Anak-anakku, Terbanglah Jauh Kemana Engkau Suka

22 07 2010

by Edi SUHARYADI

Fauzan Abdurrahim, anakku yang pertama, kami biasa memanggilnya Faiz. Ia lahir di penghujung tahun 2003 bersamaan dengan turunnya salju yang lembut bak kapas. Lahir saat keadaan “susah” lantaran sang Ayah tidak mendapatkan beasiswa saat baru masuk S3 (cuma bermodal semangat doang ^_^ & part time job di sana sini). Bahagia rasanya ketika ia pertama kali melafalkan kata “Abi”, untuk memanggilku. Ah, itu kejadian yang telah lalu, kini usianya sudah 6 tahun. Tahun ini memulai dunia barunya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Salman Al Farisi Djogjakarta

Hanifah Arraihanah, musim gugur 2005, Hani terlahir ke muka bumi. Kini usianya sdh 4 tahun. Meskipun perempuan, Hani (begitu kami memanggilnya) sepertinya lebih “pemberani” dan “galak” dibadingkan kakaknya, Faiz. Hmmm, mungkin “darah madura” begitu kuat mengalir di dalam tubuh Hani. Kini Hani “menghabiskan” hariannya di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Salman Al Farisi.

Taqi Abdurrahman, umurnya genap 2 tahun. Summer 2008, adalah kali pertama ia “menginjakkan kaki” di planet biru ini. Disambut oleh panasnya Jepang, yang kala itu mencapai 37 derajat. Setelah sebelumnya selama 40 pekan 1 hari, tinggal di “rumah” penuh Rahmah, Rahim namanya.

Saya ingin mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang Cerdas, Kuat dan Berkarakter tangguh, mengajarkannya agar pandai “berbagi dan berempati” sesamanya, menyiapkannya menjadi Generasi Qur’ani yang siap melanjutkan “estafet” Dakwah para orang tuanya.

Saat usia Faiz baru beranjak 2 tahun, tepatnya di tahun 2006 Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk menyelesaikan program Ph.D (S3), sebuah jenjang tertinggi dalam dunia akademik, dan saya peroleh di salah satu Universitas ternama di Jepang, Universitas yang pernah “melahirkan” beberapa penerima hadiah Nobel bidang Kimia & Fisika.

Bagaimana dengan jagaon2 kecil-ku, Faiz, Hani, dan Taqi, Apakah ia kelak akan memperoleh kesempatan yang sama untuk sekolah ke jenjang yang tinggi, Sarjana atau Master misalnya atau bahkan Ph.D?. Saya sebagai orang tuanya, tidak pernah mengkhawatirinya. Karena sesungguhnya ia akan tumbuh dengan potensinya sendiri, dan setiap anak pasti punya potensi yang baragam, tidak hanya terpaku pada kecerdasan scholastic apalagi hanya sekedar pandai Berhitung atau “skill akademik” lainnya. Tapi saya hanya khawatir atas perlakuan “kurang adil” orang-orang sekitar terhadapnya kelak. Kasihan ia, jika ia tidak berhasil sekolah “tinggi”, orang akan mengatakan, “Kok orang tuanya bisa berhasil sekolah tinggi, anaknya tidak?” Tetapi jika ia berhasil sekolah tinggi, orang-orang akan mengatakan, “Oo, tidak heran kalau anak itu bisa berhasil sekolah tinggi, siapa dulu orang tuanya”. Sebuah ungkapan yang sangat tidak bijaksana memang.

Tahun ini, saat kami mengantarkan Faiz & Hanifah untuk mendaftar sekolah di SD & TK, kami orang tuanya tidak mentargetkan bahwa mereka “HARUS” punya prestasi akademik yang sangat gemilang di SD lebih2 di TK. Harapan kami yang paling utama, bahwa melaui SD dan TK tempat anak2 kami sekolah, akan mampu membantu kami orang tuanya, untuk bisa tumbuh menjadi anak (generasi) yang berAhlaq Mulia & Islami, mempunyai Karakter Baik & kuat, Jujur, Mandiri, Bertanggung jawab, Berempati & pandai Berbagi pada sesama, Rendah Hati, Tekun & Pantang menyerah, ttdk egois, Baik dlm Team Work & Leadership (^_^), membantunya untuk menemukan, menggali & mengembangkan potensi dirinya.

Membandingkannya dengan prestasi akademik orang tuanya dulu?? Jangan pernah membandingkan anak dengan orang tuanya, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan prestasi akademik (kecerdasan scholastic), bahkan dengan teman-teman seangkatan, atau teman-teman sekelas-nya sekalipun. Apalagi sistem peringkat atau rangking bagi anak-anak di sekolah kuranglah bijaksana. Selisih nilai yang hanya nol koma sekian akan membuat si A berada di bawah si B. Peringkat di kelas tidak menandakan apa-apa. Seharusnya anak-anak tidak dibandingkan dengan siapapun, tidak dengan teman sekelasnya, tidak pula dengan Bapak-Ibunya. Akan lebih bijak jika anak dibandingkan dengan dirinya sendiri, karena sesungguhnya ia memiliki potensi, biarkanlah ia tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing.

Di era modern ini, tentu saja orang tua dituntut untuk menyiapkan anak agar siap berkompetisi. Teringat sabda Rosululloh: “Didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka akan tumbuh menjadi manusia untuk menghadapi zamannya dan bukan zamanmu”. Akan tetapi, anak-anak tidak bisa disama-ratakan, misalnya di dalam kelas, dengan mengevaluasi “kecerdasannya” dengan parameter yang sama yakni “kecerdasan scholastic”. Bukankan kita sudah sering membaca adanya “multiple intelligence”, yang sepertinya akan lebih manusiawi jika digunakan untuk “menilai prestasi anak”. Dengan menonjolkan salah satu kecerdasan/potensi mereka dan bukan merangkum seluruh kecerdasan dengan parameter seragam, kemudia dinilai. Bisa jadi ada anak yang menonjol potensi olah raganya, atau potensi seninya, good dalam team work, tidak semuanya harus pintar IPA atau Matematika. Dengan penerapan “multiple intelligence”, anak-anak akan tumbuh dengan nyaman sesuai dengan potensinya, tumbuh tanpa tekanan, anak diajak “berkelana” mengenali potensi mereka sendiri. Sang anak bisa jadi mempunyai kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal. Jangan pernah mengabaikan kecerdasan-kecerdasan internal seperti itu.

Itu mungkin hanya angan-angan saya saja. Kita mungkin akan merasa rendah, manakala anak kita tidak bisa mencapai peringkat 10 besar di kelasnya, atau nilai IPA & Matematikanya rendah, tidak bisa sekolah tingi, kita akan marasa rendah jika anak kita tidak berprestasi dalam arena perlombaan Olimpiade Sains. Dan kita mungkin biasa-biasa saja, mana kala anak tidak memiliki kecerdasan intra maupun inter-personal, tumbuh menjadi pribadi yang egois, manja, suka berbohong, tidak bisa bergaul, sombong, suka menipu, suka ngejekin temennya, lemah dalam team work, dan sebagainya.

Sudah waktunya untuk menerapkan “multiple intelligence” untuk mengevaluasi prestasi sang anak, hal ini akan lebih adil dan bijak. Jika anak-anak dihargai dan diberi nilai lebih, apapun bentuk potensinya, mereka akan tumbuh optimal dan percaya diri.

Untuk anak-anak-ku, terbanglah tinggi kemana engkau suka, bangunlah mimpi dalam diri kalian, engkau mungkin akan terbang laksana burung Camar yang pandai berkicau, atau sebagai Elang yang perkasa, atau laksana burung Gereja yang pandai bergaul, atau sebagai Bangau sang penjelajah.





Ikrar Suci di Bulan Mei

4 06 2008

Subhanallah, Walhamdulilah, akhirnya selesai sudah “mantu”-nya. Ahad, 11 Mei yang lalu, di ruang berkapasitas 100 orang telah berlangsung acara Akad Nikah dan Walimatul Urs’. Jauh dari orang tua, membuat kami, para temen-temennya sibuk sejak persiapan sampai dengan mengantarkan mereka ke tempat bulan madu di malam pertamanya.

Akhir maret yang lalu mereka berdua menyatakan diri siap menikah. Selanjutnya, dipertemukan pada pertengahan April di rumahku. Dan Alhmdulillah, semuanya berjalan lancar. Pada 1 Mei keluarga ikhwan dari Tangerang mendatangi keluarga akhwat di Sumedang untuk mengkhitbah, tanpa ditemani kedua calon mempelai, dan akhirnya bermuara pada Ahad 11 Mei saat ikrar suci diucapkan, berbekal surat pelimpahan/penyerahan wali dari orang tua/ayah kandung sang akhwat di atas kertas bermaterai plus dokumen lainnya dari kantor keluarahan setempat.

Ini adalah kali pertama seorang temen “berani” menikah di Nagoya Jepang, dan Alhamdulillah, akhirnya yang lainnya-pun “terprovokasi”. Sekarang sedang “mengantongi” 3 proposal pernikahan dari temen yang lainnya……Siapa berani??.

Foto pernikahan ada di sini: http://www.flickr.com/photos/26689445@N05/
Undangan pernikahan ada di sini: http://benitita.wordpress.com/

Berikut hasil reportasenya:

IKRAR SUCI di BULAN MEI
oleh Sunu Hadi (MC saat acara pernikahan & ketua FLP Jepang)

Mahkota sakura gugur sudah
Nyanyian musim berganti, pula rentang bertenggernya mentari
Pun hari ini keduanya menyapa ramah
Senada cahaya pagi yang merekah
Seiring kicau burung mengiring langkah
Selaras tasbih dan tahmid yang bergairah
Serasi goyangan tangkai doa yang menggandeng berkah

Hari ini saya turut menjadi saksi :
Sebuah Ikrar suci di bulan Mei
*+*+*+*+*+*

Sejak pagi senyum seolah tak mau wajah ini. Semalam saya sedikit menggigil, suhu udara bulan Mei yang merangkak naik tiba-tiba turun kembali. Langit pun muram, menumpahkan garis-garis air yang berlomba jatuh ke bumi. Namun hari ini beda. Tak ada lagi guyuran air, tak ada mendung kelabu yang bergelayut, tak ada payung-payung bermekaran di jalanan. Hari ini begitu cerah, matahari bersinar dengan lembut tanpa menyengat.

Saudara saya menikah. Seorang saudara, meski tak ada hubungan darah. Dia berani mengucapkan ikrar sakral yang juga disebut Mitsakon ghalidza, perjanjian yang berat. Perjanjian dengan Allah, yang saya lihat, yang kami dengarkan, dan insyaAllah disaksikan pula oleh para malaikat. Kali ini saya mendapat kesempatan menjadi MC, belajar berbicara di depan khalayak sambil menambah wawasan. -huhu, maklumlah jomblo-

Acara pernikahan di Jepang menurut saya mudah, praktis, tidak harus mengikuti adat (karena tidak ada yang menguasai tatacara adat?), tidak bertele-tela dan padat. Satu lagi, kentalnya ukhuwah sangat terasa. Saudara-saudara seiman saling sokong, saling bantu. Ada yang membawakan kue, cemilan, bunga, poster, dan berbagai persiapan lainnya. Tak ada orang tua atau keluarga asli kedua mempelai, hanya kamilah keluarga mereka di negeri ini. Untuk itulah saling membantu sudah menjadi kewajiban. Dan prosesi pernikahan kali ini tetap khidmat dan indah dalam kesederhanaan.

Tak percaya dengan susunan acara yang mudah dan padat? Berikut urutannya :

1. Pembukaan oleh MC (Puji syukur, sholawat, kata-kata pembuka)
2. Pembacaan ayat suci Al Quran (Q.S. AnNisa 22-23)
3. Sambutan wakil keluarga
4. Nasihat pernikahan
5. Ijab Qabul
6. Doa
7. Walimatul Usr : Sebelumnya, mempelai laki-laki berdiri di depan deretan uandangan pria, menerima ucapan selamat. Mempelai wanita juga sama, tapi di depan undangan wanita. Setelah itu, undangan dipersilakan mengambil hidangan, bersantap, lalu pulang.
8. Foto bersama, setelah undangan pulang.

Tuh khan? Mulut saya tidak perlu berbusa untuk memandu acara. Tak ada kata-kata untuk menyambut mempelai memasuki ruangan, karena acara dimulai setelah kedua mempelai berada dalam ruangan. Tak ada kalimat untuk mengatur urutan orang yang mau berfoto, karena kedua mempelai baru foto bersama setelah para tamu pulang. Tapi kaum hawa tentu saja boleh mengambil gambar bareng mempelai wanita, dan kaum adam pun bebas berfoto dengan pria hari ini. 0^_^0

Ada satu saat yang begitu berkesan. Acara inti hari ini, ijab qabul, pernyataan janji dihadapan Allah.

Kata-kata yang mampu meruntuhkan mahligai hati terucap. “Saya terima nikahnya…. “. Dilafalkan dengan begitu mantap. Diperdengarkan secara online kepada keluarga di Indonesia, diperdengarkan kepada hadirin dan dunia! Sebuah ikrar yang berat dengan tanggung jawab mulai dikeluarkan dari lisan hingga habis sisa umur. Disusul kata-kata “Sah!” , diikuti doa “barokallahu laka wa baroka `alayka wa jama`a baynakuma fi khayr” , disusul lantunan tahmid. Lalu cahaya blitz berlompatan dari kamera layaknya saat artis menggelar jumpa pers. Lalu saya melihat airmata haru. Lalu saya menyaksikan senyuman terindah. Lalu saya tahu dari pria hari ini, dia merasa di awang-awang saat mengucapkannya. Tapi dia bisa melantunkannya sekali. Hanya sekali. Ikrar itu tidak diulang hingga dua kali . Yah, mungkin bukan pikiran, tapi kekuatan niat dan hati yang berperan. Allah telah mencurahkan secercah karunianya hari ini melalui cuaca, dan semoga karunianya senantiasa tercurah pada mempelai berdua terhitung sejak siang sebelas Mei.

Setengah jam sebelum sewa gedung ruangan berakhir, panitia membereskan tempat, mengelap meja, menata kursi seperti sedia kala. Acara pun berakhir sekitar 3 jam setelah saya buka.

Selamat untuk Beny Herlambang dan Tita Tirawati!

Mungkin mulai sekarang akan lebih berat. Akan banyak bermunculan sesuatu yang baru. Butuh perencanaan dan adaptasi. Rencanakanlah dengan baik, karena gagal merencanakan artinya merencanakan gagal. Harapan mulai mengangkasa, kemudi sudah berada dalam genggaman. Siapkan diri, kejar harapan, raih keberkahan. Gapai mimpi-mimpi yang beterbangan!

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah dan memberi rasa aman bagi umat.
(Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib)





Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami !

21 02 2008

Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami !
(Renungan di tengah Perjalanan dakwah)

Oleh: Farid Nu’man

Mukadimah

Dalam sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, “Akhi, berapa penghasilan Antum sebulan dari mengajar?” Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya. Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, “150 ribu sebulan.” Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.

Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktifis dan banyak amanah da’wah yang dia emban. Ia hanya berpenghasilan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.
Itulah ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita, bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.

Syahdan, di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup, bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya, memberikan ilustrasi keunggulan `mewah’, bukan sekedar bercerita kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan untuk melegitimasi pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah dan sebagainya, karena ia sudah merasakannya. Lalu, kemana dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mau tahu?

Tak usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang urgen. Kaya memang penting. Mayoritas para sahabat yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan istri kami … Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang shalih, hamba yang bersyukur terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami menjadi pribadi yang apa adanya menurut Al Quran dan As Sunnah, bukan pribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami `lupa’ diajarkan tentang masalah kekayaan dalam silabus tarbiyah kami, karena hakikat kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sehat, dan jangan memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.

Tetapi Ya Syaikh …, kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal yang sama yakni harta, tetapi ia berbeda secara nilai yakni mentalitas. Mentalitas aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan menengah ke atas. Tak ada kamus aji mumpung dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mau mudah sekali mendapatkannya. Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan berleha-leha ketika ada saudaranya kesulitan? Justru mereka menampakkan kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..

Khadijah seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia abiskan untuk perjuangan suaminya, bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekedar melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu `Anha. Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang, justru melambung tinggi, karena Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini ?

Untuk contoh masa sekarang adalah Usamah bin Ladin -setuju atau tidak dengan ideologi dan segala upaya jihadnya- ia adalah seorang kaya raya, bahkan sangat kaya, kalau dia mau bisa saja CNN dibelinya. Tapi, dia hidup amat sederhana, makan seadanya, dia serahkan kekayaannya untuk membiayai perjuangannya. Bukan mencari kekayaan dari perjuangan, bukan mencari biaya hidup dari perjuangan. Itulah letak kewibawaan.

Rasulullah dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita … selamanya. Kami tidak butuh teladan yang lain, walau ia berilmu, senior da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.

Kesederhanaan Adalah `Izzah

Ada sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang baru, bisa diterima dengan baik. Sudut pandang materialis kapitalis ini, satu-dua contoh kasus bisa saja benar, bahwa jika Anda bergaul dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan `hanya’ motor bebek atau mobil seken, lalu Anda kurang dianggap, kurang `berharga’ dimata mereka. Bisa saja itu terjadi, dan bisa pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahwa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini. Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, karena taqwa dan keshalihan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau bisa juga fitnah.

Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali, tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk. Justru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan karena kekayaan dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu `Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang `tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya. Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah, dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana di lingkungan yang `tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan. Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya. Inilah sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justru latah, ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bedanya dengan hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda tipis) dengan mereka.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu `Anhu dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. ” Maka Ia bersabda: “Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu. ” (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits no. 1285. Cet 1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya

Da’wah ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill, kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang, sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran, popularitas, kekayaan, jabatan, wanita, walau ini mampu disembunyikan dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat. Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.

Dari `Aisyah Radhiallahu `Anha berkata: Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan ada tentara yang menyerang Ka’bah, akan tetapi ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua dibinasakan, dari awal sampai akhirnya.”
`Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka, yaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?“Rasulull ah menjawab:
“Mereka dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. ” (HR. Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)

Jadi, amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu `Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)

Kami Tidak Mengharamkan Perhiasan Yang halal dari Allah!

Jika ada yang menyangka, ini adalah sikap sok suci, sok tidak butuh kekayaan, apalagi disebut iri, maka ia amat keliru.
Kami meyakini, setelah iman yang mendalam dan amal yang terus-menerus, maka da’wah membutuhkan kekuatan, di antara kekuatan yang urgen hari ini adalah dana. Tentunya, orang yang tidak memiliki harta tidak bisa memberikan kekayaan. Bertemunya keimanan dan kekayaan, akan membentuk pribadi yang dermawan.

Namun yang menjadi tema dan sorotan kami adalah gaya hidup para da’i yang mengalami sock budaya, OKB, Orang Kaya Baru, lalu dia demonstratif dalam hal itu. Dia lupa bahwa dirinya berada di lingkungan da’wah, dan para ikhwah yang kebanyakan `tidak seberuntung dia’. Para Ikhwah yang hidupnya kembang kempis.

Bergesernya orientasi da’wah ilallah menjadi da’wah `Road to Senayan’, `Road to Kekayaan’, inilah yang harus disorot dan diwaspadai. Sesungguhnya, peringatan itu bermanfaat buat orang-orang beriman. Namun bagi yang sulit menerima nasihat, hatinya kesat, maka kami katakan:

Berpestalah … bersenang-senanglah … dan lakukan semua kehendakmu …. Anda bebas saudaraku… Tetapi, pesta pasti berakhir itu pasti ….

Kami juga meyakini, bahwa secara nilai normatif, banyak yang lebih faham dari kami tentang ini, lebih faqih, lebih berpengalaman, lebih cerdas, lebih pandai, lebih tahu masalah, pokoknya segalanya di atas kami ….
Tetapi, yang kami (para kader da’wah) minta adalah jangan ajarkan kami kemewahan, sebab itu bukan cita-cita, obsesi, dan ambisi kami … jangan contohkan kami perilaku yang dahulunya sama-sama kita benci, sebab itu kabura maqtan … dan jangan paksa kami untuk mengikuti jejak perilaku dan pemikiran yang Anda iklankan ….
Semoga hidayah dan bimbingan Allah Ta’ala selalu menyertai kita semua .. Amin

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Isra’ : 18-19)

Wallahu A’lam wa Illahil `Izzah





Teman-teman Pilihan

24 10 2007

Rosululloh SAW bersabda: “Andai manusia mengetahui apa yang akan dialami seseorang jika ia seorang diri, niscaya tak ada orang yang menempuh perjalanan seorang diri” (Fath al Bary, 6/138).

Ar-rafiiq qabla thariiq, itulah sebuah ungkapan yang sangat penting ketika seseorang memulai untuk menempuh sebuah perjalanan, bermakna “Memilih teman sebelum memulai perjalanan”.

Para penempuh “perjalanan Dakwah”, pada hakikatnya sama saja dengan penempuh perjalanan pada umumnya yang memerlukan teman perjalanan sebagai teman bicara, berdiskusi, saling berbagi suka dan duka, saling memikul kesulitan selama perjalanan, menjadi penasehat ketika lemah, pelipur lara ketika sulit, pelindung saat ketakutan mencekam, pendorong saat lemah.

Perjalanan Dakwah ini, juga dikiaskan dengan perjalanan dalam urusan lain yang juga membutuhkan teman-teman sejati. Terilhami oleh salah satu syarat perjalanan, yakni Ar-rafiiq Ash Shaalih (teman yang biak). Di jalan Dakwah ini, kami secara otomatis tergabung dalam kebersamaan setelah berbagai tahapan seleksi. Seleksi yang paling dominan adalah tabiat kehidupan, dan perjalanan ini telah menyeleksi kami dan saudara-saudara kami, secara tidak langsung. Ragam ujian, cobaan, berbagai fitnah, godaan, dan rayuan di perjalanan ini yang telah menyeleksi saudara-saudara kami.

Sehingga akhirnya, lantaran seleksi tadi, kami dapati saudara-saudara di jalan Dakwah saat ini adalah mereka yang InsyaaALLOH bias saling membantu untuk mencapai cita-cita perjalanan ini. Semoga merekalah yang disebut sebagai Ar-rafiiq Ash-Shaalihah.

Dan,
Kami bersyukur berada di Jalan ini, Jalan yang dipenuhi oleh teman-teman pilihan, lantaran mereka telah melewati berbagai seleksi yang secara tdk langsung kami rasasakan selama menempuh perjalanan ini.





Industri iPod dan Pemenang Hadiah Nobel Fisika 2007

22 10 2007

Industri iPod dan Pemenang Hadiah Nobel Fisika 2007

[tulisan ini telah dimuat di portal Berita Iptek http://www.beritaiptek.com/ ]

Hadiah Nobel untuk tahun 2007 di bidang Fisika telah diberikan kepada ilmuwan di Prancis dan Jerman pada 9 Oktober yang lalu. Mereka, pasangan Albert Fert (Paris-Sud University, France) dan Peter Gruenberg (The Research Center of Solid State Physics, Germany) berhak menerima sejumlah uang sebasar 1.5 juta US dolar, sebagai penghargaan terhadap pekerjaan mereka menemukan fenomena Giant Magneto Resistance (GMR).

Pada awal tahun 2007 mereka juga menerima The Japan Prize, dalam katagori yang sama dengan saat mereka menerima Nobel Prize, yaitu: The discovery of Giant Magneto-Resistance ( GMR) and its contribution to development of innovative spin-electronics devices (ref.: http://www.japanprize.jp/prize/prize_e1.htm ).

Fenomena GMR

Fenomena GMR atau Giant Magneto-Resistance yang sebelumnya lebih popluler disebut sebagai Magneto-Resistance (MR) ditemukan pada tahun 1988 oleh pasangan A. Fert dan P. Guenberg. Secara sederhana adalah fenomena fisika pada material, dimana jika medan magnet (M) dengan perubahan medan yang sangat kecil/lemah dikenakan pada suatu material, maka akan muncul perubahan electric-resistance (R) yang luar biasa besar pada material tersebut. Pada generasi awal, Magneto-Resistance (MR) yang memunculkan istilah sensor magnetic hanya digunakan untuk mendukung teknologi Hard Disk Drive (HDD) tepatnya sebagai MR read-sensor head yaitu piranti untuk membaca informasi/data pada Hard Disk.

Sebuah Hard Disk menyimpan data digital sebagai titik magnetik pada permukaan sebuah disk yang disebut bit. Sebuah bit (dimana data akan dikomposisikan sebagai bit) menyatakan nilai 0 saat disk dimagnetisasi pada satu arah, dan bernilai 1 bila arahnya berlawanan. Dan perubahan arah magnetik pada setiap bit akan diterjemahkan sebagai kombinasi 0 dan 1.

Satu bit akan menyimpan satu informasi dalam bentuk angka biner kombinasi 1 dan 0. Proses pembacaan data/informasi (kombinasi angka biner 0 atau 1) berawal dari munculnya medan magnet yang berasal dari perubahan orientasi arah magnetic pada setiap bit. Medan magnetic tersebut kemudian terekam oleh MR sensor melalui perubahan electric-resistance (R)-nya akibat adanya induksi magnetik.

Sejak ditemukan fenomena GMR, aplikasi MR sensor tidak hanya digunakan sebagai pelengkap piranti pada HDD komputer saja. Penemuan GMR material menjadi awal untuk melakukan trobosan secara total pada teknologi hard disk berbasis nano teknologi. Dengan sensivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan medan magnetik sekecil apapun, fenomena GMR berbuah pada pengembangan Hard Disk Drive (HDD) berukuran sangat kecil dengan kapasitas tinggi dan proses transfer data/informasi dengan kecepatan tinggi.

Sehingga sekarang HDD tidak hanya digunakan sebagai piranti komputer. Ukurunnya yang semakin kecil, teknologi HDD telah merambah teknologi audio-visual portable. Industri IPod and HDD-pocket tidak mungkin muncul tanpa penemuan GMR. Handycam, Car Navigator, dan Mobile Phone adalah beberapa contoh industri elektronika yang sekarang telah menggunakan HDD.

Dan yang tak kalah pentingnya dari penemuan fenomena GMR ini, adalah fenomena ini seakan menjadi pintu masuk atau inspirasi terhadap munculnya istilah/fenomena baru yaitu “Spin Electronics” dengan beragam kajian serta aplikasinya. Jika selama ini kajian elektonika dan turunan serta aplikasinya (semikonduktor, superkonduktor, konduktor, Insulator, dan lain lain) selalu berawal dari fenomena keberadaan elektron (yang berputar mengelilingi proton).

Maka dalam Spin Electronics adalah fenomena Spin pada elektron, yakni perputaran Elektron pada sumbunya sendiri telah memunculkan bermacam kajian dan aplikasi, selain GMR, ada juga TMR (Tunneling Magneto-Resistance) untuk aplikasi MRAM (Magnetic Random Acces Memory) yang di masa depan akan mampu menggantikan berbagai Teknologi Memory berbasis Semikonduktor (seperti RAM pada komputer, Flash memory, memory card, dan lain-lain)

Edi Suharyadi, Staf pengajar di Jurusan Fisika UGM, Peneliti pada Institute for Science and Technology Studies (ISTECS), bidang kajian Magnetic Nanostructures dan aplikasinya untuk Hard Disk Drive (HDD) devices. Email: esuharyadi at yahoo.com





Mengapa Kami Berada di Jalan Dakwah?

10 10 2007

Mengapa kami berada di Jalan Dakwah?,
Seakan tak ada waktu satu detikpun untuk meninggalkan jalan tersebut. Setelah sekian lama mengembara, berjalan, menapaki jalan Dakwah, pertanyaan seperti itu selalu penting untuk kami renungi.

Tentu banyak sekali uraian alasan terhadap pertanyaan ini. Kenapa Jalan Dakwah seolah menjadi pilihan jalan kami yang utama?. Sesungguhnya Jalan Dakwah adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang melebihi sekedar merasakan bahwa jalan ini merupakan kewajiban kami. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini merupakan bagian dari rasa syukur kami atas hidayah ALLOH kepada kami.

Jalana Dakwah, telah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan Dakwah. Lalu kebersamaan dengan al-akh saudara kami di jalan ini, semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam kehidupan, baik di dunia terlabih lagi di akhirat.

Kami semakin mendalami pesan Rosululloh SAW, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk ALLOH, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka” (HR Muslim).

Ada banyak orang-orang mulia, kaum muslimin para pendahulu kami yang telah menuai pahala begitu banyak karena asbab mereka kami mengenal Islam secara “utuh” dan telah mengantarkan kami mengimani agama ini. Ada banyak para pendahulu kami di Jalan Dakwah yang memperoleh nilai pahala besar kerena upaya mereka membimbing kami untuk melangkah di jalan ini.

Kami ingin seperti para pendulu kami di jalan ini yang telah banyak memperoleh keridhaan ALLOH karena peran-peran dakwah-nya. Dan karena itulah, kami memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak ada mahluk ALLOH yang mendapatkan dukungan Do’a dari seluruh mahluk-Nya, kecuali mereka yang menguapayakan kebabaikan dan berdakwah. Rosululloh SAW bersabda “Sesungguhnya ALLOH, para Malaikat, semut yang di dalam lubangnya, bahkan ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi).

Alasan lain adalah karena Dakwah akan menjadi penghalang turunnya azab ALLOH, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa [QS Al-A’raf 165]

Inilah yang disabdakan Rasululloh SAW tatkala Zainab ra. bertanya, “Apakah kita akan diazab oleh ALLOH, sedangkan di antara kita ada orang-orang Sholih?”, Rasululloh menjawab, “Ya, jika keburukan itu sudah mendominasi” (Muttafaq ‘alaihi).

Kami berharap agar keberadaan kami di Jalan Dakwah ini, merupakan salah satu langkah menyelamatkan diri sendiri dan manusia dari azab ALLOH. Bukan hanya azab yang berupa musibah, TAPI termasuk azab ALLOH berupa keterhinaan, kerendahan izzah, hingga keterjajahan umat Islam di dunia ini

Adakah orang-orang yang akan bergabung bersama kami menempuh Jalan ini????





Untukmu Para Penyeru Kebenaran,

18 06 2007

Qum, Faanzir!
Bangkit dan berdirilah, susun barisan dan kekuatan. Barisan dan kesatuan Umat. Kobarkan semangat dan seruan. Seruan kepada kebenaran dan peperangan terhadap kebathilan. Gemakan sentiasa Kalam Ilahi, kumandangkan selalu suara dan seruan kebenaran. Hingga seruan itu sampai kepada setiap manusia. Gempitakan kepada dunia dan kepada manusia ajaran agama Tauhid, ajaran Cita dan Cinta.

Worabbaka fakabbir!
Besarkan Tuhanmu, di atas segala! Tak ada menyamai KebesaranNya. Tiada kekuasaan yang menyamai KekuasaanNya. Tiada urusan atau kepentingan yang lebih daripada urusan dan kepentingan menjalankan perintahNya. Semuanya kecil dihadapan Allahu Akbar. Fana, lenyap dan binasa segala dalam ke BaqaanNya. Tiada harapan selain kepada RidhaanNya belaka. Tiada kesulitan apabila ruh telah bersambung dengan Allah. Semuanya akan mudah bagiNya.

Wathiabaka fathahhir!
Bersihkanlah dirimu, lahir dan batinmu! Hanya dengan kesucian ruh, Amanah dan Risalah ini dapat engkau jalankan. Risalah dan Amanah ini adalah suci. Dia tidak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, jiwa yang berlumur dosa dan noda. Hanyalah dengan kesucian ruh engkau dapat memikul tugas dan beban berat Dakwah ini. Thahirum muthahir, suci dan mensucikan, itulah peribadi Mukmin yang sejati. Tangan yang berlumur darah maksiat tidak mungkin akan akan mampu berbuat kebaikan kepada dunia dan manusia. Jiwa yang kotor dan penuh dosa tidak mungkin akan memberikan isi dan arti dunia dan manusia.

Warrujza fahjur!
Jauhilah maksiat, Dosa itu akan menodai dirimu, akan menghitamkan wajah-hatimu. Engkau tidak akan sanggup menghadap, jika mukamu tebal dan hitam dengan dosa dan maksiat, Namamu akan cemar dihadapan Rabbul Izzati kalau laranganNya tidak engkau jauhi. Bersihkanlah dirimu, keluargamu, masyarakat, bangsamu dari kemaksiatan dan kemungkaran. Makruf yang harus tegak dan mungkar yang harus tumbang, adalah program perjuanganmu. A1-Haq yang harus dimenangi dan bathil yang harus dibinasakan, adalah acara dan jihadmu.

Wala tumnun tastakthir’!
Janganlah engkau memberi karena harap balasan yang banyak! Jalankan tugas ini tanpa mengharapran balasan dan ganjaran dari manusia. Menjalankan tugas adalah berbakti dan mengabdi, tidak mengharapkan balasan dan pujian, keuntungan benda dan material. Kekayaan manusia tidak cukup untuk “membalas” kerja Dakwahmu yang tidak ternilai itu. Jalankan tugas ini karana hanya mengharapkan keRidhaan Allah.

Walirabbika fasybir!
Karana Tuhanmu, hendaklah engkau sabar! Lakukanlah tugas dakwah ini dengan segala kesabaran dan keteguhan. Sabar menerima musibah yang menimpa, ujian yang datang silih berganti. Sabar menahan dan mengendalikan diri. Tidak putus asa dan hilang harapan atau kecewa melihat hasil yang ada atau tidak seimbangnya hasil dan pengorbanan yang diberikan. Hanya dengan Sabar akan menyampaikan engkau kepada tujuan.