Fase Penguatan Fiqrah

27 06 2006

Fase penguatan Fiqrah atau lebih populer ditulis fase “perumusan ideologi dan pemikiran” menjadi faktor penentu munculnya sebuah peradaban.

Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan “ideologi” yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme Barat, dan Zionisme Internasional.

Jika pemikiran menuju peradaban Islam modern telah dimulai secara individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridla, dan seterusnya, maka rintisan pemikiran yang bersifat individual itu harus disambut secara lebih tertata, diantaranya dua tokoh pemuka da’wah yang tidak bisa dilupakan jika berbicara tentang kebangkitan Islam menuju peradaban Islam, yaitu Abul A’la Maududi dengan Jama’at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.

Al Maududi dan Al Banna telah meletakkan dasar-dasar atau perumusan ideologi gerakan kebangkitan Islam menuju Peradaban Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa peradaban Islam atau kejayaan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar, yang terangkum dalam fase perumusan ideologi dan pemikiran.

Dalam menuangkan dan memilihara fiqrah-nya, Al Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada ‘mencetak’ kader. Dan pergerakannya hanya terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia. Pengaruh pemikirannya telah memunculkan banyak insipirasi gerakan-gerakan Islam untuk mewujudkan kejayaan Islam. Dalam menuangkan Fiqrah-nya, beliau lebih banyak ‘mencetak’ orang daripada menulis buku. Dari muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. Ali Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba’io, dan lain-lainnya.

Selanjutnya, fiqrah yang kuat akan menjelma menjadi pribadi-pribadi Muslim yang tangguh, dimana Islam akan terus melekat dan mempengaruhi dirinya. Seperti ungkapan di atas, ada 3 hal yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri pribadi Muslim, yakni: aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: