Natsu Camp Keluarga Muslim Indonesia (KMI) Nagoya

27 06 2006

Merasakan Indahnya ber-ukhuwah adalah sebuah kebahagian, puncaknya adalah mendahulukan saudara, tingkat yang paling rendah adalah berlapang dada terhadap saudara. Ia adalah sikap yang responsif, bukan basa-basi apalagi sekedar dibuat-buat.

Umar bin Khattab ra mengatakan:

Eratnya berukhuwah akan sulit didapat sebelum memenuhi beberapa hal, dua diantaranya adalah:

1. Rihlah bersama

2. Bermalam bersama.

So, dalam “bangunan jamaah” atau “organisasi dakwah” atau “organisasi keIslaman” tidak akan luput dari “program” yang memuat 2 hal di atas. Karena salah satu kelebihan “organisasi keIslaman” dibandingkan organisasi umum lainnya adalah ia dibangun atas pondasi ukhuwah.

Berharap semoga dalam program NC KMI September mendatang, bisa menjadi ajang membangun Ukhuwah yang lebih kuat.





Merancang Masa Depan

27 06 2006

Dalam sebuah acara “stadium general” di Tokyo pada awal 2003 yang lalu, pak Anis Matta mengungkapkan sebuah thesis yakni: Perbanyaklah ide/gagasan yang positif karena ia dapat mendorong munculnya energi yang “dahsyat” guna terwujudnya ide tsb. Orang-orang besar akan lahir karena kepadaiannya “mengemas” ide/gagasan. Seperti apakah kita di masa depan?, itu tergantung kepada apa yang kita pikirkan sekarang tentang masa depan.

Dalam sejarah Islam ada kisah yang luar biasa. Ketika perang khandaq, saat para Sahabat menggali parit dan menemukan batu yang tidak bisa dihancurkan, Rasululloh datang dan ikut turun tangan untuk mengahancurkan batu tsb. Pada pukulan pertama, Rasululloh melihat Islam akan menguasai Romawi. Pada pukulan kedua Rasululloh melihat Islam akan memasuki Persi. Dan pada pukukalan ketiga, saat batu itu hancur, Rasululloh meliaht Islam akan menguasai dunia.

Di era modern, masih ingat Walt Disney?, penemu karakter Micky Mouse dan pendiri istana bermain terbesar di dunia, Disney. Kisahnya ditulis dalam bukunya Rhenald Kasali di Bab “Seeing is Believing”. Setelah Walt Disney meninggal, ada ungkapan sahabat-nya kepada istri Walt Disney: “Sayang, Walt Disney tak sempat melihat apa yang dibangunnya”. Tapi kata istri Walt Disney, “pendapat itu salah”. Jauh sebelum istana dan hasilnya karyanya selesai, Walt Disney telah melihatnya sendiri di alam ide, di alam gagasannya di dalam kepalanya.

Memunculkan ide dan “mengemas”-nya, kekuatan melihat dan merancang masa depan adalah sebuah rangkaian yang tak bisa diputuskan. Apa yang kita lihat hari ini tentang masa depan, akan menentukan apa yang terjadi di masa mendatang.

Selamat mengemas ide-ide positif.

Selamat berkarya





Tentang Mahar

27 06 2006

Di bulan Dzulhijjah (bulan Haji), ada salah satu kebiasaan orang Indonesia, yakni “musim orang nikah”, dan ternyata kebiasaan itu terbawa juga sampai ke Jepang. Banyak orang Indonesia di Jepang yang menikah di bulan ini.  

Ada salah satu syarat dalam acara pernikahan, yakni pemberian mahar atau maskawin. Karena ia adalah kewajiban sang calon suaminya sesuai dengan kerelaan wanita yang hendak dinikahinya. Dan “seperangkat alat sholat” juga uang tunai menjadi “mas kawin” yang lazim di masyarakat kita.  

Pada masa Nabi ada wanita yang hendak dinikahi dengan mas kawin berupa sepasang sandal. Saat itu Nabi bertanya kepada sang wanita tentang kerelaannya menerima. Ketika wanita itu mengatakan bahwa ia rela, maka Rasul tidak mempersoalkannya. 

DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah (Fatwa-Fatwa Kontemporer), menyebutkan ada empat hikmah disyariatkannya Mahar.

Pertama, Menunjukkan kemuliaan wanita, karena wanita yang dicari laki-laki bukan laki-laki yang dicari wanita. Laki-laki yang berusaha untuk mendapatkan wanita meskipun harus mengorbankan hartanya. 

Kedua, Menunjukkan cinta dan kasih sayang seorang suami kepada isterinya, karena mas kawin itu sifatnya pemberian, hadiah atau hibah yang oleh Al-Qur’an disitilahkan dengan nihlah (pemberian dengan penuh kerelaan), bukan sebagai pembayar harga wanita, Allah Swt berfirman yang artinya: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya (QS 4:4). 

Ketiga, Menunjukkan kesungguhan, karena nikah dan berumah tangga bukanlah main-main dan perkara yang bisa dipermainkan.  

Keempat, Menunjukkan tanggung jawab suami dalam kehidupan rumah tangga dengan memberikan nafkah, karenanya laki-laki adalah pemimpin atas wanita dalam kehidupan rumah tangganya dan untuk mendapatkan hak itu, wajar bila suami harus mengeluarkan hartanya sehingga ia harus lebih bertanggung jawab dan tidak sewenang-wenang terhadap isterinya, Allah berfirman: Laki-laki itu adalah pemimpin atas wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (QS 4:34). 

Demikian,  

Selamat kepada mereka yang baru saja menikah atau sudah lama menikah,selamat menempuh hidup baru, selamat karena Allah memberikan kesempatan menjalani sunnahnya, selamat karena dengan menikah ia akan mempunyai kesempatan lebih banyak  dalam berpartisipasi membangun peradaban Islam dengan melahirkan, mendidik  dan membesarkan  jundi-jundi Allah, selamat karena dengan  menikah ia akan mempunyai peluang meraih syurga melalui jalan menjadi istri shalihah, selamat karena dengan menikah ia mempunyai partner dakwah yang akan menemani terjalnya jalan ini, selamat karena…….. 





Fase Penguatan Fiqrah

27 06 2006

Fase penguatan Fiqrah atau lebih populer ditulis fase “perumusan ideologi dan pemikiran” menjadi faktor penentu munculnya sebuah peradaban.

Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan ”ideologi” yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme Barat, dan Zionisme Internasional.

Jika pemikiran menuju peradaban Islam modern telah dimulai secara individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridla, dan seterusnya, maka rintisan pemikiran yang bersifat individual itu harus disambut secara lebih tertata, diantaranya dua tokoh pemuka da’wah yang tidak bisa dilupakan jika berbicara tentang kebangkitan Islam menuju peradaban Islam, yaitu Abul A’la Maududi dengan Jama’at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.

Al Maududi dan Al Banna telah meletakkan dasar-dasar atau perumusan ideologi gerakan kebangkitan Islam menuju Peradaban Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa peradaban Islam atau kejayaan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar, yang terangkum dalam fase perumusan ideologi dan pemikiran.

Dalam menuangkan dan memilihara fiqrah-nya, Al Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada ‘mencetak’ kader. Dan pergerakannya hanya terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia. Pengaruh pemikirannya telah memunculkan banyak insipirasi gerakan-gerakan Islam untuk mewujudkan kejayaan Islam. Dalam menuangkan Fiqrah-nya, beliau lebih banyak ‘mencetak’ orang daripada menulis buku. Dari muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. Ali Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba’io, dan lain-lainnya.

Selanjutnya, fiqrah yang kuat akan menjelma menjadi pribadi-pribadi Muslim yang tangguh, dimana Islam akan terus melekat dan mempengaruhi dirinya. Seperti ungkapan di atas, ada 3 hal yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri pribadi Muslim, yakni: aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar.





Ekslusifme Gerakan Dakwah

27 06 2006

Banyak sekali suara-suara seputar ekslusifme dalam gerakan dakwah. Bisa jadi suara-suara itu hanyalah suara “sumbang” yang merupakan “ujian” bagi gerakan dakwah. Tapi bisa pula suara-suara tsb adalah sebuah “kritikan” yang harus direspon positif oleh setiap kader dakwah, untuk memperbaiki kinerja dakwah-nya.

Ekslusifme dalam gerakan dakwah menjadi sebuah fenomena dan juga “momok” bagi sebagian orang. Tapi bagaimana sebenarnya posisi ekslusif tsb harus ditempatkan oleh kader dakwah?.

Gerakan dakwah atau aktivitas menyeru kepada jalan ALLOH dengan bermacam cara, TIDAK boleh ekslusif, dakwah harus tampil terbuka untuk siapa saja, karena sesungguhnya sasaran dakwah adalah masyarakat umum. Atau bahasa mudahnya, setiap “kader” dakwah dituntut agar bisa “gaul” dengan siapa saja, agar pesan-pesan dakwah sampai kepada masyarakat umum secara luas dan terbuka. Banyak sekali aktivitas “terbuka” yang telah dicontohkan oleh berbagai gerakan dakwah di Indonesia, misalnya pengobatan massal, kajian umum, seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, bantuan sosial, dan lain sebagainya, bahkan ada yang berkunjung ke masjid-mesjid, mendatangi rumah muslim satu-persatu, seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Jamaah Tabligh.

Selain itu, dakwah tidak mungkin dipisahkan dari keberadaan “kader” dakwah yang “solid”. Dua kata kunci itulah yang menuntut gerakan dakwah harus ekslusif. Aktivitas-aktivias pembinaan “kader-kader” yang kokoh agar ia bisa menanggung kerja dakwah yang berat, juga membangun sebuah organisasi dakwah yang “solid”, merupakan usaha yang ekslusif. Artinya, tidak semua individu akan “menerima” kerja-kerja dakwah yang sama, karena kondisi masyarakat yang sangat heterogen dengan pemahaman yang beragam. Dalam kerja dakwah, bermacam hambatan dan tantangan akan datang. Salah satunya, “penyusupan” yang bertujuan melakukan “pembusukan” dari dalam, bisa jadi akan muncul. Jadi untuk membangun organisasi dakwah yang solid, terhindar dari penyusupan dan perpecahan internal, ia harus mampu menjaga “ideologi”-nya sampai ke setiap kader.

Berdasarkan dua latar belakang yang tersebut di atas, maka ekslusifme akan menjadi sebuah keniscayaan.

Dari ekslusifme pembinaan “kader” dakwah yang solid inilah, munculah beberapa istilah yang sudah jamak misalnya, pembinaan kader yang khas, markas dakwah, “penjaga” gawang ideologi, dsb. Kalau di Jakarta mungkin kita akan mengenal, Masjid Kebon Jeruk,

Ma’had Al-Hikmah Jakarta Selatan, Masjid As-Sofwah di Lenteng Agung. Yang merupakan tempat-tempat dari sekian banyak tempat “pembinaan” kader dakwah bagi beberapa gerakan dakwah di Indonesia.

Kalau di jaman Rosululloh, kita mengenal “Darul Arqam” atau rumahnya Arqam, yang merupakan tempat “rahasia” guna pembinaan generasi-generasi terbaik untuk mengemban dakwah di era awal perkembangan Islam. Sampai sekarangpun, tidak ada yang tahu siapa itu Sahabat yang bernama Arqam. Sehingga di dalam Sirah Nabawiyah atau Sirah Sahabat selalu ditulis Arqam bin Abil Arqam atau Arqam anak dari Bapak-nya Arqam.





Di Masjid Ikebukuro, Persahabatan Itu Berawal

27 06 2006

Jam di diding menunjukkan tepat jam setengah sembilan, jum’at pagi itu ruly siap-siap untuk berangkat ke kampus, aktivitas rutin yang harus ia jalani setiap hari sejak senin sampai jum’at. Ada seminar yang ia harus ikuti setiap hari jum’at di kampusnya, Waseda Daigaku.

Matahari baru saja beranjak ke peraduannya, “Assalamulaikum raja-san”, sapa ruli kepada seorang laki-laki berwajah Pakistan. Jum’at sore itu, ia pulang lebih awal karena keinginannya untuk ikut sholat berjamaah di masjid Ikebukuro. “Waalaikum salam Indonesian brother” jawab raja dengan senyumnya yang khas. Raja adalah “penunggu” masjid Ikebukuro. “Kyo nanji made masjid ni iru?”, tanya Raja. “Sholat Isya’ no ato, kaerimasu”, sahut ruli. “Nani ga arimasuka?”, tanya ruli penasaran. “Alhamdulillah, ima Pakistan kare wo sukutta kara, Maghrib to Isya’ no aida ni, isshoni taberu ne”, jelas raja mengakhiri rasa penasaran ruli. “Alhamdulillah”, ruli berucap kegiarangan. Semua orang yang pernah datang ke masjid Ikebukuro pasti tahu, kalau raja “pinter” masak.

Salah satu ciri khas masjid Ikebukuro adalah di setiap selesai sholat jum’at ada sajian rutin, yaitu makan kare Pakistan buatan raja. Adzan Isya’ baru saja dikumandangkan. Pada malam Ahad, jama’ah yang datang ke Masjid lebih banyak dari biasanya, tak terkecuali beberapa jama’ah orang Indonesia. Sebagian besar adalah pekerja dan kenshusei. Mereka biasanya i’tikaf di masjid dan melanjutkan perjalanan di hari ahadnya. “Assalamualaikum”, ucapan itu mengiringi langkah masuk seorang pemuda berwajah Indonesia. “Waalaikum salam” sahut jamaah yang ada di dalam masjid. Beberapa saat kemudian, lantunan iqomah sang muaddzin menyadarkan jamaah untuk segera bangkit dan sholat isya’. Beberapa orang jamaah langsung pulang, dan sebagian ada yang memilih tetap tinggal di masjid untuk sekedar baca-baca buku di perpustakaan masjid.

“Assalamualaikum, namaku andi, aku baru pertama kali datang ke masjid ini”, sapa perkenalan andi sambil menyodorkan tangannya. “Walaikum salam, aku ruli”, balas ruli sambil menangkap sodoran tangan andi. “Aku tinggal di Saitama, kurang lebih 1 jam dari ini dengan Seibu sen” jelas andi sebagai pembuka “obrolan”. “Wah, jauh juga ya, kalau aku sih tinggalnya deket sini, mungkin hanya sekitar 20 menit dengan Tobu sen”, kata ruli. Andi adalah kenshusei yang bekerja di salah satu pabrik di Saitama.

“Bangun!”, suara lirih andi membuat ruli terjaga dari tidurnya. “oh kamu toh andi” dengan nada terseok-seok ruli berusaha sadar dari tidur lelapanya. Sekejab, pandangannya tertuju ke jam yang ada dinding. Pagi itu, fajar belum menyingsing, kabut malam masih meliputi Tokyo, jam di dinding masjid masih belum beranjak ke angka empat. “Lho kamu di sini andi?”, Tanya ruli keheranan. “Aku tiba di sini sekitar jam sebelas, dan mendapati kamu sudah tidur rul”, jelas andi. Rupanya malam itu ruli mengakhiri bacaan qur’annya lebih cepat dari biasanya. “terima kasih telah dibangunkan”, ucap ruli. “masih ada waktu 30 menit sebelum subuh tiba, kita bisa sholat tahajjud” ajak andi penuh semangat.

Iktikaf di masjid Ikebukuro setiap malam ahad kesatu dan ketiga, telah menjadi kebiasaan andi dan ruli. Pertemuan keduanya dua bulan yang lalu di masjid, telah memberinya semangat untuk meluangkan waktu untuk datang ke masjid dan i’tikaf. Matahari masih enggan menampakkan dirinya, udara sejuk berusaha masuk di sela-sela jendela masjid membawa butir-butir embun pagi yang segar. Andi, ruli, haris dan beberapa pemuda lainnya tengah serius berdiskusi. “Sudah dengar kabar?”, tanya ruli kepada semuanya. “Kabar apaan tuch” andi bertanya dengan wajah keheranan”. “Tiga pekan lagi kita akan memasukinya liburan golden week” ucap ruli. “terus” potong andi tidak sabar. “InsyaaALLOH kita berencana akan mengadakan daurah selama 2 hari, khusus teman-teman kenshusei”, jelas ruli sambil berusaha menjelaskan apa itu daurah. “Dan InsyaaALLOH andi sebagai koordinator-nya”, kata ruli sambil mengarahkan pandangannya ke andi. “kenapa harus aku!”, andi protes. “nggak apa-apa, buat latihan dan InsyaaALLOH dibantu dech”, ruli berusaha memberi semangat kepada andi.

“Kring, Kring, dering telepon membuat andi kaget. “siapa sih siang-siang gini telepon?”, celetuknya. “Assalamualaikum” sebuah suara yang cukup dikenalnya mucul dari ujung sana “Waalaikum salam” jawab andi. “Ngapain siang-siang gini, andi?”, tanya ruli membuka pembicaraan. “kebetulan hari ini aku masuk kerja dan sekarang lagi jam istirahat” jawab andi, “gimana kabarnya rul”, andi balas bertanya “Alhamdulillah sehat, dan baru saja menyelesaikan aktivitas rutin di hari sabtu, kerja bakti”. jawab ruli. “sudah dua pekan nich, kita tidak berjumpa, rasanya ada sesuatu yang hilang”, ucap ruli. “iya nich, oh ya insyaaALLOH nanti malam aku agak malam sampai di masjidnya” jelas andi. “nggak apa-apa, yang penting datang” sergah ruli. “datang koq, dan paginya mau silaturrahmi ke rumah kamu rul, boleh kan?”, sahut andi. Selang beberapa menit, merekapun mengakhiri pembicaraan.

Dengan serius ruli sedang milih-milih sayur dan makanan kecil yang akan ia beli. Life, nama supermarket di depan rumahnya sudah ramai dikunjungi pembeli. Udara pagi masih sedikit terasa. Ibu-ibu muda dan anak-anak kecil tengah asyik ke sana kemari. Sepeda-pun satu demi satu mulai “berdiri” di tempat parkir. Harga telur 10 butir 100 yen, menjadi salah satu ciri khas Life di hari minggu. “Serius amet nich beli sayurnya”, goda andi kepada ruli.

Pagi itu, sepulangnya dari masjid, andi menyertai ruli pulang ke rumahnya. Sejak 5 bulan perkenalannya, andi belum pernah bertandang ke rumah ruli, dan sebaliknya. “iya dong, khan mau masak serius”, jawab ruli jengkel. “lho emangnya selama ini tidak pernah masak serius” kejar andi. “jarang sekali”, celetuk ruli. “Masak serius itu yang kayak apaan sih rul?” tanya andi kembali. Dengan wajah tertekuk, ruli mejelaskan “masak serius itu, masak lauk dan sayuran, tanpa bumbu jadi atau instant”. Sebagaimana bujangan murni dan bujangan lokal lainnya, bumbu instant sering menjadi bumbu andalan ruli. “Hari ini khan ada tamu penting, jadi masaknya harus serius”, jelas ruli. Dan keduanya-pun melewati makan siang bersama di rumah ruli.

Hari kemerdekan 17 Agustus diperingati dengan hikmah di Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT). Ada hari budaya yang menampilkan aneka ragam budaya Indonesia termasuk aneka makanan nusantara. Perwakilan BUMN di Tokyo, komunitas pelajar, perkumpulan daerah ikut menyemarakkan hari budaya. Ada undian berhadiah di stan BNI dan Garuda, juga tarian daerah. Suasana semakin ramai dan meriah dengan kehadiran sebagian besar mahasiswa dan kenshusei yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya. Udara panas bak di dalam oven tidak mengurangi kegembiraan pengunjung yang terus memadati area SRIT. Sebagian ada yang sengaja datang dari luar Tokyo.

Di Jepang, pertengahan agustus bertepatan dengan obon yasumi dan liburan musim panas. Sebagian ada yang memilih pulang ke Indonesia, sebagian lagi ada yang memilih tetap berada di Jepang. Banyak aktivitas dan kegiatan yang ditawarkan khususnya bagi komunitas masyarakat Indonesia. Ada hari budaya guna menyambut hari kemerdekaan, sanlat musim panas, natsu camp, seminar, pelatihan dan lain-lain.

“Terima kasih atas pemberian kaosnya nich”, ucap ruli. “sama-sama” jawab andi. “kaos ini khan andi pake toh, tapi koq malah diberikan kepadaku an?”, tanya ruli. “suatu hari, kira-kira satu bulan yang lalu, pertama kali aku pake kaos ini, kamu bilang kaos ini bagus”, andi berusaha menjelaskan. “jadi saya berikan kepadamu rul, sebagai hadiah”, sambung andi. “Ah kamu nich an, setiap yang aku bilang bagus terhadap kepunyaanmu, mesti kamu hadiahkan kepadaku” protes ruli. “tempo hari kamu memberikan peta dan jalur kereta seluruh jepang, lantaran saat kita ke Hiroshima dengan 18-kippu, kamu membawa peta yang kebetulan aku suka”, sambung ruli mengingatkan andi. “Dan masih banyak lagi hadiah-hadiah yang kamu berikan kepadaku an”, ruli melanjutkan. “Itu sih tidak seberapa dengan apa yang kamu berikan kepada ku, rul”, sergah andi. “pelajaran-pelajaran berharga, pertanyaan sudah berapa ayat aku baca hari ini yang selalu kamu lontarkan, telepon di sepertiga malam untuk membangunkan-ku agar sholat malam, dan masih banyak lagi”, balas andi tidak mau kalah. “Dan ada yang aku suka rul, ungkapan-ungkapan rindu yang kadang menghiasi lidahmu di saat kamu telepon aku rul, tidak pernah aku lupa”, lanjut andi.

Sudah hampir dua tahun persahabatan andi dan ruli. Dan tibalah saatnya bagi andi untuk kembali ke Indonesia karena masa kontrakanya yang akan segera habis. “InsyaaALLOH aku akan balik ke Indonesia 19 september nanti”, jelas andi kepada ruli dengan nada sedih. “maaf ya an, aku tidak bisa nganter kamu, kebetulan pas tanggal itu aku akan ke Kobe untuk mengikuti conference” ucap ruli dengan terbata-bata. “Mungkin hari ini adalah pertemuan kita terakhir di Jepang ini”, sambung andi. “iya nich, sedih rasanya berpisah dengan kamu an”, ruli mengiakan sambil memeluk erat tubuh andi. “InsyaaALLOH kita akan dipertemukan oleh ALLOH di lain kesempatan” andi berusaha menghibur. “di Indonesia, tetap istiqomah yaa, semangat ibadah dan pelajaran-pelajaran berharga yang telah diperoleh di sini tetap dipelihara”, pesan ruli. “InsyaaALLOH rul, kamu juga rul”, jawab andi. “saling doa ya”, lanjut ruli. Tanggal 19 September, jam sebelas siang pesawat Garuda yang membawa andi ke Indonesia take-off dari bandara Narita. Di hari yang sama, dengan berbekal peta jalur kereta pemberian andi, ruli-pun meninggalkan Tokyo menuju Kobe. Dan keduanyapun berpisah…………………….

Ungkapan rindu buat Sahabatku (semoga persahabatan kita tidak berubah)

Catatan: Masjid Ikebukuro adalah salah satu masjid di Tokyo. Di sebut masjid Ikebukuro karena lokasinya yang hanya 3 menit jalan kaki dari Ikebukuro eki (salah satu eki besar di Tokyo). Menjadi strategis lantaran Ikebukuro eki adalah stasiun transit ke arah luar Tokyo khususnya Saitama dan sekitarnya.





Senja di Bandara Adi Sucipto

27 06 2006

Pesawat garuda dengan nomor penerbangan GA 421 akan segera berangkat. Ditataplah mata sang istri kesayangannya, “Abi berangkat mi ya, ummi hati-hati dan jangan lupa sholat malam dan tilawah Qurannya” begitulah kata terakhir yang terucap dari lidah Shalahuddin kepada istri yang sangat dicintainya. “Ya bi, abi hati-hati dan jangan lupa berdoa” sahut Zahrah, wanita cantik yang dinikahinya sejak 1 tahun yang lalu.

Sore itu, bandara Adi Sucipto menunjukkan jam 17:15 WIB, 15 menit lagi pesawat yang akan membawa Shalahuddin ke Jakarta akan segera berangkat. Tidak banyak yang Shalahuddin sampaikan kepada istrinya yang baru kuliah di UGM itu. Ruang tunngu bandara telah menjadi saksi perpisahan mereka untuk kedua kalianya. Sejak September 2000, Shalahuddin mendapat tugas belajar ke Tokyo Jepang dari UGM, tempat dia bekerja.

“Penumpang dengan nomor penerbangan GA 421 tujuan Cengkareng Jakarta dipersilahkan untuk menuju pesawat” ucap sang operator bandara. Suara wanita yang terdengar dari mikropon tersebut telah mengingatkan Shalahuddin untuk segera melepaskan genggaman erat tangannya dari tangan lembut istrinya. Setelah Zahrah mencium tangan Shalahuddin dan Shalahuddin pun tak lupa mencium kening istrinya, Shalahuddinpun segera menuju ke arah pesawat. “Assalamualaikum ummi” ucap Shalahuddin lirih sambil melambaikan tangannya. “Waaalaikum salam Abi”, sahut Zahrah sambil membalas lambayan tangan Shalahuddin.

Nampah kesedihan yang amat mendalam melanda kedua pasangan suami istri itu. Bagaiman tidak, setelah 4 bulan menikah, tugas belajar ke LN untuk sang suami telah memaksa keduanya untuk bepisah. Dan Shalahuddin baru bisa pulang ke Indonesia sekali dalam 6 bulan.

