Ekslusifme Gerakan Dakwah

27 06 2006

Banyak sekali suara-suara seputar ekslusifme dalam gerakan dakwah. Bisa jadi suara-suara itu hanyalah suara “sumbang” yang merupakan “ujian” bagi gerakan dakwah. Tapi bisa pula suara-suara tsb adalah sebuah “kritikan” yang harus direspon positif oleh setiap kader dakwah, untuk memperbaiki kinerja dakwah-nya.

Ekslusifme dalam gerakan dakwah menjadi sebuah fenomena dan juga “momok” bagi sebagian orang. Tapi bagaimana sebenarnya posisi ekslusif tsb harus ditempatkan oleh kader dakwah?.

Gerakan dakwah atau aktivitas menyeru kepada jalan ALLOH dengan bermacam cara, TIDAK boleh ekslusif, dakwah harus tampil terbuka untuk siapa saja, karena sesungguhnya sasaran dakwah adalah masyarakat umum. Atau bahasa mudahnya, setiap “kader” dakwah dituntut agar bisa “gaul” dengan siapa saja, agar pesan-pesan dakwah sampai kepada masyarakat umum secara luas dan terbuka. Banyak sekali aktivitas “terbuka” yang telah dicontohkan oleh berbagai gerakan dakwah di Indonesia, misalnya pengobatan massal, kajian umum, seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, bantuan sosial, dan lain sebagainya, bahkan ada yang berkunjung ke masjid-mesjid, mendatangi rumah muslim satu-persatu, seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Jamaah Tabligh.

Selain itu, dakwah tidak mungkin dipisahkan dari keberadaan “kader” dakwah yang “solid”. Dua kata kunci itulah yang menuntut gerakan dakwah harus ekslusif. Aktivitas-aktivias pembinaan “kader-kader” yang kokoh agar ia bisa menanggung kerja dakwah yang berat, juga membangun sebuah organisasi dakwah yang “solid”, merupakan usaha yang ekslusif. Artinya, tidak semua individu akan “menerima” kerja-kerja dakwah yang sama, karena kondisi masyarakat yang sangat heterogen dengan pemahaman yang beragam. Dalam kerja dakwah, bermacam hambatan dan tantangan akan datang. Salah satunya, “penyusupan” yang bertujuan melakukan “pembusukan” dari dalam, bisa jadi akan muncul. Jadi untuk membangun organisasi dakwah yang solid, terhindar dari penyusupan dan perpecahan internal, ia harus mampu menjaga “ideologi”-nya sampai ke setiap kader.

Berdasarkan dua latar belakang yang tersebut di atas, maka ekslusifme akan menjadi sebuah keniscayaan.

Dari ekslusifme pembinaan “kader” dakwah yang solid inilah, munculah beberapa istilah yang sudah jamak misalnya, pembinaan kader yang khas, markas dakwah, “penjaga” gawang ideologi, dsb. Kalau di Jakarta mungkin kita akan mengenal, Masjid Kebon Jeruk,

Ma’had Al-Hikmah Jakarta Selatan, Masjid As-Sofwah di Lenteng Agung. Yang merupakan tempat-tempat dari sekian banyak tempat “pembinaan” kader dakwah bagi beberapa gerakan dakwah di Indonesia.

Kalau di jaman Rosululloh, kita mengenal “Darul Arqam” atau rumahnya Arqam, yang merupakan tempat “rahasia” guna pembinaan generasi-generasi terbaik untuk mengemban dakwah di era awal perkembangan Islam. Sampai sekarangpun, tidak ada yang tahu siapa itu Sahabat yang bernama Arqam. Sehingga di dalam Sirah Nabawiyah atau Sirah Sahabat selalu ditulis Arqam bin Abil Arqam atau Arqam anak dari Bapak-nya Arqam.


Aksi

Information

One response

4 08 2006
syafa

saat ini sudah ga jamanya lagi untuk dakwah secara sembunyi-sembunyi, namun yang kita butuhkan adalah dakwah yang kultural

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: