Aku Harus Berpolitik

14 07 2006

Ketika Azam untuk senantiasa berada dalam “barisan Dakwah” telah terhunjam di dalam dada, ia tidak boleh “hilang”, sedetik sekalipun. Dan ketika Dakwah menyeru ke dalam Islam, maka ia harus mampu “menyentuk” semua aspek kehidupan, lantaran salah satu “karakteristik” Dienul Islam yang “Syumul” (Universal, komprehensif, dan mencakup semua aspek kehidupan). Jika dakwah menyeru ke dalam Islam yang “syumul”, maka ia harus bersifat “syumul”. Dakwah harus “merambah” ke dalam semua aspek kehidupan, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pendidikan, dan lain sebagainya, termasuk Politik (As-Siyasi). Jika ada satu saja dari semua aspek kehidupan ini ditinggalkan, maka hal itu akan mengurangi sifat dakwah yang sumul.

Berdakwah di “ranah Politik”,……agak asing kendengarannya. Lantaran masyarakat sudah terlanjur mendefinisikan “ranah politik” sebagai ranah yang “kotor”, sehingga ia “tidak pantas” untuk didekati. …..Hmmm, sebuah definisi yang terlalu jauh “meninggalkan” makna atau “substansi” dari “politik” itu sendiri, terlebih-lebih jika dikaitkan, bagaimana sebenarnya Islam memandang “dunia” yang satu ini.

Sebuah pemahamaan yang “sempit” jika Politik “As-Siyasi” selalu dihubungkan dengan “Partai Politik”. Padahal Politik tidak mesti bermuara pada sekedar Partai Politik. Mengutip ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Banna: “Berpolitik adalah salah satu aktivitas dalam dakwah yang muaranya adalah untuk mengurusi umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an di tengah-tengah manusia“.

Dalam konteks bernegara, Amal As-Siyasi (berpolitik) tidak sekedar berorientasi pada kekuasaan dan mencapai kedudukan-kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi Amal Siyasi semata-semata ditujukan bagi penegakan hukum-hukum ALLOH di dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan yang telah digariskan oleh ALLOH.

Ada sebuah “obsesi” yang disampaikan Imam Syahid kepada para pemuda: “Adalah sangat mengherankan sebuah faham seperti Komunisme, Kapitalisme, memiliki negara yang melindunginya, yang mendakwahkan ajarannya, yang menegakkan prinsip-prinsipnya, dan mengajak masyarakat untuk menuju ke sana. Dan lebih mengherankan lagi, kita dapati beragam ideologi sosial-politik di dunia ini bersatu untuk  menjadi pendukungnya. Mereka perjuangkan demi tegaknya ideologi tersebut dengan jiwa, pengorbanan, pikiran, media, harta, dan benda serta kesungguhan. Namun sebaliknya, kita tidak mendapatkan sebuah negara yang menegakkan ideologi yang datangnya dari ALLOH yakni Al-Islam, yang bekerja untuk menegakkan kewajiban Dakwah Islam, yang menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa sebagai ideologi alternatif dunia yang  memberi solusi yang benar dan jelas bagi selurih persoalan umat manusia” (Majmu Rasail I).

Jika kita telah meng-azamkan diri untuk tetap berada di barisan dakwah yang menyeru kepada Islam, maka jangan “lupakan” ranah politik sebagai salah satu “medan peperangan” yang harus dimenangkan, …..ya….harus dimenangkan. Karena kemenangan dakwah yang diperjuangkan oleh para pendukungnya adalah bermuara pada kebaikan hidup di dunia dan akhirat. …Ya….Aku harus berpolitik, lantaran ia adalah “seni” untuk mengurus umat dan demi tegaknya kalimat ALLOH di muka bumi.





Arti Sebuah Buku Saku

12 07 2006

Masih ingat tentang “Buku Saku Pramuka”?. Dinamakan buku saku lantaran ukurannya yang kecil, ringan, dan bisa disimpan di saku. Sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Kapan saja bisa dibaca. Beberapa tahun terakhir ini “Buku Saku/Kecil” juga “menghiasi” buku-buku yang berisi kajian keagamaan, sejak masalah fiqh, keluarga dan jodoh, kajian Hati sampai buku-buku seputar “Pergerakan”.  

Akhir-akhir ini, sebuah buku saku/kecil berjudul “Taujihat: Ri’ayah Ma’nawiyah” selalu “hadir” di hadapanku, lantaran sering kubawa kemanapun aku pergi. Di manapun aku berada, di Kereta saat perjalanan menuju kampus, saat menunggu misalnya, aku selalu menyempatkan diri untuk membacanya.

Ri’ayah Ma’nawiyah yang sering diterjemahkan sebagai “Memelihara/Menjaga Integritas Moral”, sebenarnya adalah salah satu kajian yang sudah tidak asing bagiku. Tapi, ia sangat “berarti” bagiku, salah satunya lantaran ia “dikemas” dalam sebuah buku kecil yang bisa kubawa kemana-pun aku pergi, dan sesering mungkin bisa kubaca di setiap keadaan waktu luangku. Buku kecil berjudul “Taujihat: Ri’ayah Ma’nawiyah” berisi Taujih atau nasihat-nasihat dari para “aktivis dakwah dan pergerakan”, bagaimana seorang kader dakwah menjaga moralitasnya. “Integritas moral” para kader dakwah penyeru kebenaran menjadi faktor yang sangat penting guna menghadapi “medan peperangan”, ya, peperangan antara kebenaran “Al-Haq” dan kebatilan “Al-Bathil”. Sehingga ia harus dijaga dan dipelihara.

Buku kecil itu menjadi begitu “berarti” bagiku. Ia kerap hadir di hadapanku lantaran ukurannya yang kecil sehingga memudahkannku untuk aku bawa ke manapun aku pergi. Dan saat aku merampungkan bacaan semua isinya, akupun tidak pernah bosan untuk mengulanginya lagi dari awal, ….. ya….., lantaran ia kerap hadir dalam keseharian “aktivitas-ku”. Tak berlebihan kiranya, jika ia senantiasa menjadi “pengingat” jika aku “lupa”, ya, lantaran ia sering “nongkrong” di tas rangsel-ku, yang senantiasa menemaniku.  

Buku kecil itu diawali dengan nasihat berjudul “Ma’iyatullah dan Optimisme Kader Dakwah” tulisan Ust. Muhith M. Ishaq, Ustadz yang pernah “berkunjung” ke Jepang beberapa saat yang lalu. …….Hmm…., ungkapan humor saat aku berkenalan semisal: “nama Abu faiz, status bekeluarga, istri dua ….. anaknya” adalah ungkapan humor yang aku “peroleh” dari beliau pada saat aku mengikuti kajiannya di Jepang ini.

Ada pesan singkat di bagian akhir/sampul belakang “buku kecilku” itu, yaitu “Antum harus menyimaknya, karena berbagai macam Taujih dari para Ustadz yang direkam dalam buku ini, InsyaaALLOH menjadi penyegar rokhani Antum. Sehingga seberat apapun kendala yang menghadang di depan Antum, semoga Hamasah (gelora semangat) Antum selalu terjaga”.

Ya ibarat kita yang sedang dalam perjalanan jauh, kahausan akan sering melanda, maka kita harus berhenti sejenak, mencari air untuk diminum sebagai penyegar dan penghilang rasa haus, dan perjalananpun bisa dilanjutkan kembali. Begitulah, Taujih dari para Ustadz ibarat air, yang dengannya rukhiyah kita akan menjadi “segar”. Sehingga kita membutuhkannya tidak hanya sekali, tapi secara terus menerus, tak pernah henti, diulang dan terus diulang, lantaran hati ini mudah sekali “terbolak-balik”. Dengan buku kecilku itu, “Taujih” dalam untaian kata, bisa diperoleh setiap saat, ya setiap saat dan setiap keadaan.





Program “Imunisasi” bagi Kader Dakwah

10 07 2006

Imunisasi, siapa yang tak kenal dengan “program” yang satu ini. Hampir semua dari kita yang mempunyai balita, pasti pernah berinteraksi dengan Imunisasi. Program ini biasanya diberikan kapada anak-anak khususnya Balita untuk memberi kekebelan terhadap beberapa penyakit.

Tidak hanya Balita, semua dari kita membutuhkan kekebalan di segala aspek kehidupan kita. Begitu juga para kader-kader dakwah, penyeru kepada jalan ALLOH, para pejuang kebenaran “Al-Haq”, yang senantiasa menegakkan kalimat-NYA di muka bumi ini, butuh imunisasi untuk “kekebalannya” dari beragam penyakit “Al-Bathil”. Lantaran ”rongrongan” dengan beragam penyakit oleh Al-Bathil terhadap Al-Haq bersifat “abadi”.

Al-Bathil akan senantiasa memerangi Al-Haq dan “pasukan-pasukan” yang berada dibelakangnya, memerangi para pembelanya. Sehingga para kader-kader da’wah membutuhkan “kekebalan” agar ia tidak mudah tumbang dan “menyerah” atas kebatilan. Jika Ust. Fathi Yakan menjabarkan mereka-mereka yang “tumbang” dalam bukunya, “Yang Berguguran di Jalan Dakwah”, sebaliknya, Ust. Abu Ali Marwan menjabarkan mereka-meraka yang “teguh” dalam bukunya “Yang Tegar di Jalan Dakwah”. “Semuanya” bukan tanpa sebab.

Agar dakwah bisa bertahan lama ia harus dibentengi. Termasuk para kader-kader dakwah, para penyeru kepada jalan ALLOH, mereka harus dibentengi dengan imunitas yang baik. Di antara benteng itu adalah sbb:

1.     Al-Isti’ab an-Nazhari, yakni penguasaan teori, penguasaan Kafa’ah keIslaman yang baik, mempunyai bekal pengetahun tentang Al-Islam yang baik. Di dalamnya meliputi pemahamaan Akidah yang betul, termasuk Syari’ah dan pengetahuan-pengetahuan dasar keIslaman lainnya. Ibarat kendaran, ia adalah bahan bakar yang menjadi sumber “energi” untuk bergerak dan melaju.

2.     Al-Isti’ab al-Maknawi, yakni penguasaan moralitas. Pengetahuan dan pemahaman tentang keIslaman tidaklah cukup untuk “menopang” kerja dakwah. Ia harus ditopang juga oleh karakteristik atau moralitas seorang pen-dakwah. Faktor moralitas ini mencangkup amanah, sabar, jujur, dll.

3.     Al-Isti’ab al-Amali, yakni penguasaan amal. Pengetahuan dan pemahamaan yang baik, serta moralitas yang baik, tanpa dibarengi amal, ia tidak akan membuahkan apa-apa. Keteguhan dalam ber-amal juga menjadi faktor “penguat” bagi para pen-dakwah agar ia tetap teguh dan tegar di jalan dakwah, seberat apapun hambatannya. KeIstiqomahan dalam beramal adalah faktor penguat hubungan antara ALLOH dan para pendakwah.

Sebagai penutup, berikut saya nukilkan ayat dalam Al-Qur’an, yakni Al ‘Imran 79: [Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya].  Rabbani dalam ayat tersebut menjadi salah satu karakteristik dalam Dakwah. Dalam tafsir Al-Jalalain, kata Rabbani dalam ayat di atas ditafsirkan sebagai “Ulama ‘amilin”, yakni mereka yang berilmu dan faham serta mengamalkannya. 

Wallahu’aklam bissowab





Karena Dia Bukan Malaikat

5 07 2006

Ummi-chan, begitulah aku biasa memanggilnya. Sebuah panggilan yang aku “sematkan” kepada istriku sejak kami masih di Tokyo dulu. Ter-ilhami dari anak seorang sahabat di Tokyo yang memanggil Abi-chan kepada Ayahnya. Hmmm, enak juga kedengarannya. Dan, sampai sekarangpun, akhirnya aku terbiasa memanggil ummi-chan kepada istriku,…….jadi ikut-ikutan dech……

Aku menikahi istriku saat ia berada di tahun terakhir “bangku” kuliah pada Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, dan saat sibuk-sibuknya menyeselasaikan tugas akhir alias skripsi. Dan setelah menikah, akupun tidak banyak membantu dalam menyelesaikan skripsinya, lantaran aku harus berangkat ke Jepang untuk melanjutksan studi ke jenjang Master. Sebelum menikah, aku “mengetahuinya” bahwa ia seorang “akhwat” aktivis dakwah kampus dengan “jam terbang” tinggi, jauh lebih “tinggi” dariku. Banyak “amanah-amanah” dakwah dipegangnya, Seksi Kerokhanian Islam (SKI), departemen Keputrian masjid Mardhiyah UGM dan KAMMI, adalah beberapa di antaranya.  

Menikahi “seorang” aktivis dakwah, hmmm….ternyata telah banyak mempengaruhi “cara pandang-ku” dan “perlakuan-ku” terhadapnya. Dan hal itu terbawa sampai aku berada di Jepang saat ini. Kadang aku “meremehkan” hak-haknya lantaran kesibukanku “atas nama” dakwah. Ya……, ketika aku jarang di rumah di hari Sabtu dan Ahad, bahkan kadang harus menginap lantaran ada “urusan” untuk kepentingan dakwah, aku sering beranggapan, bahwa istriku akan “mengerti” dan “memaklumi” semua aktivitas-ku di akhir pekan. Toh semua aku lakukan “atas nama dakwah”. Sebagai seorang wanita yang sudah lama “bergelut” di dunia dakwah dan pergerakan, tentunya ia senantisa bisa “memaklumi” dan “mengerti” terhadap semua aktivitas-ku di “dunia dakwah”, begitulah kira-kira cara pandangku.

Hmmm…..Ternyata, dia bukanlah Malaikat, dia tidak lebih dari seoarang wanita biasa dengan segala fitrahnya. Dia butuh “bermain bersama” di akhir pekan, sesekali meninggalkan rumah dengan segala kesibukan dan rutinitas di dalamnya, piknik bersama, bermalam di luar rumah, melakukan rihlah bersama. Lantaran Rekreasi, Riyadhoh, Rihlah, Refreshing melepaskan “kepenatan” adalah kebutuhan “fitrah” manusia tak terkecuali para aktivis dakwah, ia harus dipenuhi untuk menjaga keseimbangan “fitrah” yang ada dalam diri manusia.

(Hmmmm, musim panas gini, enaknya main ke pantai……………….) 

Note: Ingatanku langsung tertuju kepada sebuah “kenangan indah” pada musim panas tahun lalu, menjelajahi teluk Irago dengan kapal boat, singgah di dua Pulau kecil yang terkenal dengan TAKO-nya, yakni: Shinoshima dan Himakajima, berenang di pantai bersama Faiz, dan bermalam di Irago Garden Hotel, serta menikmati Panorama pantai di malam hari. Beberapa jebretan bisa ditengok di: http://www.edi-suharyadi.com/Gallery.htm   (pada folder: Ekspedisi ke teluk IRAGO)





Sebuah Azam

5 07 2006

Pengembaraan, begitulah blog ini aku beri judul. Agak “membingungkan” memang. Tapi, begitulah. Pengembaraan, perjalanan dalam sisi duniaku yang yang sesungguhnya. Ya, duniaku yang yang sesugguhnya, dunia “pergerakan” (Al-Harakah), itulah duniaku, lantaran “kehidupan” yang fana’ ini tidak lebih dari “senda gurau” belaka.

Menapaki dunia “pergerakan” telah “tertancap” begitu dalam di lubuk hatiku. Ia telah menjadi azam dalam hidupku. Perkenalanku dengan “dunia” ini terjadi sejak akhir tahun 1993, saat aku memilih Jogja sebagai awal dari “perjuanganku”. Ya, kota Jogja, orang lebih mengenalnya sebagai kota pelajar. Tapi bagi diriku, ia adalah kota yang “penuh” dengan “gejolak” dunia pemikiran dan pergerakan, dari yang sekuler sampai Islami, baik Pragmatis maupun Idealis, dari yang biasa-biasa saja bahkan yang Militan, ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Dan aku harus memilih satu diantara semuanya. Keputusan memilih satu diantaranya telah mengantarkan aku pada “dunia pergerakan” yang aku tapaki sampai sekarang. Banyak sekali ibrah yang aku peroleh. Tak jarang, beragam “lintasan pikiran” tentang dunia yang satu ini “menghiasi” perjalananku. Beberapa di antaranya aku tuangkan dalam blog ini. Sebagian besar yang muncul di blog ini adalah “sisi” dari duniaku yang sesungguhnya. 

