Silahkan antum “tata niat” ketika antum datang ke Liqo’. Jika hanya untuk mendapatkan “materi/tasqif” dari saya (sbg Murobbi) sebaiknya antum “pulang” saja, saya print-kan materinya dan silahkan antum baca sendiri di rumah, jika ada yang “nggak” ngerti silahkan antum diskusikan dengan saya………….dst…..dst…
Dalam suasana “santai” penuh “kehangatan”, kalimat di atas mengalir begitu saja dari lisan saya……….
Sekilas, ungkapan di atas sekedar “guyonan santai” belaka, sebagai “penghias” obrolan saat “pertemuan” rutin ber-cover “Liqo’at Tarbiyah”. Ungkapan santai, tapi saya telah “memikirkannya” sebelum ia mengalir keluar dari lisan saya.
Di lapangan , tidak jarang ditemukan bahwa “Liqo’at Tarbiyah” hanya sekedar proses “Transfer Materi” dari Murabbi kepada binaan, dst. Di era “buka-bukaan” ini, Liqo yang sekedar proses “Transfer Materi”, sudah tak relevan lagi. Banyak sekali “materi-materi Tarbiyah” bisa dijumpai di tempat umum bahkan bisa dibeli di mana saja laksana “kacang goreng”. Liqo’ bukanlah segalnya, tapi dari Liqo’ berawal segalnya.
Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika ada 4 hal yang hendak di capai dalam “Aktvitas Tarbiyah”. Dan 4 hal itulah sebagai “starting point” bagi setiap kader ketika ia memulai untuk “bergerak”.
Ke-4 capaian dalam “Aktivitas Tarbiyah” adalah:
1. An-Tansyi’ah (Pembentukan)
Yang mencakup Pembentukan Ruhiyah Ma`nawiyah, Pembentukan Fikriyah Tsaqofiyah, dan Pembentukan Amaliyah Harakiyah.
2. Ar-Ri`ayah (pemeliharaan).
Kepribadian Islami yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara ma`nawiyah, fikriyah dan amaliyahnya serta harus selalu dimutaba`ah (dikontrol) dan ditaqwim (dievaluasi) sehingga jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah.
3. At Tanmiyah (pengembangan).
Dalam proses tarbiyah, Murabbi dan Mutarabbi tidak boleh puas dengan apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apalagi menganggap sudah sempurna. Murabbi dan Mutarabbi yang baik adalah Murabbi dan Mutarabbi yang selalu memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta meningkatkan kualitas, berpandangan jauh kedepan, bahwa tarbiyah harus siap dan mampu menawarkan konsep perubahan dan dapat mengajukan solusi dari berbagai permasalahan ummat dan berani tampil memimpin umat.
4. At Tauzhif (Pemberdayaan).
Tarbiyah tidak hanya bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik dan berkualitas secara pribadi namun harus mampu memberdayakan, dan kualitas diri untuk menjadi unsur perubah yang aktif dan produktif.
Sehingga kalau kita coba cermati dari ke-4 tujuan di atas, maka “penyampaian materi/tasqif”, memberikan “kontribusi” yang sangat sedikit guna mencapai ke-4 tujuan di atas.
Sehingga jika disebutkan “Liqo’at Tarbiyah” sebagai Tandzim terdepan dalam pengkaderan, sesungguhnya ia tidak sekedar bermakna Liqo’at Tarbiyah sebagai aktivitas “penyampaian materi/tasqif” belaka. Tapi dalam makna yang luas dengan agenda beragam yang biasanya “hadir” dalam aktivitas Tarbiyah, yang darinya semuanya berawal, ya….berawal…
Wallahu’aklam bissowab
ana sepakat bahwa liqo tidak sekedar transfer madah tarbiyah semata. karenanya diperlukan tip dan trik dari murobbi untuk membawa mutarobbinya kepada suasana liqo yang hidup, menghadirkan suasana keilmuan pada setiap liqo yang diselenggarakannya. curhat ini mungkin dirasakan pula oleh elemen tarbiyah lainnya. oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengembalikan tarbiyah menjadi ujung tombak pengkaderan kader-kader da’wah.
test
awalnya seperti itu…terkhusus kepada niatan materi…namun sekali waktu itu…“tata niat” ketika antum datang ke Liqo’. Jika hanya untuk mendapatkan “materi/tasqif” dari saya (sbg Murobbi) sebaiknya antum “pulang” saja, saya print-kan materinya dan silahkan antum baca sendiri di rumah, jika ada yang “nggak” ngerti silahkan antum diskusikan dengan saya”….
al fahmu menempa…tarbiyah bukan sekedar tulabil ilmi., ta’lim boleh dimana ajah,,,,tapi “tarbiyah” di liqo’at ini…..dimana segala aspek timbal balik MR n MTrbi…berkecimpung didalamnya….