belanja kebutuhan rumah tangga sepenuhnya adalah tanggung jawab istri. Makanya sering kita saksikan, Ibu-ibu Jepang membawa belanjaan yang banyak dengan  bersepeda dan kadang gendong anak juga. Chotto taihen desu ne.

Bagi kita seorang Muslim, selain kita memang dituntut untuk “Yasashi” kepada keluarga, sebagaimana sabda Rosululluh: “Yang paling baik diantara kalian adalah orang yang
paling baik terhadap keluarganya. Dan aku paling baik diantara kamu terhadap keluargaku” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Tapi, tentang “belanja” ini, tentunya bukan hanya masalah Yasashi atau tidak Yasashi terhadap istri.

Ada banyak hadits dan penjelasan yang memberi petunjuk kepada kita, bagaimana kita berinteraksi dengan pasar, swalayan, supermarket dan tempat belanja lainnya. Lebih-lebih kalau kita membaca kisah-kisah yang ada di Sirah Nabawiyah atau Sahabat, secara implisit akan kita jumpai bahwa hampir semua “aktivis” pasar, penjual dan pembeli adalah kaum pria.

Berikut uraian yang bersumber dari: Kutaib Darul Wathan “Ila Murtadatil Aswaq,” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.”

Mengapa? Karena pasar adalah tempat yeng melalaikan, tempat tabarruj, tempat pamer aurat, ikhtilath (campur baur pria wanita), tempat kegaduhan dan obrolan yang sia-sia.

Imam An-Nawawi berkata, tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar” karena pasar adalah tempat yang bisa menyebabkan lalai dari dzikrullah. Di dalam pasar, banyak manusia lalai dari dzikrullah dan bersyukur kepada-Nya, karena hati disibukkan oleh segala yang terlihat oleh dua mata.

Maka umat Islam, terutama para wanita muslimah hendaknya sangat berhati-hati dan menjadi orang yang membenci pasar, artinya berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi berinteraksi dengan pasar karena ia merupakan tempat ikhtilat, tempat godaan syetan, dan menjadikan orang terpengaruh dan hanyut dengan apa yang disaksikan di sana.

Meskipun telah kita ketahui berbagai fitnah, kemungkaran dan bahaya di dalam pasar, namun kita, khususnya para wanita muslimah terkadang perlu untuk membeli berbagai kebutuhannya di pasar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang umatnya untuk masuk ke pasar.

Berikut rangkuman adab-adab pergi belanja ke pasar atau swalayan, atau supermarket dan sejenisnya:

1. Ada Kebutuhan yang Dibeli.

Dalam arti, seseorang jangan masuk pasar tanpa ada tujuan untuk membeli apa-apa.

2. Meminta Izin, bagi Wanita.

Seorang wanita, ketika akan pergi ke pasar hendaknya minta izin kepada walinya. Atau istri kepada suaminya. Juga jangan pergi seorang diri, agar tidak menimbulkan fitnah.

3. Berdoa ketika Masuk Pasar. Dengan mengucapkan,
“La ilaha illallah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumit, wa huwa hayyun la yamut, biyadihil khair,wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir.”
Artinya: Tidak ada ilah kecuali Allah, Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kekuasaan dan pujian, Yang menghidupkan dan mematikan, Dia Maha Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

4. Bersikap Sopan
Yaitu berjalan dengan baik dan tenang, tidak memakai parfum bagi wanita, karena akan mengundang perhatian laki-laki lain. Bagi para wanita juga jangan banyak bertanya tentang sesuatu yang kurang perlu kepada pedagang laki-laki, namun bertanyalah sekedarnya.

5. Tidak Berkhalwat
Yaitu tidak berduaan antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada orang lain dan mahramnya.

6. Hemat
Hemat dalam berbelanja merupa kan bukti seseorang menjaga nikmat yang diberikan Allah subhanahu wata’ala dan bukti ia bersyukur. Sedangkan isyraf (boros) dan tabdzir (menghamburkan harta) merupakan cerminan sikap meremeh kan dan menyia-nyiakan nikmat Allah.

7. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Jika menjumpai kemungkaran, maka harus dicegah. Minimal mengingkari kemungkaran dengan hati, sebagaimana telah disampaikan di dalam hadits.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: