Faizku Terbanglah Jauh Kemana Engkau Suka

27 06 2006

Fauzan Abdurrahim, putraku yang pertama, kami biasa memanggilnya Faiz. Ia lahir pada Desember 2003 yang lalu. Bahagia rasanya ketika ia pertama kali melafalkan kata “Abi”, untuk memanggilku.

Ah, itu kejadian yang telah lalu, kini usianya sudah 2 tahun 4 bulan. Saya sedang mengajarkan kepadanya agar ia pandai “berbagi dan berempati” dengan adiknya juga dengan teman-temannya. Saat usianya baru beranjak 2 tahun, Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk menyelesaikan program Ph.D (S3), sebuah jenjang tertinggi dalam dunia akademik, dan saya peroleh di salah satu Universitas ternama di Jepang, Universitas yang pernah “melahirkan” penerima hadiah Nobel bidang Kimia.

Bagaimana dengan jagaon kecil-ku, Faiz, Apakah ia kelak akan memperoleh kesempatan yang sama untuk sekolah ke jenjang yang tinggi, Sarjana atau Master misalnya atau bahkan Ph.D?. Saya sebagai orang tuanya, tidak pernah mengkhawatirinya. Karena sesungguhnya ia akan tumbuh dengan potensinya sendiri, dan setiap anak pasti punya potensi yang baragam, tidak hanya terpaku pada kecerdasan scholastic seperti Berhitung, Bahasa, Music, dan Olahraga. Tapi saya hanya khawatir atas perlakuan “kurang adil” orang-orang sekitar terhadapnya kelak. Kasihan ia, jika ia tidak berhasil sekolah “tinggi”, orang akan mengatakan, “Kok orang tuanya bisa berhasil sekolah tinggi, anaknya tidak?” Tetapi jika ia berhasil sekolah tinggi, orang-orang akan mengatakan, “Oo, tidak heran kalau anak itu bisa berhasil sekolah tinggi, siapa dulu orang tuanya”. Sebuah ungkapan yang sangat tidak bijaksana memang.

Jangan pernah membandingkan anak dengan orang tuanya, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan prestasi akademik (kecerdasan scholastic), bahkan dengan teman-teman seangkatan, atau teman-teman sekelas-nya sekalipun. Di jaman sekarang, sistem peringkat atau rangking bagi anak-anak di sekolah kuranglah bijaksana. Selisih nilai yang hanya nol koma sekian akan membuat si A berada di bawah si B. Peringkat di kelas tidak menandakan apa-apa. Seharusnya anak-anak tidak dibandingkan dengan siapapun, tidak dengan teman sekelasnya, tidak pula dengan Bapak-Ibunya. Akan lebih bijak jika anak dibandingkan dengan dirinya sendiri, karena sesungguhnya ia memiliki potensi, biarkanlah ia tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing.

Di era modern ini, tentu saja orang tua dituntut untuk menyiapkan anak agar siap berkompetisi. Teringat sabda Rosululloh: “Didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka akan tumbuh menjadi manusia untuk menghadapi zamannya dan bukan zamanmu”. Akan tetapi, anak-anak tidak bisa disama-ratakan, misalnya di dalam kelas, dengan mengevaluasi “kecerdasannya” dengan parameter yang sama yakni “kecerdasan scholastic”. Bukankan kita sudah sering membaca adanya “multiple intelligence”, yang sepertinya akan lebih manusiawi jika digunakan untuk “menilai prestasi anak”. Dengan menonjolkan salah satu kecerdasan mereka dan bukan merangkum seluruh kecerdasan dengan parameter seragam, kemudia dinilai. Dengan penerapan “multiple intelligence”, anak-anak akan tumbuh dengan nyaman sesuai dengan potensinya, tumbuh tanpa tekanan, anak diajak “berkelana” mengenali potensi mereka sendiri. Sang anak bisa jadi mempunyai kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal. Jangan pernah mengabaikan kecerdasan-kecerdasan internal seperti itu.

Itu mungkin hanya angan-angan saya saja. Kita mungkin akan merasa rendah, manakala anak kita tidak bisa mencapai peringkat 10 besar di kelasnya, tidak bisa sekolah tingi, kita akan marasa rendah jika anak kita tidak berprestasi dalam arena perlombaan. Dan kita mungkin biasa-biasa saja, mana kala anak tidak memiliki kecerdasan intra maupun inter-personal, tumbuh menjadi pribadi yang egois, tidak bisa bergaul, sombong, suka menipu, suka ngejekin temennya, dan sebagainya.

Sudah waktunya untuk menerapkan “multiple intelligence” untuk mengevaluasi prestasi sang anak, hal ini akan lebih adil dan bijak. Jika anak-anak dihargai dan diberi nilai lebih, apapun bentuk potensinya, mereka akan tumbuh optimal dan percaya diri.

Untuk Faiz-ku, terbanglah tinggi kemana engkau suka, laksana burung Camar yang pandai berkicau, atau sebagai Elang yang perkasa, atau laksana burung Gereja yang pandai bergaul, atau sebagai Bangau sang penjelajah. [Catatan kecil ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabatku yang memiliki anak usia sekolah, kenalkan ia pada potensi internalnya]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: