Di Masjid Ikebukuro, Persahabatan Itu Berawal

27 06 2006

Jam di diding menunjukkan tepat jam setengah sembilan, jum’at pagi itu ruly siap-siap untuk berangkat ke kampus, aktivitas rutin yang harus ia jalani setiap hari sejak senin sampai jum’at. Ada seminar yang ia harus ikuti setiap hari jum’at di kampusnya, Waseda Daigaku.

Matahari baru saja beranjak ke peraduannya, “Assalamulaikum raja-san”, sapa ruli kepada seorang laki-laki berwajah Pakistan. Jum’at sore itu, ia pulang lebih awal karena keinginannya untuk ikut sholat berjamaah di masjid Ikebukuro. “Waalaikum salam Indonesian brother” jawab raja dengan senyumnya yang khas. Raja adalah “penunggu” masjid Ikebukuro. “Kyo nanji made masjid ni iru?”, tanya Raja. “Sholat Isya’ no ato, kaerimasu”, sahut ruli. “Nani ga arimasuka?”, tanya ruli penasaran. “Alhamdulillah, ima Pakistan kare wo sukutta kara, Maghrib to Isya’ no aida ni, isshoni taberu ne”, jelas raja mengakhiri rasa penasaran ruli. “Alhamdulillah”, ruli berucap kegiarangan. Semua orang yang pernah datang ke masjid Ikebukuro pasti tahu, kalau raja “pinter” masak.

Salah satu ciri khas masjid Ikebukuro adalah di setiap selesai sholat jum’at ada sajian rutin, yaitu makan kare Pakistan buatan raja. Adzan Isya’ baru saja dikumandangkan. Pada malam Ahad, jama’ah yang datang ke Masjid lebih banyak dari biasanya, tak terkecuali beberapa jama’ah orang Indonesia. Sebagian besar adalah pekerja dan kenshusei. Mereka biasanya i’tikaf di masjid dan melanjutkan perjalanan di hari ahadnya. “Assalamualaikum”, ucapan itu mengiringi langkah masuk seorang pemuda berwajah Indonesia. “Waalaikum salam” sahut jamaah yang ada di dalam masjid. Beberapa saat kemudian, lantunan iqomah sang muaddzin menyadarkan jamaah untuk segera bangkit dan sholat isya’. Beberapa orang jamaah langsung pulang, dan sebagian ada yang memilih tetap tinggal di masjid untuk sekedar baca-baca buku di perpustakaan masjid.

“Assalamualaikum, namaku andi, aku baru pertama kali datang ke masjid ini”, sapa perkenalan andi sambil menyodorkan tangannya. “Walaikum salam, aku ruli”, balas ruli sambil menangkap sodoran tangan andi. “Aku tinggal di Saitama, kurang lebih 1 jam dari ini dengan Seibu sen” jelas andi sebagai pembuka “obrolan”. “Wah, jauh juga ya, kalau aku sih tinggalnya deket sini, mungkin hanya sekitar 20 menit dengan Tobu sen”, kata ruli. Andi adalah kenshusei yang bekerja di salah satu pabrik di Saitama.

“Bangun!”, suara lirih andi membuat ruli terjaga dari tidurnya. “oh kamu toh andi” dengan nada terseok-seok ruli berusaha sadar dari tidur lelapanya. Sekejab, pandangannya tertuju ke jam yang ada dinding. Pagi itu, fajar belum menyingsing, kabut malam masih meliputi Tokyo, jam di dinding masjid masih belum beranjak ke angka empat. “Lho kamu di sini andi?”, Tanya ruli keheranan. “Aku tiba di sini sekitar jam sebelas, dan mendapati kamu sudah tidur rul”, jelas andi. Rupanya malam itu ruli mengakhiri bacaan qur’annya lebih cepat dari biasanya. “terima kasih telah dibangunkan”, ucap ruli. “masih ada waktu 30 menit sebelum subuh tiba, kita bisa sholat tahajjud” ajak andi penuh semangat.

Iktikaf di masjid Ikebukuro setiap malam ahad kesatu dan ketiga, telah menjadi kebiasaan andi dan ruli. Pertemuan keduanya dua bulan yang lalu di masjid, telah memberinya semangat untuk meluangkan waktu untuk datang ke masjid dan i’tikaf. Matahari masih enggan menampakkan dirinya, udara sejuk berusaha masuk di sela-sela jendela masjid membawa butir-butir embun pagi yang segar. Andi, ruli, haris dan beberapa pemuda lainnya tengah serius berdiskusi. “Sudah dengar kabar?”, tanya ruli kepada semuanya. “Kabar apaan tuch” andi bertanya dengan wajah keheranan”. “Tiga pekan lagi kita akan memasukinya liburan golden week” ucap ruli. “terus” potong andi tidak sabar. “InsyaaALLOH kita berencana akan mengadakan daurah selama 2 hari, khusus teman-teman kenshusei”, jelas ruli sambil berusaha menjelaskan apa itu daurah. “Dan InsyaaALLOH andi sebagai koordinator-nya”, kata ruli sambil mengarahkan pandangannya ke andi. “kenapa harus aku!”, andi protes. “nggak apa-apa, buat latihan dan InsyaaALLOH dibantu dech”, ruli berusaha memberi semangat kepada andi.

“Kring, Kring, dering telepon membuat andi kaget. “siapa sih siang-siang gini telepon?”, celetuknya. “Assalamualaikum” sebuah suara yang cukup dikenalnya mucul dari ujung sana “Waalaikum salam” jawab andi. “Ngapain siang-siang gini, andi?”, tanya ruli membuka pembicaraan. “kebetulan hari ini aku masuk kerja dan sekarang lagi jam istirahat” jawab andi, “gimana kabarnya rul”, andi balas bertanya “Alhamdulillah sehat, dan baru saja menyelesaikan aktivitas rutin di hari sabtu, kerja bakti”. jawab ruli. “sudah dua pekan nich, kita tidak berjumpa, rasanya ada sesuatu yang hilang”, ucap ruli. “iya nich, oh ya insyaaALLOH nanti malam aku agak malam sampai di masjidnya” jelas andi. “nggak apa-apa, yang penting datang” sergah ruli. “datang koq, dan paginya mau silaturrahmi ke rumah kamu rul, boleh kan?”, sahut andi. Selang beberapa menit, merekapun mengakhiri pembicaraan.

Dengan serius ruli sedang milih-milih sayur dan makanan kecil yang akan ia beli. Life, nama supermarket di depan rumahnya sudah ramai dikunjungi pembeli. Udara pagi masih sedikit terasa. Ibu-ibu muda dan anak-anak kecil tengah asyik ke sana kemari. Sepeda-pun satu demi satu mulai “berdiri” di tempat parkir. Harga telur 10 butir 100 yen, menjadi salah satu ciri khas Life di hari minggu. “Serius amet nich beli sayurnya”, goda andi kepada ruli.

Pagi itu, sepulangnya dari masjid, andi menyertai ruli pulang ke rumahnya. Sejak 5 bulan perkenalannya, andi belum pernah bertandang ke rumah ruli, dan sebaliknya. “iya dong, khan mau masak serius”, jawab ruli jengkel. “lho emangnya selama ini tidak pernah masak serius” kejar andi. “jarang sekali”, celetuk ruli. “Masak serius itu yang kayak apaan sih rul?” tanya andi kembali. Dengan wajah tertekuk, ruli mejelaskan “masak serius itu, masak lauk dan sayuran, tanpa bumbu jadi atau instant”. Sebagaimana bujangan murni dan bujangan lokal lainnya, bumbu instant sering menjadi bumbu andalan ruli. “Hari ini khan ada tamu penting, jadi masaknya harus serius”, jelas ruli. Dan keduanya-pun melewati makan siang bersama di rumah ruli.

Hari kemerdekan 17 Agustus diperingati dengan hikmah di Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT). Ada hari budaya yang menampilkan aneka ragam budaya Indonesia termasuk aneka makanan nusantara. Perwakilan BUMN di Tokyo, komunitas pelajar, perkumpulan daerah ikut menyemarakkan hari budaya. Ada undian berhadiah di stan BNI dan Garuda, juga tarian daerah. Suasana semakin ramai dan meriah dengan kehadiran sebagian besar mahasiswa dan kenshusei yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya. Udara panas bak di dalam oven tidak mengurangi kegembiraan pengunjung yang terus memadati area SRIT. Sebagian ada yang sengaja datang dari luar Tokyo.

Di Jepang, pertengahan agustus bertepatan dengan obon yasumi dan liburan musim panas. Sebagian ada yang memilih pulang ke Indonesia, sebagian lagi ada yang memilih tetap berada di Jepang. Banyak aktivitas dan kegiatan yang ditawarkan khususnya bagi komunitas masyarakat Indonesia. Ada hari budaya guna menyambut hari kemerdekaan, sanlat musim panas, natsu camp, seminar, pelatihan dan lain-lain.

“Terima kasih atas pemberian kaosnya nich”, ucap ruli. “sama-sama” jawab andi. “kaos ini khan andi pake toh, tapi koq malah diberikan kepadaku an?”, tanya ruli. “suatu hari, kira-kira satu bulan yang lalu, pertama kali aku pake kaos ini, kamu bilang kaos ini bagus”, andi berusaha menjelaskan. “jadi saya berikan kepadamu rul, sebagai hadiah”, sambung andi. “Ah kamu nich an, setiap yang aku bilang bagus terhadap kepunyaanmu, mesti kamu hadiahkan kepadaku” protes ruli. “tempo hari kamu memberikan peta dan jalur kereta seluruh jepang, lantaran saat kita ke Hiroshima dengan 18-kippu, kamu membawa peta yang kebetulan aku suka”, sambung ruli mengingatkan andi. “Dan masih banyak lagi hadiah-hadiah yang kamu berikan kepadaku an”, ruli melanjutkan. “Itu sih tidak seberapa dengan apa yang kamu berikan kepada ku, rul”, sergah andi. “pelajaran-pelajaran berharga, pertanyaan sudah berapa ayat aku baca hari ini yang selalu kamu lontarkan, telepon di sepertiga malam untuk membangunkan-ku agar sholat malam, dan masih banyak lagi”, balas andi tidak mau kalah. “Dan ada yang aku suka rul, ungkapan-ungkapan rindu yang kadang menghiasi lidahmu di saat kamu telepon aku rul, tidak pernah aku lupa”, lanjut andi.

Sudah hampir dua tahun persahabatan andi dan ruli. Dan tibalah saatnya bagi andi untuk kembali ke Indonesia karena masa kontrakanya yang akan segera habis. “InsyaaALLOH aku akan balik ke Indonesia 19 september nanti”, jelas andi kepada ruli dengan nada sedih. “maaf ya an, aku tidak bisa nganter kamu, kebetulan pas tanggal itu aku akan ke Kobe untuk mengikuti conference” ucap ruli dengan terbata-bata. “Mungkin hari ini adalah pertemuan kita terakhir di Jepang ini”, sambung andi. “iya nich, sedih rasanya berpisah dengan kamu an”, ruli mengiakan sambil memeluk erat tubuh andi. “InsyaaALLOH kita akan dipertemukan oleh ALLOH di lain kesempatan” andi berusaha menghibur. “di Indonesia, tetap istiqomah yaa, semangat ibadah dan pelajaran-pelajaran berharga yang telah diperoleh di sini tetap dipelihara”, pesan ruli. “InsyaaALLOH rul, kamu juga rul”, jawab andi. “saling doa ya”, lanjut ruli. Tanggal 19 September, jam sebelas siang pesawat Garuda yang membawa andi ke Indonesia take-off dari bandara Narita. Di hari yang sama, dengan berbekal peta jalur kereta pemberian andi, ruli-pun meninggalkan Tokyo menuju Kobe. Dan keduanyapun berpisah…………………….

Ungkapan rindu buat Sahabatku (semoga persahabatan kita tidak berubah)

Catatan: Masjid Ikebukuro adalah salah satu masjid di Tokyo. Di sebut masjid Ikebukuro karena lokasinya yang hanya 3 menit jalan kaki dari Ikebukuro eki (salah satu eki besar di Tokyo). Menjadi strategis lantaran Ikebukuro eki adalah stasiun transit ke arah luar Tokyo khususnya Saitama dan sekitarnya.


Aksi

Information

One response

30 08 2006
las tolun

Terima kasih atas pemberian kaosnya nich”, ucap ruli. “sama-sama” jawab andi. “kaos ini khan andi pake toh, tapi koq malah diberikan kepadaku an?”, tanya ruli. “suatu hari, kira-kira satu bulan yang lalu, pertama kali aku pake kaos ini, kamu bilang kaos ini bagus”, andi berusaha menjelaskan. “jadi saya berikan kepadamu rul, sebagai hadiah”, sambung andi. “Ah kamu nich an, setiap yang aku bilang bagus terhadap kepunyaanmu, mesti kamu hadiahkan kepadaku” protes ruli. “tempo hari kamu memberikan peta dan jalur kereta seluruh jepang, lantaran saat kita ke Hiroshima dengan 18-kippu, kamu membawa peta yang kebetulan aku suka”, sambung ruli mengingatkan andi. “Dan masih banyak lagi hadiah-hadiah yang kamu berikan kepadaku an”, ruli melanjutkan. “Itu sih tidak seberapa dengan apa yang kamu berikan kepada ku, rul”, sergah andi. “pelajaran-pelajaran berharga, pertanyaan sudah berapa ayat aku baca hari ini yang selalu kamu lontarkan, telepon di sepertiga malam untuk membangunkan-ku agar sholat malam, dan masih banyak lagi”, balas andi tidak mau kalah. “Dan ada yang aku suka rul, ungkapan-ungkapan rindu yang kadang menghiasi lidahmu di saat kamu telepon aku rul, tidak pernah aku lupa”, lanjut andi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: