Silahkan antum “tata niat” ketika antum datang ke Liqo’. Jika hanya untuk mendapatkan “materi/tasqif” dari saya (sbg Murobbi) sebaiknya antum “pulang” saja, saya print-kan materinya dan silahkan antum baca sendiri di rumah, jika ada yang “nggak” ngerti silahkan antum diskusikan dengan saya………….dst…..dst…
Sebuah Otokritik: TSIQAH atau TAQLID?
6 02 2007Istilah Taqlid (kadang ditambah menjadi Taqlid buta) sering “ditempelkan” kepada orang-orang NU yang tinggal di Kampung, lantaran “ketaatan” mereka kepada sosok Kyai-nya, tanpa mau “mempersoalkan” sang Kyai tersebut benar atau salah.
Istilah Tsiqah atau Kepercayaan, salah satunya dapat dijumpai dalam salah satu rukun Bai’at Imam Syahid Hasan Al-Banna. Dijelaskan bahwa Tsiqah adalah: “rasa puasnya/relanya seorang jundi (prajurit/anggota Jamaah) terhadap Qiyadah (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan”.
Komentar : 10 Komentar »
Kategori : Isu
Perjumpaan di Awal Tahun Baru 2007
24 01 2007Alhamdulillah, setelah hampir 5 tahun, akhirnya ALLOH memberi kesempatan kepada saya untuk mengunjungi Masjid Kobe, masjid tertua di Jepang, untuk kedua kalinya. Tepatnya pada pelaksanaan Sholat Ied ul Adha 31 Desember 2006 yang lalu.
Ada yang membuat saya “terharu” saat mengunjungi Masjid yang dibangun sekitar tahun 1930 ini. Jika 5 tahun yang lalu, saat pertama kali saya mengunjungi masji Kobe, saya sempat bertemu dan berpose bersama dengan sang Imam Masjid, yakni Br. Imam Mohsen. Maka pada kunjungan yang kedua ini, saya bertemu dan berpose dengan Imam Masjid tak lain dan tak bukan, Br. Imam Mohsen, Imam Masjid yang yang pernah saya jumpai 5 tahun lalu.
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Perjalanan
Catatan: Sebuah Kenangan di Spring 2002
22 01 2007Hmmm, mengenangnya dapat menumbuhkan semangat…
Catatan ini bercerita tentang seorang kenshusei, seorang “pemuda Islam”, yang harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan medan yang tak mudah untuk sekedar bersilaturahmi mengunjungi saudaranya yang lain untuk saling bertausyiah. Kesaamaan Aqidah telah cukup untuk memberikan “energi”, guna menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Tempat tinggalnya yang sangat jauh, yakni di kaki gunung Fuji, tak membuatnya “patah semangat” untuk “mengunjungi” saudara-saudaranya di Tokyo, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Dan hal itu berlangsung paling tidak 2 kali dalam sebulan.
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Nostalgia
Kadang Kita Siput
26 12 2006Afwan akhi, ane telat datang nich,
Akh, Sabtu-Ahad depan ada undangan daurah,
Acara liqo’-nya dimajukan besok lusa akh,
Hmmm, tiga contoh ungkapan di atas kadang datang menghiasi telinga kita. Datang telat saat acara liqo’, pemberitahuan acara yang serba mendadak, atau sejenisnya. Sungguh disayangkan ketika semua peristiwa di atas ikut “menghiasi” agenda yang begitu pentingnya, yakni dakwah, apalagi muncul dari pelaku yang menyandang sebutan “kader dakwah”.
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Curhat
Profil Da’i Abad 21
17 11 2006Tulisan ini secara khusus dipersembahkan kepada mereka yang telah mengazamkan hidupnya untuk dakwah.
Arus dakwah seakan semakin tak terbendung. Ia mengalir laksana aliran air yang memenuhi setiap “lorong” kehidupan, tak terkecuali “lorong” yang bernama Politik. Mengaliri lorong yang yang satu ini, seakan banyak memberi pengharapan terhadap apa yang namanya “perubahan”.
Komentar : 2 Komentar »
Kategori : Isu
Internasional Ramadhan di Masjid Nagoya
1 11 2006Internasional Ramadhan di Masjid Nagoya
Sumber: KORAN TEMPO, Jum’at, 20 Oktober 2006
Berbuka puasa bersama di lantai empat Masjid Nagoya membuat Wawan Wahyudi girang sekaligus merindukan suasana Ramadan di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. “Dua kali bulan puasa saya jalani di Jepang,” ujar lajang berusia 26 tahun ini pada Ahad lalu.
Wawan seorang pekerja magang (kenshusei) di sebuah perusahaan pembuat suku cadang mobil di Nagoya, ibu kota Prefektur Aichi, Jepang. Masjid Nagoya terletak di kawasan Honjin, Distrik Nakamura.
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Nostalgia
Terminal itu Bernama Canda
17 10 2006Dari waktu ke waktu kaki ini aku kayuh. Kadang aku berlari untuk mencapai target, yakni tuntutan dakwah yang tak mungkin aku tunda. Tubuhpun mengeluarkan peluh, kepenatan dan keletihan. Tetesan air mata kadang harus kutumpahkan untuk tujuan dakwah yang aku perjuangkan.
Perjalanan ini adalah perjalanan yang melelahkan. Lelah fisik bahkan jiwa dan pikiran. Maka akupun membutuhkan terminal-terminal tempat beristirahat. Tempat aku merasakan “kegembiraan” bersama, melepaskan ketegangan, dan meregangkan otot dan persendian. Bak peristirahatan seorang prajurit, menurut Syaikh Jasim Muhalhil al Yasin. “Prajurit dakwah” membutuhkan waktu untuk beristirahat dan selanjutnya kembali ke medan laga. Salah satu terminal peristirahatan itu adalah “terminal Canda”.
Di jalan dakwah ini, aku mempunyai ruang untuk tersenyum dan tertawa. Inilah salah satu “bumbu” kebersamaan dengan para al-akh “prajurit dakwah” yang lain untuk menumbuhkan kembali semangat. Sebagaimana Rosululloh SAW pun memiliki ruang-ruang canda dan tawa dengan para sahabatnya. Hingga Imam As Suyuti ra. menyebutkan salah satu sifat Rosululloh SAW dengan istilah “ad-dhahuuk al-qattaal”, yakni orang yang sering tersenyum tapi mampu berperang.
Keseriusan para sahabat dalam berdakwah dan berjihad, besarnya perhatian para salafusshalih dalam memerangi kemungkaran dan menekuni ilmu, tidak menjadikan mereka bak orang yang tak mengenal senyum dan tertawa. Meski demikian, catatan perjalanan para “prajurit dakwah” generasi awal itu bukan berarti porsi canda menjadi dominan dalam kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mampu menempatkan sikap-sikap canda sesuai kebutuhannya. Ibarat “bumbu kehidupan”, canda dibutuhkan untuk “membangun” kebersamaan dan mencairkan “ketegangan”.
Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran tentang kebutuhan jiwa untuk istirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Lantaran “canda dan tawa” yang tidak proporsional dan “keterlauan” hanya akan berakibat hati akan “mengeras”, dan sulit “menerima” kebenaran.
Pertemuanku dengan al-akh “prajurit dakwah” di jalan dakwah ini, sering diwarnai dengan canda, senyum dan tawa. Meskipun interaksi untuk sebuah “urusan” atas nama dakwah sangat memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat. Semuanya tak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa. Canda yang berkembang di antara para “prajurit dakwah” bisa memberikan energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran, berfungsi menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan.
Ada ungkapan Ibnu Umar ar. tentang para Sahabat Rasululloh, ketika ia ditanya, “Apakah para Sahabat Rosululloh itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.
Terakhir, aku jadi teringat sebuah tulisan seorang al-akh, Abu Farwah, yang berjudul: “Ketika Ikhwan Tersenyum: Kumpulan Anekdot dan Kisah-kisah Unik di Sekitar Aktifis Dakwah”. Tulisan tersebut berisi kumpulan cerita-cerita lucu yang sering menghiasi keseharian aktivis dakwah dalam koridor “kegiatan dakwah”. Di bagian pengantar, Abu Farwah menuliskan ungkapan sebagai berikut:
Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khotob memilih untuk tetap eksis hidup di dunia ini adalah: Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya adalah kenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yang hari-harinya di penuhi dengan keindahan ukhuwah. Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari para aktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau sebuah komunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan elegan. Jauh dari kesan kaku, kolot, galak dan beku. Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucu atau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka. Apapun, harapan agung penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkan ukhuwah di antara kita. Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebih tulus senyum dan sapaan kita. Agar kita lebih siap menyambut pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Karena agenda dan proyek-proyek kita, jauh lebih padat dari jatah usia masing-masing dari kita. Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum. [Abu Farwah, Khartoum Mei 2004].
Demikian, semoga essai “Terminal itu Bernama Canda” ini bisa memberikan manfaat kepada mereka yang telah mengazamkan hidupnya untuk dakwah. Bahwa dengan senyum dan canda akan mampu memberikan semangat dan energi baru guna melanjutkan perjalanan yang jauh dan tak berujung ini.
Wallahu’aklam Bissawab
Maraji: Sebagian dari isi tulisan ini disarikan dari salah satu sub-bab buku berjudul “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”.
Komentar : 6 Komentar »
Kategori : Ibrah
Komentar Terakhir