Selamat Datang di “Tarbiyah Outdoor Base”

28 08 2006

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun inipun Natsu Camp UMIN (Ukhuwah Muslim Indonesia Nagoya) Japan dapat dilaksanakan. Program Camp yang juga sering disebut sebagai “Mukhayyam”, adalah sebuah acara Rihlah atau Tadabbur alam selam 2 hari 1 malam, sebagai salah satu sarana Tarbiyah Jazadiyah, Tarbiyah Rukhiyah, ajang Rekreasi dan memperkuat tali Ukhuwah. Untuk sekedar diketahui, UMIN adalah organisasi dan warung gaulnya kenshusei (Trainee) di wilayah Nagoya dan sekitarnya. Selengkapnya sila kunjungi http://www.uminjapan.tk

Berlokasi di Kasugai-shi Aichi-ken, Natsu Camp 2006 dilaksanakan pada hari Jum’at-Sabtu 18-19 Agustus 2006. Lokasi Natsu Camp tahun ini sama dengan lokasi tahun lalu, yaitu di Shonen Jizen no ie, Kasugai-shi dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dengan bus dari Kozoji eki. Bertempat di dataran tinggi dengan perbukitan yang terhampar indah nan hijau dengan beberapa buah danau yang ikut “menghiasi” lokasi Natsu Camp, menjadikan acara Natsu Camp sebuah acara Rihlah atau Tadabbur Alam yang sangat dinanti-nanti. Apalagi di Jepang dengan aktivitas harian yang sangat-sangat sibuk plus ritme kehidupan yang mengalir dengan cepatnya.

Hari Jum’at sekitar jam 11:30 semua peserta yang berjumlah 19 “pemuda” tiba di lokasi. Tak ketinggalan juga peserta “cilik”, Faiz (2 th) dan Hani (10 bulan) ikut meramaikan acara Natsu Camp 2006 ini.

Acara Natsu Camp UMIN 2006, diawali dengan apel pembukaan dan Taujih dari inspektur upacara (Abu Faiz). Bertempat di lapangan rumput dan beratapkan langit, sholat Jum’at menjadi agenda berikutnya. Dan makan siang yang diselingin ta’arruf (kenalan) menjadi penutup acara sebelum Check-in.

Materi Interaktif bertema Qadhayatul Ummah dan Solusinya menjadi “supelment” pertama. Acara yang dipandu oleh Abu Faiz dikemas menjadi materi interaktif (kelompencapir) dan diskusi. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan “temuan-tamuannya” berupa identifikasi contoh-contoh permasalahan Ummat dewasa ini. Dan ditutup oleh komentar singkat dan beberapa solusi dari permasalahan umat yang disampaikan oleh pemandu.

Game/Permainan Outdoor menjadi agenda berikutnya. Permainan berformat “latihan perang” dengan senjata air yang ditampung di kantong plastik dipandu oleh pemuda penuh semangat Akh Aris. Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan nama HAMAS dan Hizbullah. Dan keduanya latihan beradu “perang” guna menaklukkan/berebut “Zionist Israel” yang dilambangkan dengan “botol”. Kedua belak pihak “saling serang” menggunakan “bom air”, jika kena, sudah bisa dipastikan akan basah. Game “perang” semakin “asyik” lantaran hujan turun dan ikut “menyemarakkan” suasana.

Setelah acara istirahat, mandi dan makan malam, “siraman” materi ke-2 bertema “Pengantar: Gerakan Zionistme dan Orientalisme” yang disampaikan oleh Ust. Doni H. Ramadhan menjadi “suplement” berikutnya, sampai menjelang waktu tidur.

Hari Sabtu, setelah sholat Subuh, Taujih Subuh bertema “Ciri-ciri Penguni Nereka” disampaikan oleh Akh Aris. Dengan merujuk QS Al-A’raf: 179, Akh Aris menguraikan ciri-ciri penghuni Neraka, yakni mereka yang mempunyai Hati tapi Lalai, mempunyai pendengaran tapi tuli dan mempunyai penglihatan tapi buta, dan mereka ibarat binatang ternak bahkan lebih.

Sabtu pagi jam 07:00, semua peserta camping harus berkumpu di halaman gedung penginapan guna mengikuti program Senam pagi dari pengelola gedung. Dan tepat jam 09:00, kami harus Check-out meninggalkan kamar.

Agenda berikutnya adalah yang ditunggu-tunggu, yakni Hiking, menelusuri jalanan setapak, mendaki perbukitan yang tak terjal serta merambah hutan yang tak lebat. Ada banyak game/permainan selama hiking. Salah satunya ada adu gulat. Terinsipirasi oleh seorang Umar Al-Faruq ra. yang selalu menang di setiap adu gulat. Dan tidak lupa syair-syair Nasyid dari Izzatul Islam sesekali kami lantunkan guna memberi semangat, salah satu diantaranya, “Mujahid Muda”. Hmmm, Alhamdulillah, sebuah acara Hiking yang sangat menyenangkan.

Sekitar jam 11, kami tiba dipinggiran danau dekat halte Bus. Setelah acara ditutup oleh panitia yang dilanjutkan Sholat Dhuhur Berjamaah di pinggir jalan, semua pesertapun naik Bus untuk kembali ke Nagoya.

Alhamdulillah, Natsu Camp 2006 ini telah banyak menyisahakan banyak kenangan, kenangan Indah, tambahnya rasa Cinta antar saudara se-Akidah, juga perasaan sedih lantaran ada beberapa peserta akan segera kembali ke Indonesia dan tidak bisa ikut “menyemarakkan” agenda-agenda dakwah di Nagoya di masa-masa yang akan datang, Fii Amanillah Saudaraku. Dan buat veteran Natsu Camp 2006 yang masih bertahan di Jepang, semoga semakin Militan dan InsyaaALLOH dipertemukan kembali di agenda-agenda Dakwah pada masa-sama yang akan datang.

Jika ada 10 orang berjuang, satu adalah aku.
Jika ada 5 orang berjuang, satu adalah aku.
Jika ada 2 orang berjuang, satu adalah aku.
Jika ada 1 orang berjuang, itu adalah aku.

Selamat berjuan, semoga Istiqomah.

Kenangan dalam gambar sila kunjungi: http://suharyadi.fotopic.net/c1065878.html

Pulang
by Munsyid : SP

Tiba saatnya untuk berpisah
Tiba masanya truskan perjuangan
Kulampirkan selempang doa
Pengikat hati di medan juang

Mega proyek tampak dihamparan
Menanti sebuah karya ditangan
Sentuhkan pena hitung lembaran
Simbol keadilan tertuangkan

Lambaian hati mengharu biru
Masa dibenak terguyur air mata
Karena daya dan kekuatannya
Lorong – lorong medan kan menyatu jua

Selamat jalan selamat berjuang
Peganglah erat kitab al Quran
Sunnah rosul jadikan panduan
Pandang lurus jalan di hadapan

Disini kita pertama berjumpa
Disini pula kita bercerita
Tentang sepenggal kehidupan disebuah desa
Memulung ridho Robbi tercinta

Disini kita pertama berjumpa
Disini pula kita kan berpisah
Sebentar bersama dan bekerja sama
Berjalan tuju Robbi tercinta

Disini kita pertama berjumapa
Disini pula kita bercerita
Tentang sepenggal kehidupan disebuah desa





Jalan yang Panjang

26 08 2006

Daurah Natsu (musim panas dalam bahasa Jepang) adalah agenda rutin tahunan Ukhuwah Muslim Indonesia Nagoya (UMIN) Jepang (http://www.uminjapan.tk). Bedanya dengan Daurah Golden Week (tiap bulan Mei), Daurah Natsu dikemas dalam format “Natsu Camp”, yakni camping sambil “ngaji” di daerah pegunungan/perbukitan nan hijau dan sejuk selama 2 hari 1 malam. Porsi “bermain” lebih banyak daripada “ngaji”-nya. Beberapa materi pengajian yang adapun dikemas dalam bentuk “materi Interaktif” dan sisanya adalah game, hiking dan pendakian (perbukitan).

Seperti hal tahun-tahun sebelumnya, Natsu Camp 2006 dilaksanakan pada bulan Agustus saat “Obon Yasumi” di Jepang. Natsu Camp tahun ini adalah Natsu Camp ke-4 yang dilaksanakan oleh UMIN, sejak “debut” pertama kalinya Agustus 2003.

Hasil kesepakatan awal, “Outdoor Base INUYAMA Campgroud” menjadi salah satu alternatif tempat Natsu Camp UMIN 2006. Untuk memastikannya, Survey ke lokasi harus dilaksanakan.

Berdasarkan “penulusuran” dari peta “www.mapion.co.jp“, Outdoor Base INUYAMA Campgroud berada sekitar 1,5 km dari arena bermain “Little World Inuyama” (http://www.littleworld.jp/) dan harus ditempuh dengan jalan kaki.

Aku bersama 7 orang “petinggi” UMIN sepakat untuk melalukan Survey di hari Ahad, beberapa pekan sebelum hari H. Dalam survei akupun tidak lupa mengajak “jagoan kecilku” Faiz, dan tak lupa membawa kereta bayi agar Faiz bisa “duduk manis” disepanjang perjalanan, “pikirku”. Survey bermula dari Meitetsu Inuyama eki dan diawali dengan makan “bento” makan siang di sebuah taman dekat eki. Perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Little World. Kamipun sempat mengabadikan beberapa “jebretan” untuk berpose di sekitar Little World.

“Perjuangan” baru saja dimulai saat kami meninggalkan site Little World setelah selesai sholat Dhuhur berjamaah. Dengan berbekal “peta tak lengkap”, kamipun mecari “jalan” agar bisa sampai ke lokasi camping. Dan tak seperti yang kami duga sebelumnya, jalan-jalan yang kami lalui untuk bisa sampai ke lokasi Camping “sangatlah panjang” dan melelahkan. Jalan beraspal yang mengawali perjalan kami ternyata “pendek” dan sangat sebentar. Selanjutnya adalah jalanan tak berasapal alias berkerikil dan sedikit menanjak. Dan bagi diriku sudah bisa ditebak, “Kereta bayi” yang kubawa agar perjalanan “lebih menyenangkan” bersama Faiz “tidak” bisa berlaju dengan mulus. Dan Faiz-pun aku gendong. Pekik Allahu Akbar dan lantunan “Nasyid tak lengkap” sesekali menghiasi “perjalanan kami”. Hmmm, kurang lebih 45 menit kami menyelusuri jalanan berkerikil dan membuat kami agak “kepayahan”, terutama diriku yang sambil menggendong Faiz.

Track selanjutnya adalah jalan berdebu dengan “bau tak sedap” yang sangat menyengat. Kamipun tak tahu darimana datangnya “bau tak sedap itu”. Perjalananpun diakhiri dengan “jalanan berasapal” sebelum akhirnya kami tiba di lokasi Camping. Subhanalloh wal Hamdulillah wa Laa ilaha illaLLOH Allohu Akbar, akhirnya kamipun tiba di “Outdoor Base INUYAMA Campgroud” setelah menempuh perjalan selama kurang lebih 1,5 jam.

Beratnya “track pejalanan” saat berangkat membuat kami harus mencari alternatif jalan lain nan beraspal untuk kembali ke halte Bus. Dan Alhamdulillah, perjalanan pulang lebih “asyik” meskipun lebih lama, lantaran jalanan beraspal yang kami lalui harus “berputar”

Dan dengan terpaksa kamipun sepakat untuk meng-”cancel” Outdoor Base INUYAMA Campgroud sebagai lokasi Natsu Camp UMIN 2006.

Beberapa hasil jebretan boleh tengok di: http://suharyadi.fotopic.net/c1063672.html

Perjalanan
Munsyid: SP

Ayo kita berangkat ke sebuah desa
Diseberang rimba belantara semak belukar
Berhias gunung – gunung, bukit, lembah dan ngarai
Kabut kelabu lembut menyapu hutan berliku

Burung – burung berkicau riang gembira
Gemerisik dedaunan sang angin menyapa
Mengiringi langkah kaki pemuda idola
Yang tak pernah lupa Tuhannya di spanjang usia

Awas bebatuan cadas yang siap menimbas
Pasir hitam berguguran yang setia menghempas
Lorong – lorong bawah berhias tetes air padas
Staglagtit dan stalagmit rilief tanah panas

Sgala puji hanya pada Illahi
Pencipta alam semesta dan seluruh isinya
Penggerak pengatur perputaran jagat raya
Kembali berjuta pujian terpanjat padaNya
Kembali berjuta pujian terpanjat padaNya





Virus Merah Jambu

25 08 2006

Dalam acara Daurah Golden Week UMIN Japan 2006 pada bulan Mei yang lalu, saya mendapatkan amanah dari panitia untuk menyampaikan materi dengan tema “Pacaran: Bagaimana Islam Memandangnya, dan Solusi Alternatif Mencari Jodoh”. Materi tersebut “mendampingi” dua materi lainnya yang saling beririsan, yakni tentang “Gaya hidup barat” dan Ghazwul Fikri. Materi seputar “pacaran” sepertinya “pas banget” lantaran 95% pesertanya adalah “para pemuda” yang lagi “mencari calon pendamping hidup”. (Beberapa “kenangan” Daurah boleh tengok di: http://endores.photos.us.com/c960137_1.html )

Beberapa “cacatan kecil” dari materi tersebut saya tuangkan dalam blog ini, seperti yang tertulis di bawah, selamat menikmati. [note: Jika ada yang butuh file presentasinya dalam power point silahkan japri ke esuharyadi@yahoo.com] 

Hati-hati dengan VMJ alias Virus Merah Jambu yang dapat merusak kekokohan benteng KeImanan. Cinta bisa dianggap sebagai virus. Yaitu Cinta kepada lawan jenis yang tumbuh sebelum menikah kemudian “dibingkai” dengan apa yang disebut “pacaran”. Cinta dalam “gatra” tersebut dianggap kotor dan sudah keluar dari hakikat cinta itu sendiri. Yakni cinta yang ada dalam diri setiap manusia adalah fitrah.

Bahkan Allah yang menciptakan manusia berfirman tentang kecenderungan itu: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yakni wanita wnita, anak-anak, harta yang bnyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan dan sawah ladang …” (QS. Ali Imran : 14)

Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi di dalam Islam cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta kepada lawan jenis pada dasarnya adalah suci ,bukan sesuatu yang kotor. Dan pernikahan adalah “bingkai” yang dapat menjaga kesucian itu. Cinta tidak haram dan tetap terjaga kesuciannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan kepada ALLOH. Inilah yang harus di garis bawahi karena seringkali dengan dalih cinta namun menghalalkan apa-apa yang ALLOH haramkan.  

Siti Fatimah pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “ Wahai Ali sesungguhnya sebelum menikah, ada laki-laki di kota Mekkah ini yang sangat aku kagumi. “ “ Jadi engkau menyesal menikah denganku ? “ ujar Ali “ Tentu tidak,karena laki-laki itu adalah engkau….. “ 

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan bahwa cinta yang kita bicarakan di sini adalah tentang cinta yang suci, dari seorang lelaki yang suci, yang tidak menginginkan agama dan kesucian dirinya serta pribadinya menjadi rusak, hubungan antara dirinya dengan Allah menjadi renggang. Inilah cinta orang-orang salaf yang mulia dan para imam yang terhormat. Inilah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah seorang dari tujuh fuqaha yang jatuh cinta dan dia tidak mengingkarinya. Dia menganggap orang yang mencela cinta adalah orang yang zhalim.  

Bahkan Nabi saw, Abu Bakar, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib juga biasa memberi pertolongan kepada orang-orang yang sedang dimabuk cinta agar dapat menikah dengan orang yang dicintainya.  

Ungkapan seorang pria yang mencintai seorang wanita, “Sesungguhnya saya mencintainya karena ALLOH dan saya ingin agar cinta ini menjadi cinta yang benar di hadapan ALLOH”. Untuk membingkai cintanya agar ia tetap suci sesuai fitrahnya, lalu sang pria tersebut berusaha dan bersungguh-sungguuh untuk menikahinya ,dengan cara-cara yang ALLOH ridhai.  

Menginstall Iman Akibat Virus Merah Jambu

Jika “komputer hati”, sudah terserang virus merah jambu. Hendak tahu virus apakah itu? Virus merah jambu adalah salah satu jenis virus ganas yang mengakibatkan penyakit hati pada diri kita, ia juga dapat merebak ke seluruh network tubuh dan kadang sulit untuk dihilangkan. Apalagi jika jarang membuka file C:ImanCintaIlahi.Exe atau file C:ImanRajinibadah.doc, tak jarang virus merah jambu akan semakin menjalar ke seluruh system “komputer hati”.

Untuk mencegahnya, pastikan pertama kali kita hilangkan dahulu file-file yang dapat menjadi pintu masuk virus ini, misalnya program ” cinta.exe” dengan men-scan program tersbut. Lalu masukan disket anti virus yang berisi file “As-Syakhsiyah.exe” yang akan membersihkan sedikit demi sedikit virus merah jambu sampai ke akar-akarnya apabila file tersebut dijalankan. Jika anti virus tersebut tidak berhasil, maka perlu menginstall kembali software “iman”. Pergi ke “kajian-kajian” yang menawarkan “installer iman”. Atau membeli “disket installer” berisi file ” Aqidah.exe” atau “Imankuat.doc”.  

Mengemis Kasih

By theZikr 

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terseretlah aku dilorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi parah
 

Semalam sudah sampai kepenghujungnya
Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang mengiris hati
 

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

Tuhan walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padak

Maraji: Bermacam Sumber





Pendakian Gunung Fuji

24 08 2006

Salah satu dari 10 Karakteristik seorang Muslim adalah Qawiyyul Jism, atau ia mempunyai kekuatan Jasmani, sehingga “Tarbiyah Jazadiyah” adalah salah satu agenda yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang Muslim. Dalam rangka hal itu, saya bersama 7 orang teman-teman para “pemuda” pengurus UMIN (Ukhuwah Muslim Indonesia Nagoya), menghadiri “undangan” rekan Keluarga Muslim Indonesia Hamamatsu (KMI-H) untuk ikut serta dalam acara Tafakkur Alam (Rihlah) Pendakian Gunung Fuji pada hari Sabtu-Ahad 29-30 Juli yang lalu. UMIN adalah organisasi dan “ruang gaulnya” teman-teman Kenshusei wilayah Nagoya dan sekitarnya.

Hari Sabtu jam 23:12 kami berdelapan tiba di Hamamatsu eki setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari Nagoya. Di Hamamatsu eki sudah banyak berkumpul rekan-rekan peserta Rihlah yang berasal dari wilayah Tokai, dan sebagian besar adalah warga Hamamatsu.

Setelah kami sholat Isya’ di Hamamatsu eki, tepat jam 24:00 peserta Rihlah yang berjumlah 56 orang berangkat dengan mengendarai Bus menuju 5-gome atau terminal 5 Gunung Fuji melalui jalur Fujinomiya. Sekedar diketahui, 5-gome adalah terminal terakhir pada rute pendakian gunung Fuji yang bisa dijangkau dengan kendaran mobil.Hari Ahad sekitar jam 3 pagi rombongan sudah tiba di 5-gome (pos 5). Berada di salah satu kaki gunung Fuji pada ketinggian kurang lebih 2000 m di atas permukaan laut menyebabkan suasana pagi menjadi semakin dingin (kurang lebih 5 derajat). Alhamdulillah, panitia sudah memberitahukan untuk membawa jaket lantaran dingin.

Tiba di 5-gome, agenda pertama adalah Sholat Subuh berjamaah. Suasana yang gelap karena tidak ada satupun alat penerangan, menyebabkan kami kesulitan untuk mencari toilet dan mencari air untuk berwudhu.Agenda berikutnya adalah pembagian kelompok dan dilanjutkan apel pagi sebelum keberangkatan. Upacara apel pagi diisi dengan Taujih (Tausyiah), disampaikan oleh Inspektur upacara. Setelah apel pagi, sarapan sambil ta’arruf (kenalan antar peserta) menjadi agenda berikutnya. Suasana pagi yang segar dan bersahabat menyebabkan acara ta’arruf yang sesekali diselingin senda gurau menjadi lebih menyenangkan. Tambah kenalan dan tambah saudara adalah hal yang sangat menyenangkan dalam perjalanan hidup ini.

Hari Ahad sekitar jam 5 pagi pendakian dimulai. 56 peserta yang terbagi menjadi 5 kelompok berangkat bersamaan menuju 6-gome (terminal 6). Dari 5-gome, pendaki harus melewati 7 pos (terminal) sebelum mencapai puncak gunung Fuji yang berada pada ketinggian 3770 m di atas permukaan laut. Waktu tempuh dari pos yang satu ke pos berikutnya kurang lebih 1 jam. Artinya total sekitar 7 jam untuk mencapai puncak.

Pendakian dari pos 5 menuju pos 6:
Pendakian rute ini tergolong pendakian ringan. Selain kemiringannya belum mencapai 45 derajat, pasir hitam masih mendominasi track pendakian. Meskipun begitu ada beberapa peserta yang sudah kelelahan. Dan sekitar 3 orang sudah “gugur” dan menyerah sampai di pos 6 dan tidak bisa melanjutkan ke pos berikutnya yakni pos 7.
Pendakian dari pos 6 ke pos 7:
Pendakian rute ini mulai agak sulit. Selain kemiringannya sudah mencapai 45 derajat, kerikil dan bebatuan sudah mulai “menghiasi” track pendakian. Melampaui pos 6 berati sudah berada pada ketinggian dia atas 3000 m. Selain medannya yang mulai agak sulit, oksigen mulai berkurang. Kepala sedikit pusing mulai menjangkiti sebagian peserta termasuk saya sendiri. Beratnya medan pendakian dari dari pos 6 ke pos 7 menyebabkan peserta sudah mulai “kacau balau”. Yang sebelumnya berangkat perkelompok dengan jarak yang dekat, sudah mulai tidak beraturan. Peserta dengan stamina kuat “melejit” jauh kedepan, sementara yang stamina mulai “down” tertinggal jauh dibelakang. Dan saya yang menjadi ketua kelompok 2 harus “merelakan” 1 orang anggota saya “gugur” hanya bisa sampai di pos 6.

Pendakian dari pos 7 ke pos shin-7 (atau pos 7 baru):
Pendakian rute ini semakin sulit. Dengan kemiringan 45 derajat, bebatuan mulai mendominasi track pendakian. Sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpelosot jatuh. Dan saya sendiri, selain stamina sudah mulai down, kepada bagian belakang bawah semakin pusing, lantaran jumlah oksigen yang semakin berkurang. Tapi saya tidak mau menyerah, saya harus sampai puncak, begitulah kira-kira yang sempat terlintas dalam hati saya. Pada pendakian menuju pos shin-7, peserta yang yang “bergelimpangan” semakin bertambah. Sejak dari pos 6, sudah tercatat kurang lebih 10 peserta yang “gugur” dan tidak bisa melanjutkan pendakian. Saya sediri yang masuk dalam kelompok 2 harus “rela” tersusul oleh kelompok-kelompok dibelakang saya (3, 4 dan 5). Sehingga hanya tinggal sekitar 6 orang dibelakang saya, yang sebagian besar adalah “Bapak-bapak” (sebutan bagi peserta yang sudah menikah termasuk saya).

Pendakian dari pos shin-7 ke pos 8:
Bebatuan mulai menghiasi track pendakian dengan kemiringan melebi 45 derajat. Capek luar biasa, selain pusing, pinggang sakit, begitulah yang saya rasakan. Di pos 8 saya memutuskan untuk tiduran sebentar meskipun hanya sekitar 15 menit. Tidak seperti di pos-pos sebelumnya yang hanya sekedar duduk-duduk, di pos 8 saya memilih untuk berabaringan juga mengisi perut dengan roti tawar yang disiapkan panitia. Kelamaan istirahat di pos 8 menyebabkan saya menjadi peserta terakhir yang sempat tertinggal dari peserta lainnya. Tapi semangat “saya harus sampai puncak” seolah memberikan energi untuk terus melanjutkan pendakian. Di pos 8, peserta yang “gugur” dan tidak bisa melanjutkan pendakian menuju puncak semakin bertambah.

Pendakian dari pos 8 ke 9:
Kata orang Jepang, rute dari pos shin-7 sampai dengan pos 9 adalah rute paling kurushi, rute paling berat. Puncaknya adalah rute 8 ke 9, lantaran energi sudah terkuras habis di rute shin-7 ke 8. Ada 3 penyebab rute ini menajadi rute yang paling kurushii (susah):
1. Kemiringan yang melebih 45 (agak terjal)
2. Track-nya berbatuan
3. Dingin (masih bisa melihat Salju)
4. Oksigen semakin berkurang.
Dan saya sendiri tidak ingin menjadi peserta yang paling “bontot” tiba di puncak. Sehingga pada rute ini saya harus “tancap gas” agar bisa mengejar ketinggalan, paling tidak mengejar peserta yang berada di depan saya. Dan akhirnya bisa terkejar juga.

Pendakian dari pos 9 ke pos 10:
Pendakian pada rute ini, cukup memberi semangat. Meskipun medanya tidak kalah sulitnya dengan rute sebelumnya, tapi puncak dan aktivitas pendaki yang berada dipuncak sudah mulai kelihatan. Sehingga hal ini seolah memberikan “sumber energi” baru untuk bisa mencapai puncak bergabung dengan para pendaki yang lainnya yang sudah lebih dulu mencapai puncak.

Pendakian dari pos 10 menuju PUNCAK:
Waktu tempuh dari pos 10 menuju puncak kurang lebih 30 menit. Dan ALHAMDULILLAH akhirnya saya tiba juga di Puncak, sekitar jam 11:45, setelah menempuh “perjuangan” yang sangat berat dan melelahkan, dan hampir saja meneyerah di pos 8.

Dengan dilatarbelakangi bendera Merah Putih, akhirnya saya bisa berpose dengan peserta yang lain di puncak Gunung Fuji pada ketinggian kurang lebih 3700 meter. Dari 56 peserta, tidak semua peserta yang bisa sampai puncak. Semua peserta berangkat hampir bersamaan sekitar jam 5 pagi, tapi orang pertama yang tiba di puncak sekitar jam 10 kurang dan orang terakhir yang tiba di puncak sekitar jam
13:00.
Kurang lebih 1 jam saya berada dipuncak, selanjutnya turun gunung. Waktu tempuh untuk turun sampai di pos 5 (tempat parkir bus) sekitar 3 -4 jam. Dan peserta pendakian gunung Fuji KMI-H meninggalkan pos-5 dengan bus sekitar jam 17:30 dan tiba di Hamamtasu eki sekitar jam 21:00. Dan akhirnya, hari Ahad sekitar jam 22:15 kami tiba di Nagoya eki. Artinya lebih dari 36 jam kami tidak tidur, walah………

Penutup:
Akhirnya pada hari Ahad 30 Juli 2006 jam 11:45, Gunung Fuji-pun bisa saya taklukan, Alhamdulillah.

Sebagian “gambar” boleh ditengok di: http://endores.photos.us.com/c1039070.html





Penyakit FLU para Kader Dakwah

17 08 2006

Anda terkena sakit flu? Biasanya apabila kita banyak melakukan aktivitas tetapi tidak disertai istirahat dan makanan yang menunjang serta kondisi cuaca yang tidak bersahabat dapat membuat seseorang akan mudah mendapatkan penyakit FLU tersebut. Untuk mengobati penyakit tersebut biasanya dokter akan menganjurkan minum obat dan istirahat yang cukup.

Lalu bagaimana seorang ikhwah bisa terkena FLU (Futur, Lesu, Uzlah)? Jawabannya tidak jauh berbeda dengan seroang yang terkena penyakit flu. Adanya beberapa kasus tentang al akh yang kemudian sangat aktif di organisasi dakwah kemudian tiba-tiba enggan untuk aktif kembali, ada juga yang hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban sebagai mutarobbi dengan prinsip “Asal Murobbi Senang” atau “Asal tidak tercatat negatif dalam struktural”.

Penyebab sakit FLU

Untuk mengetahui seorang ikhwah terkena penyakit FLU, maka ada baiknya kita membuka kembali buku yang menjadi acuan aktivis tahun ‘90an yaitu “Terapi Mental Aktivis Harakah” tulisan DR. Sayyid Muhammad Nuh. Penyakit Futur ditempatkan pada bab pertama setelah bab pendahuluan mengenai “penyakit-penyakit di tengah jalan.” Dua hal utama terjadinya futur adalah berlebih-lebihan dalam beragama dan suka menyendiri atau meninggalkan jamaah.

Terjadinya seorang al-akh berlebih-lebihan dalam beragama dikarenakan banyaknya tugas yang diemban oleh ikhwah tersebut dan tidak dibantu dalam sebuah team. Tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan atau rahasia umum dikalangan kita bahwa apabila seorang ikhwah yang mendapatkan amanah sebagai ketua dalam jabatan struktural maka biasanya ketua tersebut yang akan dituntut untuk tugas-tugas yang ada dan ikhwah yang lain sibuk dengan “tugas-tugas luar struktur.”

Hal lainnya adalah suka menyendiri atau meninggalkan jamaah, biasanya seorang ikhwah lebih menyukai kesendirian dikarenakan tidak lagi merasakan manisnya semangat ukhuwah dalam berjamaah serta tidak menemukan adanya nuansa ruhiyah ketika melakukan aktivitas ibadah dalam kesunyian. Dalam kesunyian ini, apabila ada saudaranya yang membiarkannya dalam kondisi tersebut, lambat laun namun pasti akan “menjerumuskan” akh tersebut dalam kelesuan beraktivitas dakwah. Beliau akan lebih suka dalam kemanisan beribadah daripada kesusahan aktivitas dakwah.

Lesu akan menjadi tingkat yang paling berbahaya dalam kondisi futur bagi seorang ikhwah, karena apabila seorang al-akh sudah mengalami kelesuan biasanya lebih suka untuk Uzlah. Uzlah bisa dijadikan alasan seorang ikhwah karena lebih merasakan manisnya nilai ruhiyah daripada berdakwah ke masyarakat. Adapula yang beralasan bahwa dengan bergaul dengan manusia dapat menganggu konsentrasi beribadah dengan melupakan pengertian ibadah yang sebenarnya.

Terapi Penyakit FLU Kader

Untuk mengobatinya tentu saja yang bersangkutan harus dapat memotivasi diri kembali dengan membaca buku-buku yang diperlukan, muhasabah diri pada saat “istirahat”. Tetapi, selain penyembuhan oleh yang bersangkutan maka kondisi lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan tersebut. Menjenguk dan memberi “oleh-oleh” dari saudaranya bisa menjadi cara untuk mempercepat proses penyembuhan.

Seperti etika dalam menjenguk orang sakit, diusahakan tidak membahas tuntutan tugas dakwah, masalah-masalah dakwah yang harus diselesaikan, tetapi pembicaraan dapat diarahkan mengenai perhatian terhadap dirinya, keluarga dan hal-hal lain mengenai kesulitan prbadi kehidupannya dan akan lebih baik bila menawarkan diri untuk membantunya membantu permasalahan yang dihadapinya.

“Bagaimana kabar antum akhi? Sudah lama tidak pernah kelihatan?” Terdengar lebih baik dan manis daripada teguran “Kemana saja antum? Banyak tugas tuh!” atau “Kemana saja antum? Dimana saja antum bersembunyi antum akan tetap dicari akhi, bahkan bisa jadi catatan kaderisasi untuk tingkatan antum!”.

Atau “Akh, tugas yang kemarin antum dapat ada yang bisa ana Bantu?” juga terasa lebih baik dan melegakan bila dibandingkan “Bagaimana nih kerjaan antum? Kok hasilnya begini?”. Ucapan-ucapan tersebut kelihatan sederhana tetapi sangat berpengaruh dalam dakwah fardiyah, silahkan baca kembali Sentuhan hati penyeru dakwah, panduan berdakwah syabiah tulisan Abbas As-sisi.

(Sumber : Majalah Tatsqif Edisi 17 Th. II/JUmadil Akhir 1427 H/Juli-Agustus 2006)





Karakteristik Dienul Islam

10 08 2006

1.Rabbaniyah

Kata “Rabbani” menunjukkan kedekatan yang sangat kuat dengan Rabbul Izzati, yakni Alloh. Yang dimaksud Rabbaniyah meliputi 2 hal :

a. Rabbaniyah Al-Masdar: Rabbaniyah dalam sumber ajaran.

Dalam agama selain Islam, biasanya nama agama tersebut dinisbatkan kepada nama penyerunya atau nama daerah asal kemunculannya. Misalnya Budha, yang diambil dari nama pencetusnya yaitu Budha Gautama, Kristen dari Yesus Kristus, atau umat Islam menyebutnya Nasrani karena yesus lahir dari daerah Nazaret. Alloh menegaskan dalam Al-Quran surat An-Najm:1-4. Jelaslah bahwa ajaran Islam bersih dari unsur campur tangan manusia. Islam murni datang dari Alloh SWT. Bahkan nama “Islam” adalah nama yang berasal dari Alloh SWT, bukan dari manusia. Sudah merupakan “rekayasa Ilahi”. Selain sumber ajaran Islam hanya dari Alloh SWT, metode (manhaj) untuk menerapkan ajaran tersebut juga ditetapkan oleh Alloh. Sehingga metode untuk melaksanakan Islam bukanlah sebuah rekayasa yang dipengaruhi oleh fajtor individu, keluarga, golongan, ataupun bangsa.

b. Rabbaniyah Al-Ghayah: Rabbaniyah dalam Tujuan

Dalam Islam, tujuan akhir dari semua peribadatan adalah Alloh SWT. Dalam ajarannya ada ketentuan tentang halal, haram, wajib, sunah, mubah, dan sebagainya. Itu semua dalam rangka agar manusia mendapat keridhaan Ilahi dengan berbuat taat kepada-Nya.
Dalam ajaran Islam terdapat tujuan-tujuan antara yang bersifat social humanity, misalnya puasa agar sehat, bekerja keras agar berhasil. Namun di atas semua itu, tujuan akhirnya adalah agar manusia dalam mengarungi kehidupan ini selalu dalam naungan ridha Ilahi.

2.Insaniyah (Kemanusiaan)

“ Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba : 28)
Islam memiliki masdar yang rabbani, yaitu dari Alloh, pencipta alam semesta. Alloh SWT Maha Mengetahui tentang ciptaan-Nya, sehingga Islam yang Alloh turunkan di muka bumi sebagai aturan hidup bagi manusia merupakan pedoman hidup untuk meraih kemuliaan, kebaikan, dan keselamatan dunia akhirat. Semua ajaran Islam dapat dilaksanakan oleh manusia, karena dienul Islam diturunkan oleh Alloh SWT sesuai dengan fitrah dan kemampuan manusia. Alloh juga telah mengangkat rasul dari kalangan manusia biasa, yang tidak ada kelebihan mereka atas manusia yang lain kecuali karena mereka memperoleh wahyu dari Alloh SWT. Sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat melaksanakan ajaran Islam.

Sayyid Qutub mengatakan: bahwa Islam adalah konsep yang relistis, bukan konsep yang rasional semata ataupun idealisme tanpa wujud, sehingga Islam tidak dapat diraih oleh semua manusia. Semua konsep dalam Islam sesuai dengan realitas manusia dengan segala potensi kelebihan dan kelemahan yang dimilki manusia. Tujuan dari ibadah dalam Islam adalah keridhaan Alloh SWT, yang itu juga berarti kebahagiaan hidup manusia dunia dan akhirat.

3.Syumuliyah (Universal – Integral)

Islam berasal dari Alloh yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, yang lahir dan yang batin, yang di langit dan yang di bumi, serta seluruh sisi yang menyangkut kehidupan manusia. Islam yang datangnya dari sisi Alloh meliputi itu semua.

Imam Hasan Al Banna mengatakan: “Islam adalah risalah yang terbentang luas, sehingga meliputi seluruh abad sepanjang zaman, terbentang luas meliputi semua cakrawala umat, dan begitu mendetail sehingga memuat seluruh urusan dunia dan akhirat.”