Sesaat ketika Shalahuddin berjalan menuju pesawat, dipandangnya wajah istrinya yang manis dan akhirnya lenyap dibalik dinding pesawat. Setelah 5 menit Shalahuddin duduk di kabin, pesawat segera take off dan setelah beberapa detik pesawat sudah ada di Udara. Di dalam kabin dekat jendala, pandangan Shalahuddin menerawang jauh ke bawah. Sambil menghela nafas panjang, bibirnya berucap “Subhanalloh, begitu indah pemandangan Yogya jika dilihat dari pesawat di malam hari”.

Setelah berdoa, nampak dia tengah memikirkan sesuatu. Hadir dalam ingatannya, hari-hari yang pernah ia lewati bersama istrinya. Meskipun hanya 2 minggu, Shalahuddin merasa sangat bahagia sekali. Diingatnya bagaimana sang istri telah memanjakannya dan penuh perhatian kepadanya. Tak terasa dari lidahnya muncul senyum kecil sambil berucap “Alhamdulillah, Yaa ALLOH Engkau telah menganugerhakan seorang wanita yang baik dalam hidup saya, peliharalah hubungan kami dalam Ridho-Mu dan berilah kekuatan kepada kami untuk tetap Istiqomah di Jalan-Mu”.

Lamunan panjang tentang hari-hari bahagia yang pernah ia lewati dengan sang istri membuatnya tidak sadar kalau pesawat akan landing di bandara cengkareng. “Silahkan kenakan sabuk pengaman dan tegakkan sandaran kursi, pesawat akan segera mendarat” instruksi dari co-pilot itu telah menyadarkan Shalahuddin, kalau ia harus segera siap-siap untuk turun. Jam dinding di Bandara cengkareng menunjukkan jam 18:30 WIB.

Setibanya di bandara Cengkaren, Shalahuddin langsung menuju Mosholla untuk melaksanakan sholat. Karena waktu Maghrib sudah habis, Shalahuddinpun memutuskan untuk menjamak sholatnya. Setelah sholat, dilihatnya schedule perjalanan selanjutnya. Tercatat bahwa pesawat dengan nomor penerbangan GA 880 tujuan Tokyo akan berangkat jam 23:30 WIB. Dari musholla, Shalahuddin berjalan menuju Lobby sambil mengarahkan pandangannya ke papan flight time schedule di papan itu tertulis bahwa Boarding time untuk pesawat GA 880 tujuan Tokyo jam 22:00 WIB. Dilihatnya jam yang ada di HP-nya, angka menunjukkan jam 19:30 WIB, artinya masih ada waktu 2,5 jam untuk istirahat

Di kursi panjang yang ada di waiting room, Shalahuddin segera duduk bersandar sambil menselonjorkan kakinya. Nampak sedikit kelelehan dari garis-garis wajahnya. Banyak lalu lalang penumpang lewat di depannya. Sesaat pandangannya tertuju kepada anak kecil bule dengan umur sekitar 10 tahunan. Sambil menunggu orangtuanya yang sedang check in, anak kecil tadi bermain dengan scat board kecil. Pandangan itu telah membawa Shalahuddin untuk mengingat masa kecilnya dulu.

Ingatannyapun terus menerawang jauh, menyelusuri “jalan panjang” masa kecilnya dulu.

“Mas, tujuannya kemana ?” tanya satpam bandara. Sejenak Shalahuddin kaget dan tersadar dari lamunannya. “Tokyo pak” jawab Shalahuddin. “Garuda yaa, Boarding time sudah dibuka lho mas” ungkap satpam. Sesaat Shalahuddin melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan jam 22:40 WIB. “Wah berapa menit lagi nich, terima kasih banyak pak” sahut Shalahuddin kaget. Shalahuddin memutuskan untuk menghentikan penjelajahan panjang masa kecilnya dulu, dia rapikan tasnya dan segera check in. Setelah beres, beberapa saat kemudian terdengar suara “Penumpang dengan nomor penerbangan GA 880 tujuan Narita Tokyo dipersilahkan untuk segera naik ke pesawat”.

Setelah melewati petugas emigrasi, dengan langkah pasti Shalahuddin berjalan menuju pesawat. 15 menit kemudian, Shalahuddin sudah berada di dalam pesawat. Setelah mengikuti instruksi dari co-pilot, Shalahuddin segera duduk bersandar di kursi dan pesawat segera take off.

Setelah pesawat di udara, dia berucap “Istriku, semoga ikatan-ikatan suci yang baru saja kita rajut, menjadi ikatan yang kuat dan kokoh, bukan ikatan rumah laba-laba yang lemah, tapi laksana permadani yang akan membawa kita dan generasi kita terbang tinggi ke masa depan yang lebih baik” dan Shalahuddin-pun tertidur lelap karena kecapaian.

