Terminal itu Bernama Canda

17 10 2006

Dari waktu ke waktu kaki ini aku kayuh. Kadang aku berlari untuk mencapai target, yakni tuntutan dakwah yang tak mungkin aku tunda. Tubuhpun mengeluarkan peluh, kepenatan dan keletihan. Tetesan air mata kadang harus kutumpahkan untuk tujuan dakwah yang aku perjuangkan.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang melelahkan. Lelah fisik bahkan jiwa dan pikiran. Maka akupun membutuhkan terminal-terminal tempat beristirahat. Tempat aku merasakan “kegembiraan” bersama, melepaskan ketegangan, dan meregangkan otot dan persendian. Bak peristirahatan seorang prajurit, menurut Syaikh Jasim Muhalhil al Yasin. “Prajurit dakwah” membutuhkan waktu untuk beristirahat dan selanjutnya kembali ke medan laga. Salah satu terminal peristirahatan itu adalah “terminal Canda”.

Di jalan dakwah ini, aku mempunyai ruang untuk tersenyum dan tertawa. Inilah salah satu “bumbu” kebersamaan dengan para al-akh “prajurit dakwah” yang lain untuk menumbuhkan kembali semangat. Sebagaimana Rosululloh SAW pun memiliki ruang-ruang canda dan tawa dengan para sahabatnya. Hingga Imam As Suyuti ra. menyebutkan salah satu sifat Rosululloh SAW dengan istilah “ad-dhahuuk al-qattaal”, yakni orang yang sering tersenyum tapi mampu berperang.

Keseriusan para sahabat dalam berdakwah dan berjihad, besarnya perhatian para salafusshalih dalam memerangi kemungkaran dan menekuni ilmu, tidak menjadikan mereka bak orang yang tak mengenal senyum dan tertawa. Meski demikian, catatan perjalanan para “prajurit dakwah” generasi awal itu bukan berarti porsi canda menjadi dominan dalam kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mampu menempatkan sikap-sikap canda sesuai kebutuhannya. Ibarat “bumbu kehidupan”, canda dibutuhkan untuk “membangun” kebersamaan dan mencairkan “ketegangan”.

Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran tentang kebutuhan jiwa untuk istirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Lantaran “canda dan tawa” yang tidak proporsional dan “keterlauan” hanya akan berakibat hati akan “mengeras”, dan sulit “menerima” kebenaran.

Pertemuanku dengan al-akh “prajurit dakwah” di jalan dakwah ini, sering diwarnai dengan canda, senyum dan tawa. Meskipun interaksi untuk sebuah “urusan” atas nama dakwah sangat memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat. Semuanya tak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa. Canda yang berkembang di antara para “prajurit dakwah” bisa memberikan energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran, berfungsi menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan.

Ada ungkapan Ibnu Umar ar. tentang para Sahabat Rasululloh, ketika ia ditanya, “Apakah para Sahabat Rosululloh itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.

Terakhir, aku jadi teringat sebuah tulisan seorang al-akh, Abu Farwah, yang berjudul: “Ketika Ikhwan Tersenyum: Kumpulan Anekdot dan Kisah-kisah Unik di Sekitar Aktifis Dakwah”. Tulisan tersebut berisi kumpulan cerita-cerita lucu yang sering menghiasi keseharian aktivis dakwah dalam koridor “kegiatan dakwah”. Di bagian pengantar, Abu Farwah menuliskan ungkapan sebagai berikut:

Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khotob memilih untuk tetap eksis hidup di dunia ini adalah: Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya adalah kenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yang hari-harinya di penuhi dengan keindahan ukhuwah. Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari para aktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau sebuah komunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan elegan. Jauh dari kesan kaku, kolot, galak dan beku. Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucu atau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka. Apapun, harapan agung penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkan ukhuwah di antara kita. Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebih tulus senyum dan sapaan kita. Agar kita lebih siap menyambut pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Karena agenda dan proyek-proyek kita, jauh lebih padat dari jatah usia masing-masing dari kita. Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum. [Abu Farwah, Khartoum Mei 2004].

Demikian, semoga essai “Terminal itu Bernama Canda” ini bisa memberikan manfaat kepada mereka yang telah mengazamkan hidupnya untuk dakwah. Bahwa dengan senyum dan canda akan mampu memberikan semangat dan energi baru guna melanjutkan perjalanan yang jauh dan tak berujung ini.

Wallahu’aklam Bissawab

Maraji: Sebagian dari isi tulisan ini disarikan dari salah satu sub-bab buku berjudul “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”.





Koleksi Buku

13 10 2006

Setiap aku mudik ke Indonesia tak lupa selalu mengunjungi kios buku. MasyaaALLOH ada banyak sekali buku-buku seputar “Tarbiyah dan Pergerakan” yang sangat variatif, gaul dan funky. Pingin dibeli semuanya, tapi khawatir mengurangi “jatah” bagasi yang hanya 100Kg. Akhirnya aku batasi untuk “memborong” buku tak lebih dari 10Kg. Ada lebih 20 buku-buku seputar “Pergerakan dan Tarbiyah” telah aku “borong”. Maklum di Jepang susah mencarinya. Entah dibaca atau tidak setibanya di Jepang nanti, yang penting beli dulu. Membayangkan jika suatu saat keuangan lagi seret, untuk membeli buku saja tidak mampu. Jadi mumpung ada uang, beli saja dulu yang banyak, dibaca atau tidak setibanya di Jepang, itu urusan nanti, yang pasti, suatu saat akan terbaca juga entah kapan.

Ada buku kecil nan menggugah berjudul “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”, ada kumpulan novel “Di Atas Sajadah Cinta”, juga buku-buku  karya “sang Motivator” Ust. Anis Matta, ada “Risalah Pergerakan” edisi baru, tak ketinggalan “Di Jalan Dakwah Aku Raih Sakinah”, dan masih banyak lagi….

Menjelang tahun 2000, sangat populer buku-buku yang “beratribut” Quantum, sebut saja Quantum Learning, Quantum Marketing, Quantum Teaching, Quantum Reading dan sebagainya. Buku-buku tersebut, secara umum menyajikan “petunjuk” praktis meraih kesuksesan dan kemudahan dalam proses pembelajaran (jika dalam buku Quantum Learning). Istilah Quantum sebenarnya telah lama populer terutama dalam “Fisika”, ada Mekanika Quantum atau Fisika Quantum. Tak ketinggalan istilah, “Quantum Tarbiyah”-pun muncul juga. Aku bermaksud “memborong”nya, ingin beli 10 buah, lumayan buat oleh-oleh, judul lengkapnya “Quantum Tarbiyah: Mencetak Kader Seba Bisa!”. TAPI sayang, aku hanya bisa membeli satu. Toko-Toko buku Muslim di sekitar kampus UGM sudah aku jelajahi dan ternyata habis terjual, ada juga yang belum tahu. Lantaran buku tsb tergolong buku baru. Bukunya sangat-sangat bagus, intinya menumbuhkan motivasi untuk terus bekerja keras, berkarya, pantang menyerah dan terus berkontribusi, dalam koridor Tarbiyah dan Dakwah. Pokoknya bagus men!!!, he…he..he…, habis bukunya menggunkana bahasa gaul sih, jadi ikut-ikutan dech.

Ada salah satu buku yang tak kalah menariknya yakni “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”. Sekilas dibaca, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Dan termasuk buku yang aku rekomendasikan untuk dibaca oleh mereka yang sedang “berjuang” memilih jodoh dan menuju ke pelaminan, juga buat mereka yang sudah menikah dan sedang merintis membangun sebuah rumah tangga yang “stabil” dan “mapan”. Buku ini adalah karangan Ust. Cahyadi, penulis yang sangat produktif menuliskan karya-karya seputar Tarbiyah dan Rumah Tangga Islami. Jalan Dakwah yang telah mengantarkan Rosululloh menikahi istri-istrinya, para ummahatul mukminin. Jalan Dakwah pula yang telah mengantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Tolhah. Jalan Dakwah telah mempertemukan Ali ra. dan Fatimah. Di Indonesia, pernikahan antar aktivis dakwah kampus yang masih berstatus sebagai mahasiswa S1 telah menjadi “trend” sejak tahun 1990-an. Buku ini juga menyajikan “pengetahuan” seputar persiapan-persiapan menuju pernikahan, termasuk tata cara “teknis” pelaksanaan Khitbah sampai dengan Walimatul ‘Urs, memasuki malam “pertama” serta membangun rumah tangga yang Islami, tak ketinggalan juga cara memilih rumah/hunian dan hal-hal teknis lainnya dalam berumah tangga. Pokoknya komplit dan bagus banget.

Siapa yang mau pinjem, ayo buruan…….





Catatan Mudik

11 10 2006

Alhamdulillah, 3 minggu mudik ke Indonesia telah memberikan banyak manfaat. Terutama kesempatan untuk “merasakan” Ramadhan di Indonesia setelah 6 tahun berturut-turut selalu melewati Ramadhan di negeri Sakura. Melewati 10 hari di Djoga dan 10 hari di Madura banyak menyisakan kenangan manis yang tak mungkin terlupakan.

Selama di Madura, selain bisa silaturahmi secara “lengkap” dengan seluruh saudara dan handai tolan, aktivitas di luar acara “keluarga” lebih “optimum” lantaran “difasilitasi” oleh sebuah Yayasan Pendidikan. “Ceramah Ramadhan” di depan adik-adik siswa SMA di Sampang “sempat” saya lakukan selama 2 hari berturut-turut. Sempat juga menjadi “pembicara dadakan” dalam “Pengajian Ramadhan” bertema “Masuk Surga lewat Pintu Ar-Rayyan bersama Keluarga”, agenda rutin dari Yayasan. Juga menyelusuri pantai di sepanjang perjalanan “melewati 3 kabupaten”, dari Kab. Sampang, Kab. Pamekasan dan berakhir di Kab. Sumenep adalah agenda yang tak kalah menariknya. Selengkapnya silahkan kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1107557.html

Selama di Djogja-pun tak kalah menariknya. Beberapa hari setelah “mendarat” di Jogja, sebuah acara “sharing” yang difasilitasi oleh jurusan Fisika UGM, sukses terlaksana. Di depan beberapa dosen dan mahasiswa jurusan Fisika, saya menyampaikan presentasi bertemakan: “Magnetic Recording Devices: Prospects over the Next 10 Years and Some Research Challenges in Indonesia”. Hmm, ternyata banyak juga yang datang. Alhamdulillah, bisa menghadiri acara syukuran Dies Natalis MIPA UGM, sehingga bisa “bertemu” dengan semua dosen-dosen FMIPA UGM. Acara pidato Dies Natalis ditutup dengan ucapan “Selamat” dan “Salam-Salaman” kepada “petinggi” Fakultas, salah satunya kepada Ketua Senat FMIPA UGM. Dan saya dan istri tidak ikut acara “salam-salaman”, karena sebelumnya di rumah sudah “sungkem duluan” kepada pak ketua Senat FMIPA, pake cium tangan lagi…*smile*. Hidangan makanan di acara Dies telah “menyisakan” kenangan tersendiri bagi saya yang waktu itu juga mengajak serta istri tercinta. Pertemuan saya dengan aktivis mahasiswa “mas Rajab” di musholla MIPA saat sholat Dhuhur berjamaah ternyata berbuah “dibuatnya” acara Stadium General menjelang buka puasa. Dalam acara bertajuk “Pondok KMF MIPA UGM 2006″, saya “didaulat” untuk menjadi pembicara “ngabuburit” sambil menunggu buka puasa. Selama di Djogja, Alhamdulillah, Hanifah “sempat” dikhitan. Bersama Eyang-Kakung dan Eyang-Putri, Hanifah “mengunjungi” Rumah Sakit Khusus Bakti Ibu untuk dikhitan. Dan saya baru tahu, proses khitan anak perempuan “tidak seruwet” anak laki-laki. Dan sang Dokter-pun menyarankan, bagi anak perempuan, lebih cepat lebih baik. So, bagi rekan-rekan yang mempunyai anak perempuan dan belum dikhitan, sebaiknya secepatnya dikhitan. Kenangan dalam gambar selama di Djoga silahkan kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1107581.html

Sedikit penjelasan tentang Khitan bagi anak perempuan dan landasan Syar’i-nya yang diambil dari “Kumpulan Fatwa-Fatwa Kontemporer Ust. Yusuf Qardhawi” adalah sbb:

Khitan bagi anak perempuan diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi menentangnya, demikian pula dengan ulama, ada yang enguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling ekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits meskipun tidak sampai ke derajat sahih – bahwa Nabi saw. pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya: “Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”

Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta’shili jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan suaminya dan
mencerahkan (menceriakan) wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan da pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi nak-anaknya, maka hendaklah ia melakukannya, dan saya menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita ekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka tidaklah ia berdosa, karena khitan itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi’ar Islam, sehingga para ulama menetapkan bahwa apabila Imam kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka kembali kepada aturan yang istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini.

Demikian, sekilas “cacatan” perjalan saya selama mudik 3 minggu ke Indonesia. Banyak yang belum sempat saya “tuliskan”, maklumlah, lagi “males” nulis yang panjang-panjang.





Bulan Ramadhan sebagai Bulan Tarbiyah

11 10 2006

Bulan Ramadhan sudah di ambang pintu. Pernahkah kita merindukan Ramadhan di antara sebelas bulan yang lainnya? Atau bergembira dengan kedatangannya? Jika ya, beruntunglah lantaran Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira tentang kedatangannya. Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Allah SWT mewajibkan setiap mukmin untuk berpuasa, sebagaimana firmanNya dalam QS Al Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Bulan Ramadhan dengan segala kelebihan dan keutamaannya adalah proses tarbiyah yang datangnya langsung dari Allah SWT. Hasil dari proses tarbiyah tersebut adalah lahirnya pribadi mukmin yang bertaqwa. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan karakteristik pribadi muslim yang bertaqwa. Misalnya dalam QS Al Baqarah 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. Dalam ayat tersebut Allah memberikan definisi al birr (kebajikan) yang harus menjadi karakteristik orang yang beriman dengan sebenarnya dan bertaqwa. Dalam ayat yang lain Allah SWT “mensejajarkan” antara menjaga ketaqwaan dengan “perintah” agar setiap mukmin tidak mati selain dalam keadaan Islam. Padahal kematian adalah sebuah kepastian yang tidak diketahui kapan datangnya. Sehingga “menjaga” agar tetap “islami” di setiap saat dan keadaan adalah satu-satunya pilihan, sebagai salah satu perwujudan dari pribadi yang bertaqwa.

Dari beberapa ayat tersebut, Allah hendak menjadikan puasa Ramadhan sebagai momentum lahirnya individu yang berkepribadian islami (As-Syakhsiyah Islamiyah), yakni pribadi dengan karakteristik sebagai berikut: 1. Memiliki pemahaman aqidah yang bersih (utuh) lantaran keyakinannya kepada Allah, hari akhir, malaikat dan kitab-kitab, serta para nabi. 2. Beribadah secara benar seperti senantiasa mendirikan sholat dan senantiasa membayar zakat. 3. Maknawiyah (intergritas moral) yang mapan, seperti yang terpancar dari sifat sabar terhadap kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Proses Tarbiyah

Sudah jamak, bahwa terbentuknya individu yang berkepribadian islami akan melalui sebuah proses, salah satunya proses itu kita kenal sebagai tarbiyah. Dan dengan puasa di bulan Ramadhan, Allah SWT hendak mentarbiyah langsung hamba-hambanya guna terbentuknya individu berkepribadian islami. Tarbiyah dengan segala proses dan tujuan yang ada di dalamnya, seperti Tansyi’ah (pembentukan), Ri’ayah (pemeliharaan), Tanmiyah (pengembangan), Taujih (pengarahan) dan Tauzhif (Pemberdayaan), secara utuh bisa dijumpai dalam ibadah dan aktivitas lainnya selama bulan Ramadhan.

1. Tansyi’ah (pembentukan)

Salah satu sisi penting dalam proses Tansyi’ah ini adalah pembentukan ruhiyah maknawiyah. Pembentukan ruhiyah maknawiyah dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah wajib dan sunnah seperti qiyamul lail, shaum, tilawah Qur’an, dzikir dan lain sebagainya. Dan selama Ramadhan Allah SWT membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk maraih semua keutamaan yang Allah SWT janjikan di setiap aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Beberapa contoh hadits yang menjelaskan keutamaan menjalankan Ibadah selama Ramadhan adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda: “Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”

Dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda : “Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunatkan shalat malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An-Nasa’i, katanya: yang benar adalah dari Abu Hurairah). Dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi). Setiap individu harus mampu menjadikan sarana-sarana tarbiyah selama Ramadhan dalam membentuk pribadi pada sisi ruhiyah maknawiyahnya dan dirasakan serta disadari olehnya bahwa ia sedang menjalani proses pembentukan ruhiyah maknawiyah.

2. Ri’ayah (pemeliharaan)

Proses pembentukan dalam ruhiyah maknawiyah, termasuk fikriyah dan amaliyah yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas ibadah yang dilakukan selama Ramadhan harus tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Kemampuan kita dalam menjaga ruhiyah maknawiyah salah satunya bisa dilihat dari bagaimana kita menjalani hari-hari akhir Ramadhan dan melewati beberapa hari setelah Idul Fitri. Jika Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian, maka kita kenal bahwa 10 hari terakhir yang merupakan masa “pembebasan dari api neraka” adalah masa yang paling berat. Banyak yang “tumbang” satu persatu di 10 hari terakhir, salah satunya karena “aroma” Idul Fitri sudah mulai terasa. Tapi, tidak bagi individu yang merasakan bahwa ia sedang menjalani proses tarbiyah. Tidak boleh ada penurunan dalam tilawah yaumiyah dan qiyamul lailnya. Apalagi di 10 hari terakhir ada masa di mana Allah SWT menurunkan malam Lailatul Qadar yakni malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Kemampuan untuk melakukan Ri’ayah (pemeliharaan) akan meberikan semangat untuk melewati Ramadhan dengan segala keutamaannya secara utuh. Begitu juga dalam melewati beberapa hari setelah Idul Fitri, proses tarbiyah itu ternyata belum berhenti. Seolah Allah SWT hendak memberitahukan kepada kita semuanya, bahwa hanya mereka yang mampu melakukan Ri’ayah (pemeliharaan) semangat Ramadhan sampai Idul Fitri (bulan Syawal) tiba yang akan mendapatkan manfaat dan keutamaan bulan Ramadhan. Seperti yang Rasulullah SAW sabdakan dalam sebuah hadits: Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda: “Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya). Membiasakan puasa sunnah setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah SWT menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala ‘amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

3. At Tanmiyah (pengembangan).

Dalam menjalani ibadah selama Ramadhan, setiap mukmin tidak boleh puas dengan apa yang sudah dikerjakannya, apalagi menganggap sudah sempurna. Senantiasa ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbaiki kekuarangan serta mengejar semua keutamaan yang Allah SWT janjikan selama Ramadhan hendaklah menjadi spirit bagi setiap mukmin yang berpuasa. Pelajaran berharga dari Allah SWT dapat dilihat dalam QS Al Baqarah 187: “”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” Dalam ayat tersebut Allah SWT menghalalkan untuk bercampur dengan istri di malam hari, tapi di sisi lain Allah melarangnya saat kita beri’tikaf di masjid. Padahal memperbanyak i’tikaf di masjid adalah salah satu aktivitas yang dianjurkan selama Ramadhan. Disinilah ada proses tarbiyah dari Allah SWT kepada kita untuk senantiasa melakukan At Tanmiyah (pengembangan). Meskipun bercampur dengan istri di malam hari diperbolehkan, tapi bagi mereka yang senantiasa ingin melakukan peningkatan kualitas ibadah selama Ramadhan akan memilih untuk i’tikaf di masjid. Pengembangan diri juga terkandung dalam hikmah dianjurkannya puasa 6 hari di bulan Syawal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar). Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa puasa Sunnah 6 hari di bulan Syawal adalah sebagai penyempurna dari puasa Ramadhan yang kita lakukan.

Penutup

Demikianlah proses tarbiyah yang hendak Allah SWT tunjukkan kepada setiap mukmin dalam menjalani ibadah Ramadhan. Muara yang hendak ingin dicapai dari semua proses tarbiyah tersebut adalah terbentuknya individu yang bertaqwa dan berkepribadian islami. Terlebih lagi bagi para da’i (kader dakwah) yang senantiasa berjuang membela al-haq (kebenaran) berperang melawan al-bathil (kebatilan), Ramadhan akan benar-benar dimaknani dan dimanfaatkan guna meningkatkan kualitas Maknawiyahnya. Karena ia adalah salah satu faktor utama dalam memenangkan “peperangan abadi” tersebut. Kesabaran adalah salah satu hikmah yang hendak diraih selepasnya bulan tarbiyah ini. “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (QS Al Anfal 65).

Wallahu’aklam bissawab.

Tulisan ini telah dimuat di portal KAMMI Jepang, selengkapnya silahkan kunjungi: http://www.kammi-jepang.net/sorotan.php?id=102