Keuniversalan Islam menjadikan Islam sebagai pedoman hidup bagi manusia yang tidak dibatasi oleh waktu, ruang dan tempat. Islam tetap up to date sepanjang zaman. Firman Alloh SWT : (Al-Anbiya :107).
Islam mencakup segala aspek kehidupan manusia, dari akidah yang merupakan fondasi bangunan Islam hingga siyasah (politik). Islam mengajarkan tentang bagaimana menjadi mahasiswa, dosen, guru, politikus, dokter, wartawan, advokat, petani, pedagang, dan karyawan yang Islami, menekuni apa saja profesinya sebagaimana yang telah digariskan dalam Islam.

4.Al-Wasthiyyah (Moderat) dan Tawazun (Seimbang)

Moderat dan seimbang adalah karakteristik Islam yang memungkinkan manusia dapat melaksanakan ajaran Islam dalam kondisi bagaimanapun.
Manusia adalah makhluk Alloh yang tersusun dari unsur samawi (langit) yaitu ruh yang cenderung kepada kebaikan, dan unsur ardhi (bumi) yaitu syahwat yang cenderung kepada dosa. Islam memperhatikan kedua unsur tersebut, yaitu dengan mengarahkan dan menyalurkannya sehingga membawa mereka menuju keridhaan Ilahi.
Islam memberikan perintah dan larangan, namun disitu ada rukhsah (keringanan) pada kondisi-kondisi tertentu yang secara fitrah manusia tidak dapat melaksanakannya. Islam mewajibkan puasa Ramadhan, namun ada keringanan bagi para musafir untuk mengganti puasanya di bulan yang lain.

5.Al-Wudhuh (Jelas)

Tujuan dienul Islam secara umum adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah kepada cahaya Islam yang terang benderang. Seperti disebutkan dalam Q.S. Ibrahim :1 .
Ajaran Islam adalah suara yang jelas baik sumbernya, metodenya, maupun tujuannya. Sehingga ini cukuplah bagi tiap Muslim apa-apa yang telah datang kepada meraka dari Al-Quran dan Al-Hadits. Islam telah secara jelas menguraikan tentang akidah, ibadah, akhlaq dan sebagainya. Bahkan sampai hal-hal kecil dalam kehidupan manusia, seperti adab bertamu, masuk kamar mandi, dan sebagaianya.

6.Al-Waqi’iyah (Kontekstual)

Manusia diciptakan dengan segala kelebihan serta kelemahan yang dimilikinya. Islam mengakui realitas manusia sebagai makhluk yang mempunyai kombinasi penciptaan. Oeh karena itu, di dalam pengarahan pembentukan pola pikirnya, dalam ajaran moralitasnya, dan di dalam hukum kontekstualnya, Islam tidak pernah melupakan realitas alam, kehidupan dan manusia dengan segala kondisi dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Islam memberikan perintah dan larangan, namun disitu ada rukhsah (keringanan) pada kondisi-kondisi tertentu yang secara fitrah manusia tidak dapat melaksanakannya. Seperti shalatnya orang sakit dengan duduk atau berbaring, tayamum, berbukanya orang musafir dengan menqadanya di hari lain.
Keringanan-keringanan itu semua merupakan perhatian Alloh akan realitas manusia dan kondisi mereka yang tidak stabil. Alloh menjelaskan dalam QS. Al-Hajj: 78 dan Al-Baqarah: 185.

Maraji: Karakteristik Islam by Ust. Yusuf Qordhowi





Buku: “MANHAJ HAROKI” Bukan Hanya Cerita Masa Lalu

10 08 2006

Kita percaya bahwa sejarah bukan hanya cerita tentang serpihan peristiwa masa lalu, namun rangkaian kehidupan umat manusia itu juga memberikan pelajaran tak terperi pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Bila al-Qur’an banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu, dan hadits pun banyak merekam beragam peristiwa penting dalam perjuangan Islam, maka semua itu cukup menjadi landasan bagi kita untuk memberikan porsi kajian yang besar pada sirah , lebih-lebih sirah nabawiyah (narasi kehidupan Nabi).

Karena itu, K.H. Rahmat Abdullah, yang memberi pengantar pada buku ini, melontarkan kritiknya terhadap kerangka keilmuan yang dibentuk oleh para ulama dahulu, yaitu akidah, fiqih, dan akhlak. Ketiga kajian ini diakuinya memang cukup mampu membentuk pribadi Muslim yang sadar akan kewajibannya terhadap Allah dan masyarakat. Namun menurutnya ada yang terputus.

Ketiga kajian ini jelas kekurangan satu hal pokok, yaitu “mata rantai yang akan menghubungkan mereka dengan Rasulullah, bahkan dengan Nabi-Nabi sebelum-nya.” Ini disebabkan tiadanya kajian sirah ataupun sejarah Islam yang berdasar-kan wa’yu (kesadaran ilmiah). Padahal sekali seseorang berbicara sirah, maka ia pasti merupakan bagian integral dan ummatan wahidah . Ia akan mewarisi spirit masa lampau umat Islam yang sangat kaya dan menumbuhkan militansi. Karena itu, putusnya mereka dengan sirah membuat lemahnya girah dan ruhul jihad.

Di sinilah peran penting yang dimainkan buku sebesar Manhaj Haraki ini. Sejarah yang ditulis da’i mujahid ini menampilkan sosok yang jauh berbeda dengan para penulis “ilmiah” pada umumnya. Penghayatan terhadap ruhul jihad dalam kehidupan Rasulullah merupakan modal utamanya. Hal ini karena mereka berada pada satu alur yang sama dengan Rasulullah, yaitu harakah dan dakwah. Maka penggambaran yang mereka sajikan bukan lagi masalah kronologis belaka, tetapi sudah masuk pada isi pembahasan yang mengasyikkan dan sangat bermanfaat bagi dakwah dan pergerakan.

Buku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang. Namun kitab Manhaj Haraki dalam Sirah Nabi Saw. ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir Muhammad al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena studinya yang lebih spesifik, yaitu kajian tentang pergerakan dan perjuangan politik dalam sirah nabawiyyah , namun Munir al-Ghadban juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studinya yang ekstensif, analisa yang tajam dan mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.

Tokoh pergerakan yang juga dosen di Universitas Ummul Qura Saudi Arabia dan di Jami‘ah al-Iman Yaman ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontemporer. Marhalah (periode) demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan sangat memikat sekali, seraya dibedah watak dan karakteristiknya, lalu diproyeksikan dan direkonstruksi kembali ke dalam iklim pergerakan Islam modern.

Dalam jilid pertama buku ini, ada empat periode yang dibahas tuntas oleh Munir Muhammad Ghadban. Pertama, periode berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi. Kedua, berdakwah secara terang-terangan dan (tetap) merahasiakan struktur organisasi. Ketiga, mendirikan negara. Keempat, negara dan penguatan pilar-pilarnya.

Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Harus diakui, kitab ini menjadi bacaan ‘wajib’ bagi pada aktivis da‘wah dan Harakah Islam, serta para peminat sejarah Islam. Juga menjadi bacaan yang bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Karena kitab ini nyaris sempurna dalam mengupas dan merunut manhaj haraki atau langkah-langkah terprogram yang ditempuh Nabi saw. dalam gerakan dakwahnya, sejak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah.

Jika kita ingin agar gerakan Islam yang kita lakukan berjalan secara benar, maka kita harus melacak tahapan-tahapan pergerakan Rasulullah langkah demi langkah serta mengikuti langkah-langkah tersebut. Allah berfirman: “Sesungguh-nya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (al-Ahzab: 21).

Lebih dari itu, buku ini tidak hanya memberikan jawaban terhadap pertanyaan ”Pendekatan macam apa yang harus diterapkan Harakah Islam kontemporer dalam kondisi seperti sekarang ini”, namun buku ini juga lahir dari pengalaman riil penulisnya yang sudah malang melintang dalam belantara Harakah Islam. Inilah “roh” yang menjadikan buku ini hidup, bukan sekadar “keasyikan intelektual” belaka. (Makmun Nawawi)

________________

Dengan mengucapkan jazakamullah kepada Ustadz Rahmat Abdullah yang telah menorehkan catatan berharga dalam penerbitan buku ini, kami persilahkan Anda untuk segera mengkajinya.

“Alhamdulillah!” begitulah pujian yang harus kami panjatkan mengiringi penerbitan buku Manhaj Haraki—Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi Saw . jilid kedua ini. Selain sebagai tanda syukur dari begitu banyak nikmat yang sudah kita terima dari-Nya, pujian tersebut juga merupakan kesyukuran khusus kami atas terbitnya karya Munir Muhammad al-Ghadban ini, yang diluncurkan hampir bersamaan dengan jilid kesatu buku ini. Dengan demikian, maka Anda, pembaca yang budiman, bisa memperoleh pemikiran yang utuh dan menyeluruh dari tokoh pergerakan kelahiran Syria ini.

Sebagaimana yang kami kemukakan dalam jilid kesatu buku ini, ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan fenomena terakhir yang menjangkiti bangsa ini, di mana banyak aktivis Islam yang diburu dan diciduk oleh orang tak dikenal, maka buku ini mempunyai relevasi yang kuat sekali. Karena dengan berbagai macam contoh peristiwa yang ditampilkannya, kitab ini memberikan penjelasan yang luas sekali terhadap pertanyaan “Strategi macam apa yang harus diterapkan Harakah Islam dalam kondisi seperti sekarang ini?”

Karya berharga tentang sirah nabawiyah (narasi kehidupan Nabi) ini tidak hanya menyajikan fakta dan data dari setiap fase sejarah yang dilewatkan Nabi, namun penulisnya juga mempresentasikan analisa yang cerdas sekali seputar strategi pergerakan dan perjuangan politik yang dilakukan Sang Utusan. Ulasan Munir al-Ghadban yang memukau tentang berbagai karakteristik yang mewarnai setiap marhalah (periode) perjuangan Rasulullah, seyogianya memberikan pencerahan yang berlimpah bagi para aktivis da‘wah dan harakah Islam modern, bahkan ia mesti menjadi tuntunan dari zaman ke zaman.

Seraya mengucapkan jazakamullah kepada Ustadz Rahmat Abdullah yang telah mengguratkan catatan berharga dalam penerbitan buku ini, kami persilahkan Anda untuk segera mengkajinya.

uku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang, namun kitab Manhaj Haraki ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena kajiannya yang lebih spesifik, yaitu tentang pergerakan dalam sirah nabawiyah , namun penulis juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studi yang ekstensif dan analisa yang mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.

Tokoh pergerakan yang juga dosen di sejumlah universitas Timur Tengah ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi Harakah Islam kontemporer. Marhalah demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan amat memikat, seraya dibedah karakteristiknya, lalu direkonstruksi ke dalam iklim Harakah Islam modern.

Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali, sehingga menjadi referensi ‘wajib’ bagi para aktivis da‘wah dan harakah Islam, para peminat tarikh Islam, juga menjadi bacaan bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Lebih dari itu, publikasi karya ini bukan hanya karena “keasyikan intelektual” penulisnya, tapi justru lahir dari pengalaman riilnya yang sudah malang melintang dalam belantara Harakah Islam. Inilah “roh” yang menjadikan buku ini hidup.

• Tercerabut dari sejarahnya.
• Banyak pergerakan modern menuai kegagalan
• yang biasanya dirangkai dengan pesan agar semua itu menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita
• Kritis.
• Bagaimana penulis begitu lincah sekali dalam menggambarkan tahap demi tahap pergerakan Nabi.
• Kajian fiqih juga akan kering, bila tidak merujuk pada sirah Nabi.
• Sirah mengajarkan kearifan.
• Bukan keasyikan intelektual semata, rasikhun fil-ilm.
• Bila gerakan Islam gagal di tengah jalan, penting menyimak buku ini
• Tidak hanya menyajikan fakta, tapi juga membentangkan analisa yang radikal, seraya membandingkannya dan merekostruksinya ke dalam era pergerakan Islam mutakhir
• Sebuah penulisan sejarah yang baru
• Pendekatan yang asyik.
• Berangkat dari pengalaman riil
• Memberikan analisa yang—harus dibilang—mengagumkan.
• Kajian yang ekstensif

Maraji: http://www.robbanipress.co.id/resensi/m.htm