Kado Ultah pernikahan ke-3 untuk istriku, semoga cinta abi tidak berubah
(Cinta ibarat bunga, agar ia tetap tumbuh dan subur, harus terus dipupuk dan disirami)





[Kliping Sejarah] Surat Agus Salim kepada Istrinya

27 06 2006

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa H. Agus Salim adalah salah satu pejuang dan juga diplomat handal di awal-awal Indonesia berdiri. Selain itu, ternyata Agus Salim juga seorang yang romantis dan mesra di dalam keluarganya, paling tidak hal ini terungkap dalam surat-surat yang dikirim kepada istrinya saat beliau di luar negeri atau di pengasingan. H. Agus Salim menikah pada 12 Agustus 1912 dengan Zainatun Nahar dan dikarunai 10 orang anak. Di usia pernikahannya ke-35 atau tahun 1947 Agus Salim ditugaskan ke Kairo Mesir. Berikut salah satu “kliping” surat beliau kepada istrinya.

Kairo, 17 Juni 1947

Maatje sayang

Surat pendek ini hendak saya tumpangkan kepada AR Baswedan, yang besok pagi akan terbang ke Indonesia, mudah-mudahan selamat dan cepat sampainya.

Sangat sibuk kami bekerja di sini terutama sekali sibuk oleh banyak kunjungan-kunjugan dan menghadiri rapat dan perjamuan. Kalau hari sudah malam badan lesu ataupun pikiran bimbang, karena awak bekerja di negeri orang, kabar dari rumah hampir tidak ada. Awak hidup senan, hidup serba cukup, di rumah entah bagaimana hidup anak bini. Rindu hati tidak dapat dikatakan, di negeri orang ini yang badan diri sungguh merasakan nasib menjadi orang asing., tidak dibawa orang dalam pergaulan rumah tangga orang, tidak bertemu orang keculai karena urusan dan kepentingan. Ada di sini Abdul Hamid dengan Ibunya janda Bapak Ahmad Chatob dan saudaranya Chadidjah dan 2 orang istrinya dan tiga orang anaknya. Tapi cakap-cakap tidak berdapatan dengan meraka. Lagi pula selangkoh rasanya kanda bercakap-cakap dengan dua orang istri yang suaminya satu. Lebih-lebih sasudah yang satu bertanya, adakah kanda ini berbini dua atau lebih. Rindu kanda lebih-lebih terasa, sebab tak ada membawa potret satupun jua dari rumah. Kalau memikirkan Mansur Ciddiq sedih hati kanda karena anak itu tak ada kawan dan barangkali berkecil hati kepada papanya yang dating-datang hilang saja naik keatas udara di depan matanya, lalu dinantikannya dari sehari ke sehari tidak pulang. Malah sampai sekarang belum tentu lagi bila kanda akan boleh pulang. Oleh karena itu baiklah adinda dan anak-anak perlukan berkirim surat agak sekali seminggu atau dua kali seminggu dengan pos udara. Adres kanda Haji A. Salim, POB 1845 Kairo. Dan lekaslah kirim potret. Adinda ingatlah jika kamu di sana rindukan Paatje, sedikitnya kamu ada berkumpul dan dapat tolong menolong; senang dan sakit boleh sama dirasakan. Tetapi kanda disini kalau rindu hanya mata yang kering; diri awak sebatang kara.

Lebih-lebih yang membimbangkan hati kanda dan kawan-kawan disini, dari pemerintah Republik, dari kementrian Luar Negeri, dari Bung Sjahrir sedikitpun tidak mendapat kabar, surat atau kawat. Jika bung Sjahrir ada di Jakarta tolong adinda perlukan pergi menemuinya dan katakana bahwa kanda sangat berharap mendapat kabar dan pesan atau kata yang tegas dari padanya. Lain dari pada suratnya tanggal 21 Mei dibawa Dr. Subandrio tak pernah kanda mendapat kabar darinya. Katakan pula bahwa kanda minta kiriman uang kepada Bung Utoyo di Singapura dan kiriman itu perlu mesti sampai sebelum tanggal 15 Juli depan ini, sebab di tanggal itu pengiriman uang akan ditutup. Sekianlah dulu. Nanti dengan pos udara kanda akan sambung lagi. Kasih sayang kanda dengan peluk cium kepada Adinda dengan anak-anak dan cucu sekalian.

A. Salim

(maroji: TARBAWI)