Azam itu……. telah “terhunjam” jauh ke dalam lubuk hati-ku. Dan aku ingin mewariskannnya kepada anak-anak-ku. Berharap semoga ALLOH yang Maha Membolak-balikkan Hati, memelihara azam-ku itu, lantaran aku tidak mau ia “lenyap” dari hati-ku.





Back to Campus

4 07 2006

Beberapa saat yang lalu, masuk ke mail box saya sederatan informasi pengajian di sekitar kampus UGM.  Membacanya, membuat saya rindu akan Yogyakarta terutama lingkungan kampus dan ingin secepatnya back to campus. Bergabung dengan “mereka” yang sedang “berkutat” dengan beratnya kehidupan di tanah air tapi sangat mudah merasakan indahnya “ukhuwah” dan manisnya “Iman”. Agak berbeda dengan yang saya alami di sini, begitu mudah merasakan indahnya “hidup” dengan segala fasilitas yang sangat mudah didapat, tapi harus “berjuang” keras untuk merasakan indahnya “ukhuwah” dan manisnya “Iman”, bukan karena “gemerlapnya fasilitas hidup” itu sendiri, tapi lantaran di negeri ini nyaris tidak ada (sedikit) “suasana-suasana keImanan”.  

Saya teringat ungkapan Ahmad Sholahal Munjid dalam bukunya “Taqwinul Qalb”, dimana buku tsb banyak menyitir “ungkapan-ungkapan” Ibnu Rajab, kurang lebih: perjuangan mendapatkan indahnya ukhuwah dan manisnya Iman akan sangat berat jika berada dilingkungan yang jauh dari “suasana-suasana Keimanan”. Sehingga kita yang di Jepang yang “kering” ini, kadang harus “berkreasi” sendiri guna menciptakan “suasana-suasana keImanan” tersebut, minimal untuk menjaga Iman itu sendiri. 

Meskipun begitu, salah satu hadits ‘Arba’in Imam An-Nawawi, membuat saya agak sedikit “tenang” dan memberikan “berita gembira” ketika saya berada di Jepang. Berikut bunyinya: Dari Amirul Mu’miinin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.





Mendapatkan Dukungan Publik

4 07 2006

Berjuang, apalagi untuk men-”gol”-kan sebuah tujuan “mulia” akan terasa “ringan” dan “nikmat” jika dilakukan secara bersamaan atau berjamaah (dibaca: Organisasi). Salah satu tugas “berat”-nya adalah bagaimana caranya agar “orang-orang sekeliling” mendukung ”perjuangan” tersebut. Dukungan publik, tidak akan begitu saja muncul, tapi ia juga harus diperjuangkan.

Empat kata kunci untuk memperoleh dukungan publik:

1. Yakhtalituna al Bina: Yakni melakukan permbauran dengan orang-orang sekeliling di semua “segmen”.

2. Yaltakuna Haulana: Yakni bergabung dengan “aktivitas sosial” yang ada di masyarakat

3. Yataharrakuna Ma’ana: Yakni bergerak agar “konsep penjuangan” tidak hanya menjadi “macan kertas”.

4. Yaltamizuna al Bina: Yakni komitmen bersama.





Militansi dalam Organisasi

4 07 2006

Bagi setiap orang, apalagi “aktivis” organisasi (dibaca Jamaah), militansi adalah satu hal yang diperlukan untuk keberlangsungan sebuah organisasi.

Militansi?

Mungkin banyak orang yang mearasa “gerah”.

Orang, terutama kaum “islam fobi” seringkali mengaitkan kata ini dengan
“kekerasan”, “senjata, “ketidakramahan”, atau “intoleransi”. Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam Militan”

Bagi seorang muslim, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi juga diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.

Secara umum mllitansi yang dimaksud di sini mempunyai 5 makna, yakni:

Jiddiyah (kesungguhan)

Hamasah (semangat)

Dhawabit (disiplin)

Iltizam (komitmen)

Istiqamah